Luka II

23 5 8
                                                  

Aku melepaskan diri dari tubuhnya yang masih tertidur. Entah berapa lama kami menangis sambil berpelukan tadi malam. Sepertinya sampai kami berdua ketiduran di sofa.

Aku berjalan ke kamar mandi. Menggosok gigiku, mulutku rasanya pahit sekali. Mencuci wajahku yang sembab. Mataku juga bengkak. Kutatap pantulan wajahku di cermin.

Hai cantik.. Apa yang akan kau lalukan sekarang? Saat ini kecantikanmu mungkin tak seperti dulu. Karena itu suamimu butuh wanita yang lebih cantik. Suamimu bosan denganmu. Lihat, pada akhirnya semua cerita sempurna yang kau banggakan musnah.

Tadi malam benar benar menguras habis emosi kami berdua. Akhirnya dia menyampaikan pembelaannya. Bagas, suamiku bilang aku terlalu lugu, terlalu pasrah, membuatnya kurang tertantang.

Lucu. Memangnya dia anggap apa pertengkaran pertengkaran kami sebelumnya? Aku selalu mengalah? Aku kira itu hal yang baik. Aku tidak ingin berlama lama dalam masalah. Aku hanya ingin masalah cepat selesai.

Entahlah.. Mungkin itu pembelaan atas kesalahannya saja. Aku sendiri tidak tahu harus percaya atau tidak atas semua yang dikatakannya.

Rasanya setelah hari itu, apapun yang dia katakan, dia nyatakan, aku jadi berfikir dia berbohong. Ini sangat membuatku tak mengerti. Aku pusing.

Kubasuh kembali wajahku. Berkali kali sampai aku merasa wajahku lebih segar. Kuambil selimut dari tempat tidur. Kuselimuti suamiku yang masih meringkuk di sofa.

Kutatap wajahnya. Wajah yang selalu membuat hatiku menghangat saat menatapnya. Saat dia tertidur, wajahnya benar benar seperti Alvaro. Anak ketiga kami yang masih berusia lima tahun. Mereka seperti saudara kembar yang terpisah jarak usia.

Kubelai pipinya. Kukecup pipinya. "I love you. Apapun yang terjadi, aku tidak bisa tidak mencintaimu."

Aku melangkahkan kakiku keluar kamar. Di dapur, kuambil air es untuk menyegarkan tenggorokanku.

"Mau sarapan jus bu? Atau oat?" tanya Sri. asisten rumah tanggaku yang selalu menyiapkan makanan untukku dan anak anakku.

" kok aku pengen nasi uduk ya Sri? Kayaknya enak."

"Tumben banget bu. Jangan jangan Alvaro mau punya adik nih.." canda Sri. Dia memang sudah seperti keluarga bagiku. Dia bekerja padaku sejak pertama kami pindah ke rumah ini setelah kelahiran Friska. Anak pertamaku dua belas tahun lalu.

"Nggak deh bu.. Aku udah kepala empat gini. Pas lahiran Alvaro aja udah resiko tinggi.. Aku cuma lagi pengen makanan berat. Laper banget rasanya.." kataku sambil meminum kembali air es yang sedari tadi ku genggam.

"Yaudah sekarang saya suruh Paijo buat nyari nasi uduk ke depan ya bu.."

Aku mengangguk. Kemudian aku berpindah ke halaman yang ada disamping dapur. Kunaikkan kakiku. Kuarahkan pandangan pada ikan ikan dalam kolam kecil itu. Melihat ikan yang dengan gemulai berenang kesana kemari, gemericik air dari air terjun buatan membuatku sejenak melupakan sesak yang menghampiriku beberapa hari ini.

"Ini bu.. Nasi uduk ini teh yang paling enak.. Makan yang banyak bu.."

Aku tersenyum menerima piring dari Sri. "Makasih ya Sri.."

Entah aku kelaparan karena sejak hari itu aku kehilangan selera makanku, entah nasi uduk ini memang sangat enak, aku menghabiskannya dengan cepat.

"Sri, aku mau ke tempat Ibu. Mau jemput anak anak. Tapi nanti anak anak langsung kubawa ke rumah neneknya ya.. Jadi Asih sama Wulan bisa bebas deh berapa hari. Kasih tau mereka ya.."

Ambu Belajar NulisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang