II

344 92 47

"Who are you?"

"Galen," katanya dengan suara husky-nya yang khas. "Galen Bhagaskara."

-

"Galen tuh ganteng banget. He's not a human, he's an angel!"

"Come on, Megan! Jangan ngelebih-lebihin, deh! There's no person as handsome as angel," balas Axel setelah memutar bola matanya malas. Ia terkadang perlu mengingatkan sahabatnya itu dari ucapan berlebihannya.

Ia ingat Megan pernah bercerita kalau gadis itu terjatuh dari tangga dan rasanya ia nyaris mati—padahal dia masih hidup sampai sekarang dan bokongnya pun hanya sakit kurang dari sepuluh menit.

Lalu, Megan pernah cerita dirinya terbentur oleh meja saat mengambil sesuatu di lantai. Ia bilang kepalanya bocor karena basah, padahal itu adalah keringatnya sendiri. Such a stupid, gurl.

"Serius, Axel! Kali ini aku bukan sekedar melebih-lebihkan. This is the truth from my deepest heart!"

"Okay, okay." Axel akhirnya mengalah dari sahabat cantiknya tersebut. "So, who is he?"

"Galen," jawab Megan sambil tersenyum lebar. "Galen Bhagaskara."

-

"Kamu ngelamun?"

"Hah?" Tersentak, Axel sontak berdiri dari rebahannya dan membalas dengan linglung. "Apa?"

Galen terkekeh pelan, "Ternyata bener, kamu ngelamun."

Hening. Axel tak membalas ucapannya dan justru kembali berspekulasi di dalam pikirannya sendiri.

"So ...," Galen memecah keheningan, "wanna tell me what's your problem? I think you need a friend who listen to your story."

"Nope, I don't need a friend. I can handle it by myself." Axel menjawab dengan desisan lirihnya.

"Enggak, enggak." Galen menggeleng dengan keras kepalanya. "Kamu harus cerita."

"Kenapa jadi kamu yang maksa, Galen?"

Galen tampak gelagapan sejenak, ia mengusap tengkuknya pelan. "Um ... 'cause I wanna be your friend?"

"Do you ask me?" Axel mengerutkan dahinya bingung. Tak paham dengan Galen yang tiba-tiba ada di ruang musik dan menawarkan—lebih tepatnya memaksa Axel untuk bercerita, lalu menawarkan diri menjadi temannya.

Axel memajukan tubuhnya dengan pandangan mengintimidasi. "Ah, I know it! Kamu ada sekongkol sama Megan 'kan? Ngaku!" tuding Axel sambil menatap netra hitam Galen dengan pandangan menyudutkannya.

Yang lebih tinggi membalas dengan cepat, enggan dicurigai. "Enggak, sumpah! You can kill me if I lie to you!"

"Udahlah, aku mau pulang," final Axel seraya berjalan pelan, melenggang melewati Galen.

"Tapi, kamu belum cerita!" ujar Galen, meraih pergelangan tangan yang lebih kecil untuk ditahan.

"Aku pusing, aku mau pulang," gumam Axel. "Apa yang kamu mau sebenernya? Kenapa kamu harus peduli? Bahkan kita nggak saling kenal sebelumnya."

"I ... I know you," ucap sang pemilik netra gelap tak kalah pelan. "And I know what's your problem."

"Terus kalau kamu tau, kenapa kamu masih maksa aku buat cerita? Kamu mau ngetawain aku apa gimana? Kamu butuh sesuatu dari aku? Silakan ambil dan jangan ganggu aku lagi!" Serangan bertubi-tubi dari mulut Axel pun dilontarkan dengan keras.

"No, Axel! No! Please, jangan berpikiran negatif tentang aku. Aku ...." Galen menggantungkan ucapannya, sedangkan Axel bersedekap. Menunggu ucapan yang akan Galen keluarkan.

Galen merasa keheningan ini memojokkannya. Ia menimbang-nimbang ingin mengeluarkan kata-kata selanjutnya atau tidak. Ia bimbang, sungguh.

"Ah, apa pun keinginan kamu ... you better stop this. I don't have anything that I can give you. Aku pergi." Axel berkata dengan santai dan kembali melanjutkan langkahnya yang beberapa saat sempat tertahan.

Namun, belum sempat knop pintu terbuka, tangannya lagi-lagi ditahan oleh tangan besar milik Galen. Belum sempat lagi ia menoleh untuk memaki pria yang beberapa waktu ini mengusiknya itu, punggungnya tiba-tiba sudah dihempaskan hingga ia terhimpit oleh pintu dan tubuh besar dari Galen.

"What the fu—"

Ucapan Axel tak akan pernah selesai karena bibirnya tiba-tiba sudah dibungkam dengan bibir tebal kepunyaan Galen Bhagaskara yang kini melumatnya terburu-buru. Mata Axel membulat menatap mata Galen yang terpejam, wajah mereka telah menempel sempurna hingga menjulingkan mata Axel yang memaksa untuk melihat salah satu pria yang populer di sekolahnya ini.

Dengan kekuatan penuh, tangan kecil Axel mendorong dada Galen hingga ciuman mereka terlepas dan tubuh sang dominan mundur beberapa senti.

Terengah-engah Axel mencoba untuk menetralisir napasnya, ia berujar dengan marah, "What are you doing? Kamu gila, hah?!"

"No," balas Galen dengan husky voice-nya, menatap netra kecokelatan milik Axel, kemudian menyelami netra itu dengan teduh. "I just ... um ... a-aku suka sama kamu."

Axel melotot. Bukannya senang karena diberi ungkapan sedemikian rupa oleh sang casanova, Axel justru bertanya dengan amarah yang telah terkumpul penuh di ubun-ubunnya. "Am I a joke to you?"

"You are gay ...."

"Then, why if I'm gay?"

"Bisa dengerin aku dulu, Axel?" Tatapan mengintimidasi dari Galen seketika membungkamnya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat untuk menyimak penjelasan dari Galen dengan saksama. "I know you gay from my gaydar—gay radar—Aku udah suka sama kamu dari sebelum aku deket sama Megan. Aku ... aku sengaja deketin Megan biar bisa deket sama kamu. Tapi, ternyata tanpa Megan pun sekarang aku bisa deketin kamu sendiri."

Axel tertegun, ia mencerna tiap kata yang terucap dari Galen dengan perlahan. Tak lama, ia mengangkat kepalanya dan menatap Galen emosi. "BAJINGAN! You playing with my friend's heart!"

"Kenapa kamu marah? Dia udah mengkhianati kamu 'kan? You still call her 'friend'? Really, dude?"

Seketika kesenyapan hadir di antara mereka. Mulut Axel seketika terkatup, tak dapat membalas skeptisan dari mulut Galen barusan karena memang itu benar adanya. Ada apa dengan dirinya? Mengapa ia masih bisa menyebut Megan teman kalau nyatanya gadis itu bahkan telah mengkhianatinya?

"Aku suka kamu! Harusnya kamu senang karena mungkin kamu bisa ngebalas Megan, sekaligus bisa menjalin hubungan sama aku," papar Galen. "Then, what are you thinking for?"

"I ... I've gotta go," pamit Axel seraya menggeser badan Galen dan berbalik, membuka pintu ruang musik lalu keluar dengan gusar.

Namun, sebelum pintu tertutup Axel sempat mendengar kata terakhir dari Galen yang pelan, tapi masih bisa ditangkap oleh indra pendengarannya.

"Kamu bisa berpikir lagi dan bicara sama aku lagi di lain waktu."

Dan dengan embusan napas pelannya, pintu seketika ia tutup.

••••••
Bersambung
••••••

Di sini dialognya banyak banget heran awkwokwowkwowk.

Bury a FriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang