31

25 5 1
                                    

Agung bolak balik kamar dan ruang tamu sejak beberapa menit yang lalu sambil melongok ke depan rumah berkali-kali, menunggu seseorang. Wajahnya tampak hawatir dan gelisah. Berita sakit ibunya Sari membuatnya menghawatirkan keadaan Sari. Anak itu tidak mengucapkan sepatah katapun sejak mendengar kabar buruk itu. Dia langsung ijin ke pihak sekolah dan pembimbing beasiswa lalu pulang. Agung ingin menenangkannya, alih-alih dirinya sendiri yang gelisah sejak tadi. Dia tidak bisa menebak apa yang dipikirkan gadis itu, dia selalu penuh misteri. Untuk mengucapkan kalimat penenang saja, Agung takut salah ucap.

Agung ragu apakah gadis itu akan pamitan terlebih dulu pada ibu dan dirinya sebelum pulang atau tidak? Karena sejak tadi gadis itu tidak juga muncul.

"Apa dia langsung pulang?" Gumam Agung sambil memandang ke arah jalan.

"Dia belum tahu jalan, pasti kesini dulu. Entah itu minta antar kamu atau minta rute jalan" jawab Ira.

"Aku boleh nganter?" Tanya Agung, menyuarakan kegelisahan hatinya.

"Sebaiknya begitu, hawatir ada apa-apa di jalan. Kalau kamu antar setidaknya kamu sudah hafal rutenya" jawab Ira.

Sari muncul dengan kaos lengan pendek abu-abu, celana trening hitam, rambut kepangnya dan satu tas besar. "Itu dia datang" kata Agung. Lalu berjalan ke teras. Sari melewati Agung begitu saja, mencari Ira di dalam rumah. Ira menyambutnya dengan pelukan. "Sabar ya.." katanya menghibur.

Sari mengangguk.  "Tante, Sari pamit mau pulang dulu. Terimakasih banyak sudah membantu Sari selama ini" katanya.

Ira tersenyum. "Salam buat bapak ibu kamu, ya. Hati-hati di jalan"

Sari mengangguk. Lalu berbalik dan berjalan keluar rumah, Agung berdiri di sana. "Terimakasih sudah melakukan banyak hal untukku" kata Sari.

Agung menatap manik hitam di bawah poni itu dengan mata berkaca. Ada banyak kata yang tidak terucapkan dalam diamnya. Rasa hawatir dan gelisah membuatnya seolah sedang menggenggam sebuah bom yang bisa meledak kapan saja. Tatapan balik manik kelam itu penuh misteri yang tak bisa dia selami. Isi hati dan pikiran gadis di depannya begitu tertutup rapat.

"Aku akan mengantarmu" kata Agung dengan suara tercekat. "Kau belum hafal rutenya" Agung kemudian masuk untuk pamitan pada ibunya.

***
Perjalanan menuju dusun Sari membutuhkan waktu empat jam dengan naik bis kota dua kali dan satu kali becak atau ojek. Beruntung kalau mereka menemukan angkudes karena belakangan ini angkudes semakin langka.  Semakin banyaknya masyarakat yang memiliki kendaraan roda dua, menimbulkan efek negatif pada pengusaha angkudes karena masyarakat lebih memilih bepergian dengan sepeda motor mereka.

Agung menyodorkan botol air minum yang baru dibelinya pada Sari. Sari mengucapkan terimakasih lalu minum seteguk dan kembali diam menatap keluar jendela. Tak banyak pemandangan di luar sana, hanya deretan rumah, toko, dan iring-iringan kendaraan lain, sama sekali tak ada yang menarik, tapi Sari menghabiskan waktunya selama dua jam terakhir memandangi semua itu dalam diam. Agung tak mengajaknya bicara sejak keberangkatan mereka, dia hanya menyodorkan makanan dan minuman dalam diam. Menawarkan Sari ke toilet dan mencarikannya tempat duduk. Satu-satunya kata yang Agung dengar dari mulut mungil gadis itu sejak keberangkatan mereka hanyalah kata "terimakasih".

Agung tipe anak lelaki yang banyak bicara dan tak bisa diam. Momen sunyi ini membuatnya tak nyaman. Sejak keberangkatan dia tampak gelisah dan mencari-cari hal untuk dibicarakan dengan gadis pendiam dan introvert di sampingnya.

"Kau ingin tukar tempat duduk?" Tanya Agung. Tak tahan untuk tak bicara.

"Tidak" jawab Sari, tetap menatap keluar jendela.

Hei Gadis BerkepangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang