Luka III

29 4 10
                                                  

"Bu... Bu... Ibu bisa bangun bu?" suara teriakan di luar, masuk ke telingaku bersama suara gedoran di kaca mobilku.

"Bu.. Bu... Bangun buuu..." suaranya masuk lagi ke telingaku.

Kepalaku pusing. Sangat pusing. Rasanya seperti ada benda berat yang mencengkram di atas kepala.

Aku mengerutkan dahi. Mencoba membuka mata perlahan lahan. Aku memicingkan mataku. Banyak orang di sekitar mobilku.

Aku belum mati. Aku masih hidup. Apa kepalaku luka? Rasa sakitnya luar biasa. Kuraba kepalaku. Tidak ada luka.

Aduh apa ini?? Perut bagian bawahku sakit. Rasanya seperti mulas yang aku alami sebelum melahirkan. Rasanya semakin terasa. Perutku terasa seperti di peras dan ditekan sekaligus.

Kubuka pintu jendela. Dengan wajah memelas, aku bicara pada warga sekitar yang mengerubungi kaca mobilku.

"Tolong antar saya ke UGD terdekat pak.. Kepala dan perut saya sakit banget.."

"Siap bu.. 15 menit dari sini ada rumah sakit." jawab seorang laki laki bertubuh tinggi besar.

"Makasih pak.." setelah itu ada dua orang yang membantuku masuk ke salah satu mobil warga.

Kulihat sekilas mobilku yang naik ke trotoar dan sedikit menabrak pohon. Bagian depannya sedikit penyok.

Di dalam mobil ternyata sudah ada seorang wanita seusia mamah. Dia membantu membaringkan kepalaku di pangkuannya. Laki laki yang sepertinya suaminya itu duduk di belakang kemudi. Aku meringkuk di kursi tengah.

"sabar ya Neng.. Nggak jauh kok.. sebentar aja pasti sampe.." Ibu berkerudung coklat itu memberikan kekuatan padaku sambil mengusap usap lenganku..

"iya ibu, hatur nuhun.." kataku sopan menggunakan bahasa sunda halus. Ibu ini logat sundanya sangat kental. Mengingatkanku pada alm. Nenek..

Apa aku terlihat menyedihkan? ibu yang tak kutahu namanya ini terus menerus mengusap lenganku. Kadang saat aku merintis lebih keras,dia usap pinggulku.

Rasanya memang sakit, benar benar seperti akan melahirkan. Aku meringis, sakit.

"Ada keluarga yang bisa dihubungi Neng?"

Keluarga? Banyak. Tapi siapa yang harus ku hubungi? Mamah Papah pasti kaget mendapat kabar aku kecelakaan. Bagas, suamiku itu ?? ahh aku rasanya masih ingin menenangkan diri sendirian, tanpa dirinya.

Oia, ada Intan. Aku bisa memberitahu dan memintanya untuk tutup mulut dari orang tuaku.

"ada bu, adik saya.. " jawabku sambil berusaha mengambil handphone di saku kardigan. Tidak ada. Handphone ku tidak ada. Tertinggal di mobil.

"Gapapa, pasti ketinggalan di mobil, nanti anak ibu anterin ke rumah sakit. Mobil Neng juga kayaknya dia parkirin di rumah ibu dulu tadi sama menantu ibu."

"Nuhun bu.. Punten jadi ngerepotin.." kataku malu.

"Wios, nggak apa apa.. Namanya musibah nggak ada yang mau kok Neng.."

Kami sampai di rumah sakit. Beberapa perawat membantuku naik ke tempat tidur.

"Lagi hamil bu?" tanya dokter.

"Ng..." hamil? Memang kapan aku terakhir menstruasi? Aku lupa. Tapi sepertinya memang sudah cukup lama.

"Nggak tau dok.. Saya lupa terakhir datang bulan kapan.."

Dokter hanya tersenyum, setelah itu memeriksa detak jantung dan tensi ku. Tak lama kemudian, aku dibawa ke ruangan bermesin usg. Dan kejutan!! Aku hamil!! Sudah 7minggu bayi kecil itu ada di dalam sana. Woww..

Ambu Belajar NulisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang