Chapter 9

61 44 10

 ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌۭ وَرِزْقٌۭ كَرِيمٌۭ

“Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu:Surga)” [QS. An Nuur (24):26].

*****

Hari telah berlalu, berbulan-bulan telah terlewati, kini tahunpun berganti. Sudah dua tahun lamanya Syahid dan Dinda saling mengenal lebih dalam.
Kini Syahid pun sudah bekerja dan Dinda sudah lulus sekolah.

"Din, saya besok akan bekerja di bandung selama satu tahun," ucap Syahid kepada Dinda.

"Kak Syahid pindah kerja?" tanya Dinda.

"Tidak, saya hanya membantu perusahaan sepupu saya yang sedang mengalami masalah di sana. Tapi hati saya ragu meninggalkan kamu Din."
Syahid menghela napas kasar, entahlah hatinya terlalu gelisah.

"Kak kenapa ragu untukku, aku tidak apa-apa?" kata Dinda dengan suara lembutnya.

"Entahlah Din, rasanya hati saya ini gak menentu,"

"Kak, aku akan baik-baik saja."

"Din, InsyaAllah dengan hati saya yang begitu tulusnya. Setelah saya pulang nanti dari Bandung saya akan melamarmu," ujar Syahid lantang.

Dinda yang mendengarnya terharu, matanya berkaca-kaca.

"Semoga Allah mengabulkan niatmu itu. Aku akan menunggumu kak."

"Terima kasih Din."

***

Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Seorang pria terbangun dari tidurnya lalu ia beranjak ke kamar mandi membersihkan diri dan mengambil air wudhu guna untuk melaksanakan shalat tahajjud.

Syahid shalat dengan khusyu, setelah selesai ia meraih kitab suci Al - Quran lalu membaca ayat ayat tersebut.

Satu jam telah selesai Syahid mengaji, ia mengadahkan kedua tangannya berdoa kepada Allah. Keputusan yang ia ambil ini semoga jalan terbaik untuk hubungan ke depannya dengan seseorang yang ia cintai.

Sedangkan di lain tempat, seorang gadis telah selesai menunaikan shalat tahajjud ia berdiri di balkon kamarnya memandang langit yang masih gelap.

Tak terasa air mata jatuh membasahi ke dua pipinya, Dinda menyeka air matanya itu.

"Ya Allah, entah kenapa aku merasakan hati yang begitu sesak. Jika Syahid adalah jodohku peluruslah segala urusanku dengannya tapi jika ia memang bukan jodohku, tolong kuatkan hati hamba. Aku sungguh sudah terjerat dalam lingkaran cinta. Aku takut kehilangannya."

Deringan ponsel membuyarkan ketenangan Dinda, ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas lalu terpampang sebuah nama Calon imamku. Dinda terkekeh geli saat menamai kontak pria itu.

Ia mengangkat panggilan tersebut.

"Assalamu'alaikum," sapa suara bariton di sebrang sana.

"Wa'alaikum salam," balas salam Dinda.

"Kamu sudah shalat tahajjud?" tanya Syahid.

The Light Of Allah's LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang