Chapter 6

76 55 28

Hari sudah berlalu begitu cepat, dan kini tepat hari di mana pertemuan antara dua keluarga.

Malam ini menjadi saksi, bagaimana seorang pria dan seorang gadis di jodohkan. Syahid bersama keluarganya datang ke rumah kediaman keluarga Dinda.

Dan kini semua dua keluarga sudah berkumpul di ruang tamu, membahas soal hubungan untuk putra-putrinya.

"Bagaimana Syahid?" tanya abinya kepada anaknya itu, setelah mereka menyelesaikan pembicaraan dan mengambil kesimpulan.

"Syahid setuju."

"Dinda?" tanya abi Syahid beralih menatap Dinda yang menundukan kepalanya. Lantas gadis itu mendongak saat pertanyaan di ajukan padanya dan ia menganggukan kepala.

"Alhamdulillah." ucap serempak kedua keluarga itu.

"Tapi ingat kalian belum menikah jadi belum mahromnya." Abi Syahid mengingatkannya.

"Iya bi,"

"Iya om."

***

Kini Dinda merebahkan dirinya di kasur empuknya, menyentralkan detak jantung yang berpicu cepat. Sungguh beberapa jam yang lalu Dinda menahan rasa gelisah dalam jantungnya ini. Ia tidak menyangka bila pria yang akan di jodohkan adalah seseorang yang selama ini ia kagumi. Takdir. Ya itulah takdir. Tak henti-hentinya Dinda tersenyum manis tetapi ada hal yang terlintas di ingatannya membuat senyuman gadis itu memudar.

"Ka Syahid pasti menyukai perempuan yang solehah dan menjaga auratnya sedangkan aku," gumam Dinda menatap langit-langit kamar.

Dinda beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju lemari pakaian lalu membukanya dan mencari sesuatu. Setelah dapat ia mengambil barang itu, lalu detik berikutnya ia mengucap basmalah.

Dengan niat dan hati yang tulus, bukan karena ia mencintai seseorang tapi karena ini sudah keinginannya sejak dulu, mungkin baru sekarang ia siap memakainya.

***

Keesokan harinya, pagi yang begitu cerah. Burung berkicau merdu dan mentari yang bersinar terang.
Dinda melangkah pelan sepanjang koridor sekolah, banyak sekali sepasang mata yang menatapnya secara terang-terangan. Sebenarnya ia agak risih dan hanya bisa menundukkan wajah sambil melangkah. Tak tahan dengan tatapan-tatapan yang tertuju padanya Dinda melangkah begitu cepat, setelah sampai kelas dan masuk ke kelas ia bernapas lega. Dan mendongak terkejut semua pandangan mata yang berada di dalam kelas menatapnya. Dinda memberikan senyuman kepada semuanya dan tak lupa mengucap salam.

"MasyaAllah, ini benaran kamu Din?" pekik Anya memegang bahu Dinda dan memutarkan tubuh temannya itu.

Dinda mengerucutkan bibirnya sebal, "ishh, apaan sih Nya. Ini aku kali. Kenapa? Aneh ya sama penampilan aku?" tanya gadis itu.

Anya menggelengkan kepala, "Enggak Din, asal lo tau gue sampai pangling ngeliat lo. Cantik banget kalo pake hijab gini," tutur Anya.

"Sejak kapan Din?" timpal Ziza

"Tadi pagi, sebenarnya udah keinginan aku sejak lama tapi baru sekarang aku siapnya." seru Dinda.

"Emang gak panas ya Din, pake hijab gitu?" tanya Anya.

"Enggak ko, nyaman malah. Lagipula perempuan muslimah itu wajib menutup seluruh auratnya," ujar Dinda.

The Light Of Allah's LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang