Chapter 4

304 249 345

  
   Malam gelap yang terasa begitu dingin, terdengar suara riuh di suatu tempat yang terlihat begitu ramai. Berjejer beberapa motor disekitaran tempat ramai tersebut. Ternyata, tepat di jalanan sepi diadakan balapan motor liar.

Ngengg Ngengg Ngeng Ngeeenggg.....

Seluruh peserta balapan, mengeber-ngeberkan motornya masing-masing. Suara teriakkan para pendukung peserta balap, mengiasi arena balapan. Semua pendukung antusias menyemangati para pembalap pilihannya masing-masing.

"Gue pastiin malam ini, gue yang akan meraih kembali kejuaraan balapan untuk yang kesekian kalinya," ujar seorang pria tampan yang tengah berdiri, diatas motor sport miliknya sembari menatap kearah pendukungnya.

"Gak usah sombong lo Andre! Kita lihat aja siapa yang bakalan duluan nyampe di garis finish. Lo atau gue?" ujar Bryan menatap Andre penuh kebencian.

"Oh, okeyy... Tapi gue bukannya sombong ya, emang nyatanya  gue yang bakalan nyampe duluan di garis finish," seru Andre dengan wajah sok gantengnya.

  Grid gril berdiri di garis start sembari bersiap-siap mengibarkan bendera balap. Para pembalap mulai bersiaga untuk melajukan motor mereka masing-masing.

" 1 ..... "

" 2 ..... "

" 3 ....! "

  Pada hitungan ke-3, para pembalap langsung melajukan motor mereka dengan kecepatan penuh. Terlihat dari kejauhan, pembalap barisan terdepan ialah Andre. Kemudian disusul oleh Bryan di barisan ke-2. Persaingan sengit para pembalap, membuat tegang para penonton balapan. Arena balap terlihat begitu tegang karena persaingan antara Andre dan Bryan. Ditambah lagi suara sorakkan para penonton balapan memenuhi arena balap.

  Setelah 1 jam balapan berlangsung, teriakkan kemenangan dari pendukung Andre memenuhi arena balap. Andre sampai duluan di garis finish, disusul oleh Bryan setelahnya. Andre yang menjadi pemenang malam ini, tersenyum penuh kemenangan.

"Cihh! Sial," ujar Bryan kesal sembari menghempaskan helm nya ke motor.

"Terbuktikan? kalau gue yang nyampe garis finish duluan. Selamat menerima kekalahan lo untuk malam ini," ujar Andre sembari  menghampiri Bryan dan menepuk-nepuk pundak Bryan.

"Yaudah guys, gue balik duluan." ujar Andre setelah menerima uang hasil kemenangannya dalam balapan. Andre menstater motor, lalu pergi meninggalkan arena balap menuju rumahnya.

***

  Dengan kecepatan 140 km/jam, akhirnya Andre sampai di rumah besar milik keluarganya. Dengan mengendap-endap Andre memasuki rumah agar keluarganya tidak mengetahui keterlambatannya.

Saat ia memasuki rumah, terlihat begitu gelap karena lampu rumah tidak menyala. Andre sangat bersyukur karena sepertinya kedua orangtuanya sudah tertidur lelap. Setelah memastikan keadaan aman terkendali, Andre berjalan santai menuju kamarnya yang berada di lantai 2.

Saat Andre hendak melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, tiba-tiba lampu yang tadinya mati, menyala secara otomatis. Andre sontak terkejut ternyata papanya duduk di sofa sembari menatap Andre dengan tatapan membunuh.

Plok...plokk...plokk

"Hebatt... Jam segini baru pulang? Apakah jam tangan kamu rusak? Atau diluar langitnya masih terang?"
tanya Roy Alexsandre yang merupakan papa Andre.

"Dari mana aja kamu jam segini baru pulang? Haaa? Udah lupa kalau punya rumah? Kenapa gak sekalian aja kamu gak pulang-pulang! Percuma kamu pulang jam segini, gak daa gunanya..." ujar papa Andre dengan tatapan meintimidasi.

Street In My LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang