Part 5

46K 615 3

28.05.2019

"Apa yang kau inginkan dariku?"

"Hanya kau harapan adikku satu-satunya. Dia... mengalami kritis saat ini. Bahkan belum sampai dia menyelesaikan kemoterapi lanjutan. Aku menemuimu bermaksud meminjam biaya pengobatannya sebesar... US $350.000."

Aku tertawa kecil. "Jangan membodohiku, Alexander! Kau pikir aku lembaga amal? Itu bukan jumlah yang sedikit."

"Aku tahu. Tapi aku yakin kau memilikinya. Aku akan menggantinya segera. Berikut dengan uang yang kemarin kau berikan padaku. Aku akan melakukan apapun untukmu sebagai gantinya, Sandra."

"Menjadi Office Boy di kantorku sampai mati pun kau tidak akan bisa mengganti semua uang itu, Alexander."

Aku sudah akan meninggalkannya namun dia lebih gigih untuk menahan kepergianku.

"Demi rasa kemanusiaan, Sandra. Hanya kau harapan terakhir kami."

"Aku bahkan tidak bisa mempercayai ucapanmu sepenuhnya. Kau pikir aku akan semudah itu memberikan uangnya padamu?"

"Kau bisa menghubungi pihak rumah sakit dimana adikku di rawat untuk memastikannya. Namanya Viviane Pangborn." kata Alexander, namun aku hanya mengabaikannya.

Aku meninggalkan Alexander begitu saja. Antara yakin dan tidak, aku memilih untuk mengakhiri pembicaraan kami. Aku pergi ke kamar berusaha mengistirahatkan tubuh lelah ini. Namun serasa sulit karena masih terbayang Viviane Pangborn. Apakah dia benar-benar mengalami kritis?

Sudah tengah malam, namun akhirnya aku tetap meraih gagang telepon karena rasa penasaran. Aku menghubungi pihak rumah sakit yang dimaksud Alexander untuk menanyakan perihal pasien bernama Viviane Pangborn. Dia benar-benar ada di sana, meskipun aku tidak tahu pasti bagaimana keadaannya. Pihak rumah sakit tentu tidak akan mengatakannya padaku begitu saja.

"Aku Olivia pemilik Victoria Enterprise. Alexander Pangborn meminta bantuanku untuk biaya pengobatan Viviane. Secepatnya orang kepercayaanku akan datang menemuimu. Mohon bantuannya untuk segera menanggapi permintaanku ini. Terimakasih."

Aku tak kuat hati untuk mengabaikannya demi rasa kemanusiaan. Nominal uangnya tidak terlalu besar bagiku, sehingga tak sepantasnya jika aku hanya mengabaikannya begitu saja. Aku tidak peduli apakah Alexander akan menggantinya atau tidak. Namun yang terpenting aku merasa sudah menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.

Dengan keputusan ini semoga aku bisa tidur dengan nyenyak. Mengistirahatkan tubuhku yang terlalu lelah bekerja dan telah berat memikirkan semua masalah ini.

696969

Aku terbangun oleh suara alarm pagi ini. Sudah banyak pekerjaan yang menanti, sehingga aku harus bergegas ke kantor meskipun kondisi tubuhku belum terlalu fit. Aku segera menyelesaikan mandiku, lalu mengganti baju dan mempersiapkan beberapa barang bawaanku. Aku sudah siap, memulai hariku sebagai seorang wanita karir.

Sesaat keluar dari kamar, aku baru ingat bahwa semalam telah membiarkan Alexander untuk tinggal di sini. Aku berjalan cepat menuju sofa untuk mengeceknya, dan aku menghela napas lega ketika tidak melihatnya ada di sana. Iya, aku berharap tidak lagi bertemu maupun berurusan lagi dengannya. Aku sudah melunasi biaya perawatan adiknya, dan aku tidak membutuhkan imbal balik apapun darinya. Aku sudah merasa cukup bisa membantunya sebagai sesama manusia.

Alexander sudah pergi dari sini tanpa pamit, namun ketika mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan aku merasa ada yang berbeda. Penthouse tempat tinggalku terasa lebih bersih dan tertata. Padahal belum ada petugas kebersihan yang datang kemari hari ini. Terlihat jauh berbeda dari kondisi semalam yang aku lihat.

Lonely Sexy Woman #3 [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang