KALANDRA 👟 01.

43 10 6

Kalandra yang akan mencarinya.

Pertempuran yang hebat? Bisa emang?  Semua itu butuh pembuktian, seperti genbok yang membutuhkan kunci untuk membukanya.

Kalandra namanya selalu menggema di koridor kampus, bahkan semua dosennya sudah sangat kenal siapa itu Kalandra.

"Kalaaaaa, Ya Allah ganteng kaya Oppa Oppa korea."

"Bang Andra, yamg cute  kaya marmut, mau dong."

Tapi, tidak dengan yang satu ini, menyapa dengan lembut juga tidak akan ada manis-manisnya. Karena ulah Kalandra.

"Heh, manusia butek, kapan sih lu berenti buat gangguin idup gue?!"

Akmal Wijaya, satu-satunya sahabat Kalandra yang hafal betul bagaimana sifat tengilnya Kalandra.

"Hahelah, lebay kaya lagi PE-EM-ES ,lu."

Akmal sudah tahu jawaban apa yang diberikan oleh Kala, tapi dia selalu sengaja menggoda Kala.

Anak bungsu dari hasil pernikahan Akbar dan Mentari, nyaris membuat orang histeris karena tingkah lakunya yang super menyebalkan.
Anaknya memang cerdas, selalu membawa prestasi dibidang olahraga, tapi harus banyak istigfar dengan ulahnya.

"Gaya oke, wajah oke, tapi kamu bisa nggak sih nggak buat suara Bapak habis, Andra!"

Ya itu Pak Burhan,  salah satu dosen hang mengajarnya, usianya sekitar 30-an, karismatik,  cool? Bisa jadi.

Jangan dikira Pak Burhan sudah menikah, justru Pak Burhan itu masih lajang.  Masih terlihat gagah, tapi sayang, terlalu kiler, itu yang selalu di katakan oleh Kala.

Kalandra, atau Kala sapaan akrabnya di Kampus, membuat para mahasiswi selalu berteriak, kaya dapat jutaan hadiah, kalau sosok Kala yang muncul. Padahal Kala selalu bersama dengan Akmal.

Sama halnya saat Kala sedang latihan Futsal sekitar dua hari lalu, para gadis-gadis sudah mebgantri di pagar pembatas lapangan, hanya untuk melihat Kala.

Akmal yang peka, kadang dia selalu membuat Kala jengah, ya kesibukannya selalin berlatih Taekwondo, Futsal juga termasuk salah satu kegemaran Kala.

"Erika, tuh." teguran Akmal, membuat senyum getir seorang Kala.

"Mantan." singkatbtapi menyakitkan.

"Php sih, yoklah lanjot," ucap Akmal, membuat Kala mengalihkan  pandangannya kepada gadis yang di maksud Akmal.

"Kamu cuma masa lalu Rik,  tapi kenapa jauhin kamu dari otak aku susah banget." batin Kala, yang meronta.

"Elah katanya mantan, tapi masih di tatap aja," teguran itu membuat Kala menatap sahabatnya tajam.

"Berisik lu," gerutu Kala. Lalu ia kembali berlatih. Sesaat melupakan ucapan Akmal, yang selalu mengingatkannya pada Erika.

Ucapan Akmal terkadang memnuat Kala mengingat hal manis bersama Erika, tapi ia selalu hiraukan perkatakaan absult sahabatnya.

"Nongkrong di tempat biasa nyok?"

Ajakan Akmal selalu diabaikannya, dengan alasan ingin berlama-lama bersama Bubun kesayangannya.

"Males."

Seperti biasa singkat, padat, dan menyebalkan. Itulah Kala. Bahkan saat mata kuliah Filsafat saja dia di hukum oleh Pak Karan, yang sangat membosankan.

"Adaptasi dari mana sih kamu, Bapak pusing sama kamu,  Rezvan!"

"Astagfirullah." sahut Akmal,  yang sama di hukum karena mengikuti jejak Kala.

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now