Part 7

48.1K 713 38

31.05.2019

Sudah beberapa menit waktu berlalu aku hanya membolak-balik badan mencoba tidur, namun tetap gagal. Sampai tiba-tiba aku merasakan sentuhan di pinggangku. Aku membuka bantal yang sebelumnya aku gunakan untuk menutupi kepala. Aku membuka mata, dalam cahaya temaram aku mendapati Alexander terduduk di tepi ranjang menatapku dengan senyum.

“Aku tidak akan pernah bisa menolakmu, Sandra.” ucap Alexander, langsung membuka bathrobe yang aku kenakan seraya memberikan sentuhan-sentuhan penuh rangsangan di semua jengkal tubuhku.

Dia pintar membangkitkan gairahku. Seketika vaginaku sudah basah oleh cairan pelumas. Tubuhku yang sepenuhnya sudah telanjang dikecupinya dengan mesra. Aku sudah tak sabar lagi ingin merasakan hujaman penisnya. Seketika kedua tanganku membantu melepas t-shirt yang Alexander kenakan, berikut celana jeans-nya untuk membebaskan penis yang sudah mengacung keras tertanda siap.

Aku hanya tetap terlentang pasrah ketika Alexander memposisikan dirinya. Penetrasi pertama kali membuatku memejamkan mata karena rasa nikmatnya. Permainan Alexander tidak pernah mengecewakanku. Belum sampai aku mendapatkan orgasme, aku sudah merasa senang dan seolah melayang setelah beberapa waktu tak mendapatkan kepuasan ini.

Aku berpikir bahwa Alexander juga sangat menikmatinya. Menikmati permainan ini maupun menikmati tubuhku. Dia tak egois untuk mendapatkan kepuasannya sendiri. Dia banyak memanjakanku dengan sentuhan, kuluman di payudara, serta rangsangan-rangsangan yang lainnya.

Napas kami berdua terdengar memburu di sela suara kecipak peraduan kelamin kami. Dia yang memahami tubuh lelahku langsung mengganjal pantatku mengggunakan sebuah bantal. Setelahnya kembali melanjutkan persetubuhan panas ini penuh hasrat.

“Aku bisa melakukan ini bahkan sampai pagi, Sandra.”

Aku tertawa kecil mendengar komentarnya. “Lakukan saja jika kau benar-benar sanggup melakukannya.”

Dia pun ikut tertawa dan langsung memeluk erat tubuhku seraya semakin mempercepat goyangan pinggulnya.

“Milikmu begitu nikmat. Bisa begitu kuat mencengkeram milikku dan memberikan kepuasan yang tiada tara.” bisik Alexander tepat di telingaku berusaha memujiku.

Aku tak peduli dengan pujiannya pada tubuhku. Aku hanya menginginkan kepuasan seks darinya. Aku belum pernah sepasrah ini memberikan tubuhku pada seorang pria. Melebarkan kakiku dan berusaha memainkan otot vaginaku untuk memuaskan hasrat seorang pria. Aku merasakan vaginaku yang berkedut kuat, membuat Alexander semakin beringas dan melenguh nikmat merasakan sensasinya.

Entah sampai jam berapa aktifitas seks tersebut berlangsung. Aku sudah mendapatkan orgasme selama tiga kali, sedangkan Alexander yang begitu perkasa mampu bertahan sampai akhir menyemburkan semua cairan spermanya di dalam rahimku. Dia meminta maaf padaku karena keteledorannya, namun aku tak mempermasalahkan karena merasa puas oleh pelayanannya. Akhirnya aku mengalah untuk meminum obat pencegah kehamilan.

696969

Aku terbangun lebih awal karena mengingat pekerjaan. Tanggung jawabku sebagai pemimpin perusahaan tidak bisa aku abaikan begitu saja. Aku sudah rapi mengenakan setelan kerjaku, memperhatikan Alexander dari pantulan cermin.

Dia baru saja bangun dari tidurnya. Mungkin tenaganya sudah terkuras habis setelah persetubuhan semalaman tadi. Dia turun dari ranjang memunguti pakaiannya, terlihat merasa bersalah karena sikap lancangnya yang tertidur di ranjangku sampai pagi.

“Aku akan membereskan penthouse setelah kembali memeriksa keadaan adikku.”

“Gunakan waktumu sebaik mungkin.” jawabku singkat, dan Alexander mengangguk membawa pakaiannya keluar dari kamarku.

Lonely Sexy Woman #3 [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang