Luka

35 7 11
                                                  

Aku tahu, menikah itu tidak pernah mudah. Tidak pernah selalu baik baik saja. Aku juga tahu, setiap rumah tangga punya ujiannya masing masing. Begitupun dengan rumah tanggaku. Yang belum kutahu, jenis badai apa yang akan menghampiri pernikahan kami.

Pernikahanku adalah pernikahan impian. Pernikahan dengan persiapan yang sangat matang. Dari undangan hingga hidangan, semuanya pilihan. Hanya yang terbaik yang disajikan.

Pernikahanku, adalah pernikahan impian bak puteri kerajaan. Putri yang menikah dengan lelaki pujaan, pangeran yang menjadi pencuri hatiku. Aku sangat bahagia dia tergila gila padaku.

Aku dan suamiku benar benar menjadi raja dan ratu dalam pesta pernikahan.

Ekor gaunku menjuntai indah, menambah kesan mewah yang melekat dalam diriku di hari itu. Riasanku sempurna. Membuatku merasa jadi perempuan paling cantik di muka bumi.

Suamiku tampan menawan dengan tuxedo hitam yang menawan. Sangat gagah, bahunya tegap dan lebar, sexy sekali. Melihat bahunya saja membuatku ingin melompat ke pelukannya. Membuatku ingin direngkuh dalam pelukannya.

Aku mengira, pesta pernikahan yang sempurna akan membawaku pada kehidupan pernikahan yang sama sempurnanya. Karena aku dan suami saling jatuh cinta, saling tergila gila, kukira kami tak akan pernah saling menyakiti.

Nyatanya, ada banyak luka dibalik kata aku mencintaimu. Lima belas tahun pernikahan sama sekali tak seindah pesta pernikahan. Lucunya, kami tetap saling tergantung dan terikat satu sama lain. Karena kami masih tetap saling mencintai. Kami memilih mengurai masalah, meminta maaf, kemudian kembali berusaha untuk mencintai, saling jatuh cinta seperti dulu. Semua masalah sebelumnya mampu kami lewati.

Tapi kali ini aku bingung harus kuurai dari mana permasalahan ini. Aku masih meraba dan mencoba melihat hatiku. Sebesar apa luka didalam sana.

Aku melihat suamiku merengkuh wanita lain dalam pelukannya. Maksudku wanita lain dalam rumah tangga kami. Bukan wanita lain yang sama sekali tak ku kenal. Aku mengenalnya cukup baik. Cukup mengenalnya walaupun tak bisa dibilang akrab.

Aku juga penarasan kenapa aku tidak bisa langsung meledak melihat pemandangan yang menyesakkan dada di hadapanku. Dibalik pesta pernikahan kerabat saat itu, aku melihat suamiku memeluk erat, menempatkan dahinya di bahu perempuan itu. Seperti menyampaikan berjuta rindu yang lama ia simpan.

Kenapa aku seperti melihat ada rasa yang seharusnya hanya milikku dalam tatapan matanya. Tatapan teduh penuh cinta itu hanya untukku. Bukan untuk perempuan lain.

Aku bukan orang yang pintar menyimpan gejolak di hati. Aku tak sanggup untuk berpura pura tak melihat apa yang kulihat. Keesokan malamnya, setelah kemarin seharian aku tak dapat memejamkan mata semenit pun, aku memberanikan diri untuk bertanya pada suamiku.

"Pih... mamih mau ngomong serius boleh? Rasanya mamih bingung harus nanya ke siapa tentang ini." aku mendekati suamiku yang sedang menonton tv.

"boleh dong. Ada apa?"

"Mmm.... Papih masih cintakah sama mamih? Masih sayang?" mataku mulai terasa panas mengajukan pertanyaan ini. Dadaku rasanya ditekan kuat kuat. Badanku terasa luruh.

"cinta dong. Kok nanya gitu sih?" suamiku merubah posisi duduknya menjadi menghadap padaku. Tak lagi menghiraukan tv yang menyala.

"Mamih.. Mamih... Hikss.. Mamih nggak kuat ngomongnya pih.." tangisku mulai pecah, aku tak sampai hati mengatakan aku melihat suamiku memeluk wanita lain. Rasanya pedih.

Dia mendekat padaku, tangannya merangkulku untuk dibawa dalam pelukannya.

"Ada apa? Kan papih bingung mih kalau mamih nangis gini. Ya udah, nangis dulu deh yang puas, nanti udah legaan baru mamih cerita. "

Ambu Belajar NulisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang