Chapter 5

325 228 306

  Adakalanya aku harus berpura-pura untuk biasa saja, yang pada hakikatnya tidak ada kata untuk biasa-biasa saja dalam hidup ku. Kepahitan hidup yang selama ini ku tanggung sendiri, mengisahkan kekosongan yang begitu hampa tanpa bekas. Kebahagiaan yang seharusnya seorang anak miliki dari ia kecil, hanya sebuah khayalan dan mimpi besar untuk anak seperti ku.

  Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun ku lalui dengan kekosongan dan kehampaan bagai hutan belantara. Semuanya mengisahkan kepedihan yang amat dalam hingga aku merasa tak pantas aku memiliki kebahagian yang sama dengan manusia pada umumnya.

"Kenapa sih mata gue harus berpapasan tadi sama cowok yang bernama Andre itu?" umpat Nayra kesal dengan kejadian tadi pagi di kantin.

"Eh Nay, lo dari mana aja? Gue kira lo udah pulang duluan...." tanya Keysa yang tiba-tiba menepuk pundak Nayra dari belakang.

"Nggak, gue tadi ke toilet bentar. Emangnya kenapa?" jawab Nayra dan balik bertanya.

"Hmmm... Nggak ada sih, gue cuman heran aja, dari tadi pagi gue perhatiin, lo kayak orang kesal gitu. Lo ada masalah ya?"
tanya Keysa yang sedari tadi bingung dengan sikap Nayra hari ini.

"Ohh, masa? Perasaan gue biasa-biasa aja kok" bohong Nayra, jika Nayra mengatakan yang sebenarnya kenapa ia kesal hari ini kepada Keysa, pasti Keysa malah mengejeknya yang aneh-aneh. Dan Nayra tidak mau itu terjadi, karena itu akan membuat Nayra semakin kesal.

"Seriuss, lo gak ada masalah Nay? Lo jangan nutup-nutupin masalah lo dong sama gue, kan gue ini sahabat lo. Masa lo masih aja mendam masalah sendiri? Terus apa dong guna gue sebagai sahabat lo kalau nggak untuk saling berbagi cerita?" ujar Keysa serius mengkhawatirkan sahabat yang sangat ia sayangi ini.

  Mendengar perkataan Keysa, Nayra merasa terharu dan menyesal sudah beranggapan yang buruk kepada Keysa. Tiba-tiba air mata Nayra jatuh dari pelopak matanya, tetes demi tetes. Entah mengapa ia merasa seperti tertusuk belati yang begitu tajam, saat mendengar ucapan yang tidak pernah ia dengar dari orang lain. Untuk pertama kalinya Nayra merasakan diperdulikan oleh orang yang berada disekitarnya.

Nayra langsung memeluk Keysa penuh kehangatan, ia beruntung memiliki sahabat seperti Keysa, yang sangat peduli dengan keadaannya. Walaupun sebenarnya Nayra juga merasa bahagia saat diperhatikan oleh mbok Siti dan kang Dendi, tapi entah mengapa perkataan yang terlontar dari mulut Keysa dapat membuat ia menangis penuh haru.

"Nay lo kenapa nangis? Ada yang salah ya dari ucapan gue? Sorry ya nayy?" ucap Keysa takut kalau perkataannya tadi menyinggung perasaan Nayra.

"Nggak kok Key, lo gak salah. Gue yang salah karena selama ini gue gak pernah mau cerita sama lo. Padahal lo dengan sepenuh hati mau dengerin keluh kesah gue. Maafin keegoisan gue selama ini ya Key? Gue gak sadar, ternyata ada orang yang peduli sama gue, " ucap Nayra menyesali ketidakpeduliaannya dengan lingkungan sekitar.

"Iya Nay, gue selalu ngertiin sikap lo kok. Kan gue sahabat lo, jadi gue harus bisa ngertiin semua sifat lo," ujar Keysa sembari menghapus air mata yang membasahi wajah Nayra.

"Udah deh sedih-sedihannya gak malu lo dilihatin siswa-siswi lain? Lagian kan kita mau pulang, kok malah nangis ditengah jalan gini..." ujar Keysa menyadarkan Nayra untuk berhenti menangis karena mereka kini, tengah berdiri tepat didepan gerbang sekolah.

"Hehehee iya, yaudah lo pulang deh sana. Nanti lo dicariin ortu lo lagi karena baleknya sedikit telat," ujar Nayra sembari menghapus sisa air mata yang membasahi wajahnya.

Street In My LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang