Part 37

1.1K 46 0
                                          

Happy Reading.


Tutt Tutt

"Hallo cakra, kamu dimana?" Tanya maya dibalik telpon tersebut.

"Dikampus, kenapa?"

"Inikan udah jam pulangnya wawa, jadi aku aja ya yang jemput dia."

"Ih, gak usah. Aku aja. Bentar lagi aku selesai kok ini."

"Gak usah boong. Aku tau kok, kamu masih mau ketemu dosen. Yaudah ya, aku jemput wawa. See youu"

"Yangg~, seriusan ini gak papa?"

"Iyaa gak papa samsul."

"Yaudah, makasih ya. Ngerepotin kamu lagi tau gak."

"Gak papa samsul."

"Oh ya kamu udah makan siang?"

"Belum. Beliin yaa"

"Oke, mau makan apa?"

"Nasi tempat biasa kita makan aja, bisa kan?"

"Bisa bisa."

"Yaudah makasih yaa sayang."

"Iyaa. Makasih juga yaa,"

"Iyaa sama sama samsul."

Suara terputus. Kini Maya mulai melajukan mobilnya menuju kesekolah wawa.
Tidak membutuhkan waktu terlalu lama, kini ia sudah sampai didepan gerbang sekolah wawa.

Menunggu untuk beberapa saat, kini ia sudah melihat wawa yang berlari menuju kearah mobilnya.

"Haii~" sapa maya

"Hai kak~" balas wawa sambil memasang seat belts.

"Kenapa kakak yang jemput? Abang mana?" tanya wawa disaat mobil sudah mulai melaju.

"Ada urusan sama dosen. Kan dia bentar lagi mau wisuda."

"Ohh gitu. Berarti siap ngelamar kakak dong." Ujar wawa sambil mencolek bahu maya. Maya hanya terkekeh tanpa membalas ucapan wawa barusan.

"Kak?"

"Hmm? Kenapa?"

"Kenapa kakak bisa sayang sama abang? Dan kenapa hubungan kakak sama abang awet banget sampe sekarang?"

"Nanya nih?" tanya maya sambil terkekeh.

"Iya, sama pengen tau sih." Balas wawa

"Kenapa bisa sayang. Menurut kakak, kalau kakak sayang sama dia itu, gak butuh alasan. Kakak sayang ke dia apa adanya, layaknya anak kecil yang selalu menerima apa adanya. Simpel."

"Kalau masalah awet apa enggak, itu ada diri masing-masing, gimana nanggepin kondisinya. Gimana dia hadapin situasi yang enggak seharusnya. Tapi hal yang paling penting itu adalah, terbuka dan juga kepercayaan. Kalau kita enggak terbuka, gimana dia mau percaya sama kita. Bener?" sambung maya.

Wawa hanya tersenyum mendengarkan jawaban dari maya tersebut. Ia benar-benar tidak paham apa yang akan terjadi kedepannya. Yang hanya ia bisa lakukan, hanya berdoa untuk kedua orang yang ia sayangi untuk sekarang dan juga seterusnya.

"Kenapa nanya gitu?" tanya maya disela-sela menunggu lampu merah berganti.

"Gak kenapa-kenapa. Cuman kagum aja gitu. Kakak sama abang pacarannya lama banget."

"Tapi kak, kak may itu cantikk loh. Perfect deh. Masa iya gak ada yang naksir kakak kecuali abang?" sambungnya.

"Ada. Tapi, sayangnya cuman ke sama abang kamu. Dan kenapa harus mandang kakak cantik kalau buat jadi pacar mereka. Dan kenapa kakak harus jual kecantikan buat dapatin mereka? Gak harus gitu kan?"

Aletta ✔ [ COMPLETE ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang