Lima

42.1K 1.3K 118

EDITED

Happy reading ^^

Merry Christmas bagi yang merayakan!

-SW-

"Jadi? Gimana penjelasan lo? Kenapa lo bisa di sini? dan mana kopi gue? Kenapa lo jadinya bawa gue ke flat lo? Bukan ke rumah gue atau kafe?" tanya Naomi beruntun saat Kelvin yang masih merangkulnya lembut ini menggiring tubuh rampingnya memasuki lobby apartemen, mewah, tapi sangat asing untuk Naomi. Gadis bersurai cokelat alami ini kesal, karena sejak tadi -dan seperti biasanya-, jawaban Kelvin tidak pernah memuaskannya. "Tidak bisakah pria itu berbicara sedikit lebih banyak?" jerit Naomi dalam hatinya.

"Kita bicarakan di flatku saja." jawab Kelvin dengan santai.

Naomi yang mendengarnya hanya mendengus, "Menyebalkan," sahutnya.

Kelvin mendengar, namun memilih untuk tidak menanggapi, Ia senang melihat Naominya kesal, ya, Naominya. Namun tanpa Naomi sadari, sudut bibir pria ini terangkat, membentuk senyum tipis yang memesona. Naomi sibuk menggerutu, dan mendelikkan matanya jengkel pada para gadis yang diam-diam melirik Kelvin, atau yang menoleh dua kali setelah melihat Kelvin. Bukan sepenuhnya salah mereka, salahkan senyum tipis Kelvin, dan pandangannya yang membuat para wanita itu merasa salah tingkah, salah paham juga, tentu saja.

Kelvin membawa Naomi ke lantai dua puluh gedung ini, menuju kamar bernomor 2024. Mengapa 24? Kelvin sengaja membelinya, tentu saja, itu adalah tanggal dan bulan lahir Naomi, 2 April.

Kelvin menekan password kamar yang sudah dihafalnya di luar kepala, hampir semua akses pribadinya menggunakan kode tersebut, bahkan screenlock handphonenya. 020400, tanggal lahir Naomi.

Naomi yang melihat kombinasi angka tersebut berdecak, "Ya! Kenapa lo pakai tanggal ulang tahun gue jadi semua password, sih? Gue cuma ganti password handphone lo satu kali dulu, waktu kita masih SMP. Alasan yang sama lagi? Biar gak ribet?" cerca Naomi sambil melangkahkan kaki memasuki flat Kelvin.

Kelvin tersenyum simpul, "Iya, biar gue gak lupa." jawabnya cuek.

Saat SMP, Naomi pernah meledek Kelvin karena menggunakan tanggal ulang tahun pria itu sendiri sebagai password handphonenya. Terlalu mudah ditebak, komentar gadis itu. Naomi lalu dengan usil mengganti password handphonenya dengan tanggal ulang tahun gadis itu sendiri. Kelvin tidak masalah dengan hal tersebut, dan tanpa sadar, Ia sudah menggunakan tanggal lahir Naomi sebagai hampir semua passwordnya. Ya, sejak enam tahun lalu.

Kelvin lalu berjalan menuju bar kecilnya, dan datang menghampiri Naomi yang sibuk berkeliling flatnya sambil membawa dua cangkir kopi. Di meja ruang tengah itu sudah tersedia beberapa cookies, favorit Naomi.

"Kelvin! Lo masih ngapain sih? Jawab pertanyaan gue tadi, elah." kata Naomi dengan posisi membelakangi Kelvin.

"Naomi, duduk sini." panggilan Kelvin membuat Naomi menoleh. Gadis itu segera menghampiri Kelvin dan duduk di sebelahnya.

"Wah, jadi maksudnya, lo mau buatin gue kopi gitu ya? Bilang dong. Ada cookies kesukaan gue juga, buatannya Tante Brianna kan, favorit gue sepanjang masa lah ini," ucapnya senang. Naomi tampak bersemangat mencium aroma kopi buatan Kelvin dan memakan cookies kesukaannya.

"Thanks ya," tambahnya, sambil menatap tepat di manik biru Kelvin. Naomi tersenyum senang, senyum yang sama dengan sepuluh tahun lalu. Senyum itu, terasa tepat terukir di wajah cantik Naomi. Kelvin terpesona, untuk kesekian kalinya.

Naomi menatap Kelvin dengan bingung, "Kelvin! Ih ganteng-ganteng sukanya kok bengong sih? Sebel gue," ucapnya kesal.

Kelvin hanya tersenyum, Ia mati gaya. Tidak tau harus menjawab apa.

Bila dianalogikan, mungkin bagi Kelvin, Naomi adalah sebuah buku, buku kehidupannya. His everything. Sedangkan bagi Naomi, Kelvin hanyalah sebagian. A chapter of her book. Tanpa Kelvin mungkin tidak terlalu masalah, tapi tidak lengkap. Terasa tidak benar.

-

Ariana terbangun dengan sedikit terkejut pagi itu. Seketika Ia panik, di mana Ia berada sekarang? Namun ketukan halus pintu kamar berhasil menyadarkannya, Ia berada di kamar Ferdi, rumah Ferdi, suaminya.

"Nyonya, apa nyonya sudah bangun? Saya membawakan sarapan untuk nyonya." ucap seorang wanita dari balik pintu.

Tangan Ariana spontan merapikan piyama dan rambut hitamnya yang selalu tampak berantakan di pagi hari, "Ya, masuk saja." jawabnya kemudian.

Perlahan, pintu itu terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya bersama nampannya, dan pria berjas hitam.

"Selamat pagi, Nyonya. Nama saya Elly, saya adalah asisten rumah tangga di sini, Nyonya bisa memanggil saya jika membutuhkan bantuan. Dan ini adalah Henry, bodyguard sekaligus supir yang ditugaskan Tuan untuk menjaga Nyonya." kata Elly, wanita paruh baya itu memperkenalkan diri.

"Namaku Ariana, kau bisa memanggilku seperti itu, Elly." kata Ariana dengan ramah, namun kemudian mengerutkan alisnya bingung, "Tapi, aku tidak memerlukan supir dan bodyguard, aku terbiasa kemana-mana sendiri," tambahnya.

"Maaf Nyonya, tapi ini adalah perintah langsung dari Tuan. Tuan memiliki banyak musuh bisnis, yang mungkin dapat membahayakan keselamatan anda, setelah pernikahan anda kemarin." jawab Henry dengan kaku namun berhasil membungkam Ariana. Menyadarkannya, bahwa Ia bukan hanya Ariana Mutiara Gretchen lagi sekarang, Ia juga istri dari Ferdinand Ravelli, pria tampan yang misterius, tapi juga terlihat berbahaya.

"Permisi Nyonya, silakan nikmati sarapan anda," kata Elly sebelum meletakkan nampan berisi nasi goreng, buah, susu, dan jus jeruk di meja samping tempat tidurnya.

"Baiklah, terima kasih Elly. dan Henry." katanya lalu memandang Elly dan Henry secara bergantian.

"Nyonya, ini ada surat dari Tuan Ravelli." kata Henry lalu memberikan sebuah map berwarna merah.

Ariana memandang map itu dengan curiga, "Apa lagi ini?"

"Silakan Nyonya baca isinya, saya permisi." kata Henry lalu membalikkan badan dan keluar, diikuti Elly yang juga pamit setelahnya.

Ariana bergidik setelah Henry keluar dari kamarnya, mengerikan sekali, mengapa pria itu bisa tidak memiliki ekspresi seperti itu. Datar, dan menakutkan. Tangannya kemudian bergerak membuka map, maniknya menelusuri barisan kalimat itu dengan perlahan.

Ia terkejut, "Apa maksudmu dengan ini Ferdi? Kontrak? Pernikahan kontrak? Sialan, aku tidak sedang bermain drama!" serunya marah.

Bagaimana mungkin pria itu melakukan hal ini pada dirinya? Apa maunya pria itu? batin Ariana meradang.

-TBC-

Hai! Maaf Rissa telat hari ini, sedikit sibuk di hari natal hihihi.

Jadi, bagaimana? Lanjut atau gak cerita ini? Jawab di komentar yaa.

See you soon! Have a blessed day, everyone! 😊


Second WifeBaca cerita ini secara GRATIS!