Pendongeng Senyap

3 1 0
                                                  

Terdengar langkah yang perlahan mendekat. Langkah yang setiap hari selalu menyambut pagiku tanpa pernah absen. Sekalipun pemilik langkah itu sakit. Tercium aroma harum yang selalu aku suka. Aku tau, orang itu pasti sedang membawa nampan penuh dengan makanan lezat kesukaanku. Tidak sabar aku mencicipi makanan buatannya.

Aku masih asyik bersantai sementara dia berjalan masuk ke kamarku. Mendekati meja untuk meletakkan nampan yang dia bawa. Menarik kursi untuk mendekat ke arahku yang tengah menikmati suasana pagi sembari memandang mentari.

"Kau sudah bangun?" Tanyanya dengan senyum yang selalu aku rindukan. Suara hangatnya tak pernah berubah menjadi dingin.

"Sudah." Jawabku singkat. Namun raut wajahku sudah cukup menggambarkan betapa bahagianya aku yang masih bisa menikmati wajahnya.

"Makanlah. Aku membawakan makanan kesukaanmu." Dia mulai mengambil piring penuh makanan.

"Aku sudah tau kau akan memasak banyak untukku."

"Aku pikir kamu hari ini butuh banyak energi." Suapan pertama mulai mendekat kea rah mulutku.

"Tentu saja aku butuh banyak energi. Karena untuk bertemu kamu dan yang lainnya, aku harus berjuang untuk menahan kegembiraanku setiap detiknya."

"Kau tau? Paman Albert sudah mulai bekerja hari ini. Jadi, kau sudah tak perlu khawatir akan masa depannya nanti."

"Oh ya?! Itu kabar yang sangat membahagiakan. Setidaknya dia akan punya tabungan untuk hari tuanya nanti."

"Kita tau dia sebatang kara di kota ini. Tapi kau perlu tau juga jika dia sangat mencintaimu seperti anaknya sendiri." Dia mengambil gelas berisi air agar aku dapat menelan makananku dengan mudah.

"Bagaimana kabarmu?"

"Bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Keadaanku? Aku saja bahkan tidak tau sampai kapan akan terus-menerus merepotimu seperti ini"

"Jika kamu khawatir dengan keadaanku, don't worry. Aku akan selalu disisimu. Di setiap hari kita bisa bersama. Sampai kita berdua pergi bersama."

"Kenapa kau begitu mengorbankan segalanya?"

"Tidak apa jika kita hanya berdua. Tanpa harus ada anak keturunan yang meramaikan rumah ini. Karena kau sudah cukup meramaikan hatiku."

"Kamu tau aku tidak akan bertahan lama. Aku pun juga tau akan hal itu. Tapi setiap kali mendengar kalimatmu, nyawaku seakan bertambah sepersekian persen untuk bertahan. Aku mencintaimu sepenuh hatiku hingga taka da sisa ruang di dalamnya."

"Kau tau? Kau benar-benar merubahku dari seorang pendiam yang kemudian menjadi seorang pendongeng seperti ini."

"Aku suka mendengar seluruh cerita yang kau bawakan."

Dia terkekeh. Manis sekali.

"Aku hanya bisa menebak apa yang kau katakan. Jadi kuharap kau hanya mengatakan hal-hal bagus. Haha."

"Tentu saja aku tidak akan menusukmu dengan kata-kataku."

"Aku mencintaimu dengan setiap monolog-ku."

"Aku pun juga. Selalu."


---

June 8 2019

EndeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang