Chapter 8

209 136 225

Langit kelam menandakan ada kalanya kegelapan hadir untuk dunia yang fana ini. Titisan air yang mulai turun, tetes demi tetes membasahi permukaan bumi, dan menghadirkan rasa dingin yang menyeruak hingga ke tulang. Kala itu, matahari yang memiliki sinar terang tak mampu hadir di tengah-tengah kegelapan langit.

Sama halnya dengan diriku yang kini, sedang berusaha untuk bisa menghadapi kegelapan yang ada dalam diriku. Melawan diri sendiri untuk tetap tersenyum ditengah luka yang amat pedih. Berusaha menyemangati diri sendiri dengan bersikap cuek terhadap lingkungan yang membuat ku, sangat tertekan.


Sinar mentari sudah hadir untuk menemani langit pagi ini. Nayra yang telah rapi dengan pakaian seragamnya, sudah siap untuk melaksanakan rutinitasnya hari ini di sekolah. Nayra menyelesaikan sarapan paginya dengan meneguk segelas susu hangat yang sudah disiapkan oleh Mbok Siti.

Nayra bergegas menuju mobil untuk segera berangkat ke sekolah. Di mobil, terlihat Kang Dendi sudah stand by dari tadi untuk mengantar Nayra ke sekolah. Nayra pun langsung memasuki mobil. Saat Nayra sudah berada di dalam mobil, Kang Dendi pun langsung melajukan mobil menuju sekolah Nayra.

***

"Eh Nay, tungguin gue," teriak Keysa saat melihat Nayra yang mulai memasuki koridor sekolah.

Nayra langsung menghentikan langkah kakinya, saat mendengar teriakkan Keysa. Mereka berdua berjalan bersama menuju kelas. Saat mereka hendak memasuki kelas, tiba-tiba Nayra menghentikan langkahnya. Ia melihat sosok Andre dari kejauhan. Ia pun langsung berjalan menghampiri Andre yang tengah berjalan bersama dua sahabatnya.

"Ngapain lo ke rumah gue lagi kemarin?" tanya Nayra saat ia sudah berada tepat di depan Andre.

"Lo tau dari mana?" jawab Andre balik bertanya.

"JAWAB DULU PERTANYAAN GUE! BUKANNYA NANYA BALIK!" seru Nayra ngegas, yang membuat kedua sahabat Andre hanya melongo melihatnya.

"Gue mau ketemu lo kemarin, mau ngajak lo jalan," jawab Andre jujur.

"Lo tau dari siapa gue ke rumah lo kemarin?" ujar Andre balik bertanya.

"Dari Mbok Siti lah, Mbok Siti cerita ke gue, kalau lo kemarin ke rumah gue" ketus Nayra.

"Unfaedah banget lo ngajak gue jalan! Kan udah gue tegasin ke e-lo sebelumnya, untuk jangan datang-datang lagi ke rumah gue! Gak usah sok dekat deh sama gue, lagian ya kalaupun gue ada di rumah kemarin, gue gak bakalan mau jalan bereng lo!" ketus Nayra lagi. Andre hanya tersenyum mendengarkan setiap ucapan yang terlontar dari mulut Nayra.

"Kok lo malah senyum? Gue ni lagi marah-marahin lo tau! Kok lo malah senyum ke gue? Gila lo ya?" tanya Nayra yang heran dengan sikap Andre.

"Yahh, suka-suka gue dong! Kan ini bibir gue! Seterah gue mau senyum apa nggak! Kok lo yang sewot?" jawab Andre sembari mencibir kearah Nayra, lalu berlalu pergi.

Nayra yang merasa kesal, hanya mampu menghentak-hentakkan kedua kakinya, untuk melampiaskan kekesalannya kepada Andre. Entah mengapa ia bisa bertemu dengan manusia gila seperti Andre. Ingin rasanya ia memohon kepada Tuhan untuk jangan mempertemukannya lagi dengan Andre. Karena menurutnya, Andre hanyalah benalu yang dapat mengusik kehidupannya.

***

"Nay, lo kenapa sih? Dari tadi gue perhatiin muka lo manyun mulu. Lo lagi kesal ya? Kesal sama siapa? Cerita dong sama gue, biar gue labrak orang yang berani bikin lo kesel" tanya Keysa saat mereka sudah berada di kantin.

Street In My LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang