Ch. 52 : Adu Gombal

31.9K 1.6K 72
                                    

Menurut kalian hal yang paling dibenci ketika pagi hari tiba itu apa?

Kalau aku sih, bunyi alarm. Simple banget, karena aku gak suka bangun pagi. Mataku pun melirik sejenak jam weker yang dari tadi bunyi. 

"Hm, baru jam tujuh kan ya." Gumamku sembari menguap. 

Saat mataku ingin tertutup kembali, kali ini suara nyebelin Bang Kelvin bergema sehingga membuatku mau tak mau terbangun. 

"Dek! Arfa udah di bawah, nungguin lu!" Teriak Bang Kelvin yang membuat kesadaranku tiba-tiba terkumpul karena mendengar satu kata, Arfa. 

"Hah?! Baru jam tujuh, Bang! Temenin Pak Arfa dulu! Aku siap-siap." Teriakku membalas ucapan Bang Kelvin. 

Setelahmeregangkan ototku, aku bergegas mengambil handuk lalu menuju kamar mandi.Namun sebelum itu, aku menyempatkan diri untuk memeriksa aplikasi pesan diponselku. Aku menyunggingkan senyumku ketika melihat beberapa pesan yang masuk. Namun, senyumku segera sirna tatkala melihat pesan dari Pak Arfa yang baru muncul. 

Pak Galak 
Gk sah kbnyakan main hp.
Cpt mandi. 
Saya mls berduaan sama abang km. 
(Read)

Pak Arfa kayaknya emang beneran cenayang deh.

Tak butuh waktu lama, aku pun sudah segera mempercantik diri dalam kurun waktu lima belas menit. Gimana? Waktu yang cukup cepat untuk wanita kan? 

"Dek, lu mandi kagak sih?" 

Aku pun menjelitkan mataku mendengar pertanyaan Bang Kelvin, "Menurut Abang aja lah."

"Kok masih buluk gitu?" 

"Abang masih sayang nyawa kan?"

Bang Kelvin terkekeh, "Ampun Nyai." 

Sebenarnya gak terlalu buruk kok, rambutku ku kuncir satu dengan poni yang kubiarkan terurai, baju oversized, dan celana jeans, serta sneakers berwarna putih. 

Gimana? Sungguh feminin kan diriku? 

"Pak, kita mau kemana sih?" 

"Jalan."

Aku menatap Pak Arfa lama, "Sepagi ini?"

"Iya." Jawab Pak Arfa mantap. 

"Jalan kemana sih Pak?" 

"Bandung."

"Bandung? Ngapain? Jauh banget sih, Pak." 

"Ketemu Ayah saya."

Aku membelalakan mataku, "Hah? Gak mau, Pak! Saya gak siap."

"Gak siap apa?" Dari nada suaranya sih, Pak Arfa kayaknya sedang menggoda aku. 

"Nikah kan?" Mulutku yang spontan berulah lagi. 

Bang Kelvin dan Pak Arfa pun tertawa bersama menanggapi reaksiku yang mungkin bagi mereka lucu tapi bagiku sedikit membingungkan, "Apaan sih? Kok ketawa?"

"Bukan buat nikah, El. Saya akan selalu nunggu kamu siap. Lagian saya kan janjinya mau ngelamar kamu setelah lulus." Ucap Pak Arfa dengan nada kalem.

"Jadi?"

"Sepupu saya menikah. Saya gak mungkin kan datang kesana gak bawa gandengan?" 

Aku pun tersipu malu, "Oh, gitu. Kirain Pak." 

"Malu kan lu dek." Ledek Bang Kelvin. 

"Mending Abang berangkat kerja, deh." Usirku.

"Bossnya kan Abang, suka-suka gue dong." Elak Bang Kelvin. 

My Annoying LecturerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang