--menjauh

22 2 0

AISYAH terbangun dari tidurnya dengan keringat yang sudah membasahi sekujur tubuhnya, kejadian ini sudah terjadi untuk kesekian kalinya semenjak aisyah keluar dari rumah sakit

Setiap malam ia selalu memimpikan hal yang sama yang selalu membuatnya ketakutan

Walaupun hal ini sudah sering terjadi, aisyah tidak pernah sekalipun memberi tau raynand maupun celly, ia hanya memendamnya sendiri

"bun" tiba tiba raynand mengetuk pintu kamar aisyah "iya nak, masuk aja" sahut aisyah

"bunda masih kebangun tiap malem?" tanya raynand tepat setelah ia duduk di tepi ranjang aisyah

"gatau kenapa, bunda selalu kebangun aja tiap malem, kayaknya karena kebanyakan istirahat deh, jadi malemnya bunda susah tidur" jawab aisyah berbohong

"bunda" kata raynand serius "beneran kak, ngapain bunda bohong sama kamu coba? Kamu kan anak bunda" aisyah tersenyum memercayakan anaknya

"gimana kalo setiap malem aku ngeliat bunda kebangun sambil keringetan terus mukanya ketakutan gitu? Bunda sakit? Ato bunda mimpi buruk?" tanya raynand

"kamu ngaco deh, kamar disini kan emang panas" aisyah mengipas ngipaskan tangannya ke wajahnya seolah dirinya kepanasan "ini udah dingin loh bun" raynand menemukan aisyah berbohong lagi

"bunda, tolong jujur sama aku bun, bunda kenapa?" tanya raynand lagi "bunda, mimpi buruk" jujur aisyah, ia menundukkan kepalanya

raynand mengusap wajahnya dan rambutnya "sejak kapan bunda mulai mimpi buruk lagi?" tanya raynand khawatir "gausah dipikirin kak, udah biasa kok bunda" aisyah meletakkan tangannya di bahu raynand

"walaupun udah biasa bunda mesti tetep kasih tau aku, aku harus tetep jagain bunda" tegas raynand sambil menatap bundanya "bunda gap-"

"bunda pasti kenapa napa!" sela raynand "pokoknya bunda jangan mikirin kejadian itu lagi bun, biarin aja, kalo bunda ga mikirin nanti juga lama lama bunda gabakal mimpiin itu lagi" tambah raynand

"yaudah sekarang bunda tidur lagi, istirahat, inget bun, besok besok banyakin lakuin hal yang bunda suka dan hal yang bikin bunda bisa lupain masalah itu" raynand tersenyum tipis menatap bundanya

-Deviana-

"kak keenan, liat kak raynand ga?" devi menghampiri keenan di kantin yang sedang bersama dengan alana, natasha, arhan, dan andri

"ah lu mah gituuu" ujar keenan memanyunkan bibirnya "eh napa?" devi mengangkat sebelah alisnya bingung "gabung sini ama kita kita, jangan ama al terus dahh" jawab kainan masih setia memanyunkan bibirnya

"ih kak keenan jangan gitu dong, devi kan udah officially sama kak al" respon natasha

"hah? sama kak raynand? sorry!" jijik devi sambil memikirkan bagaimana jika lelaki tampan namun kasar dan datar itu menjadi pacarnya, itu akan menjadi sebuah mimpi terburuk bagi dirinya

karena bisa saja dia mati perlahan menghadapi sikap raynand yang labil setengah mati

"jijik jijik padahal tadi nyariin" sindir alana sambil mengangkat sebelah alisnya menggoda "apa sih ka? aku tuh ada urusan sama diaa" jelas devi sedikit kesal karena digoda oleh senior seniornya

"apa? mau foto pre-wed?" sela arhan "kakk!!" wajah devi sedikit memerah sekarang "eh udah udah, kasian duh, anak orang nangis entar" lerai andri "iyadah" patuh kainan

devi tidak henti hentinya menggerakan kedua bola matanya mencari sosok lelaki yang belum ia lihat batang hidungnya sama sekali hari ini

DevianaRead this story for FREE!