Part 4

51.1K 608 8

26.05.2019

Bocah ini benar-benar konyol.

“Kenapa aku harus bertanggung jawab atas hal yang menimpamu, Alexander?”

“Karena… jika bukan karena kau melakukan komplain pada Nyonya Queens, aku tidak akan kehilangan pekerjaan ini. Pekerjaan yang bahkan baru aku mulai semalam.”

“Itu bukan salahku, Alexander. Buah dari sikapmu sendirilah yang membuatmu di pecat olehnya.” jawabku lembut, mencoba menahan tawa karena merasa senang dan puas melihat penderitaannya.

“Aku tidak merasa bahwa ini adalah kesalahanku, Sandra. Jika saja kau memperingatkan aku sedari awal, tentu aku tidak akan melewati batas itu. Aku sama sekali tidak tahu dan tidak menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan.” jawab Alexander tetap tak mau kalah.

“Itu bukan masalahku. Kau kehilangan pekerjaanmu juga bukan kesalahanku. Jika kau di pecat oleh Nyonya Queens, cobalah untuk mencari klienmu sendiri. Itu akan lebih menguntungkan untukmu karena bekerja tanpa perantara.”

“Aku akan mendapatkan banyak penghasilan dari klien besar Nyonya Queens. Jangan mencoba lepas tangan dari permasalahan ini, Sandra! Aku terpaksa bekerja seperti ini hanya untuk adikku yang perlu mendapatkan perawatan medis yang begitu mahal. Demi rasa kemanusiaan, aku memohon padamu untuk mencabut pernyataanmu pada Nyonya Queens. Jangan biarkan dia memecatku! Aku tidak pernah mempermasalahkan jika kau tidak akan pernah lagi menyewaku.”

Aku tidak sangup lebih lagi menahan tawa ini. Di hadapan Alexander aku tergelak puas melihat penderitaannya. Benar atau tidak mengenai adiknya, aku sedikit memberi simpati. Namun tidak ketika melihatnya memohon-mohon padaku supaya bisa mendapatkan pekerjaannya kembali.

“Aku menaruh simpati atas musibah yang menimpa adikmu, tapi maaf sekali bahwa aku tidak bisa membantumu mendapatkan kembali pekerjaanmu itu. Aku bukan termasuk orang yang akan menjilat ludah sendiri. Aku sudah benar-benar memutus hubungan dengan Nyonya Queens. Ini bukan permasalahan sepele seperti yang kau pikirkan, Alexander.”

Setelah mengatakannya aku langsung mengangkat gagang telepon interkom. Luna mengabariku bahwa saat ini Tuan Peterson sedang ada di kantor dan dia mengharapkan kedatanganku segera.

Pemuda di hadapanku saat ini terlihat begitu menyedihkan. Sudah tidak ada harapan lagi baginya menjadi gigolo kelas atas, namun tidak sejahat itu pula aku membiarkannya putus harapan tentang kesembuhan adiknya.

Dia hanya berdiri mematung dengan tatapan mata kosong. Aku memperhatikannya di sela membereskan beberapa keperluanku ke dalam tas jinjing. Sesaat suasana berubah hening, lalu aku beranjak dari duduk dan mengambil segepok uang tunai di laci meja. Aku langsung menaruhnya di hadapan Alexander seraya berkata, “Ambilah! Inilah yang dinamakan dengan rasa kemanusiaan. Lebih baik ketika kau menggunakan uang dari pekerjaan yang lebih mulia untuk membantu adikmu. Bukan dari hasil menjajakan tubuhmu.”

Aku berjalan santai meninggalkan ruangan ketika terdengar langkah kaki Alexander yang mengekoriku. Harga dirinya telah runtuh, namun seperti tidak ada cara lain mendapatkan uang untuk keperluan medis adiknya.

“Ak-aku tidak bisa menerima uang ini.”

“Lalu kenapa kau mengambilnya?” tanyaku seraya membalik badan menghadapnya.

“Ak-aku… aku sangat membutuhkan uang ini tapi aku… tidak bisa menerimanya begitu saja darimu, Sandra.”

Seketika sebelah alisku langsung menukik tajam. “Lalu?”

“Tolong berikan aku pekerjaan untuk mengganti semua uang ini. Aku sungguh-sungguh tidak bisa menerimanya begitu saja, Sandra.”

“Tidak ada pekerjaan yang bisa aku berikan padamu, Alexander. Aku memberikan uang itu secara cuma-cuma sebagai rasa kemanusiaan. Aku memberikannya pada adikmu.”

“Tapi tetap saja aku… Pasti ada pekerjaan yang bisa aku kerjakan. Aku bisa bekerja sebagai Office Boy di kantor ini. Aku bisa bekerja apapun untukmu.”

“Tidak. Pergilah dari sini sekarang juga! Jangan pernah lagi datang kemari mencariku!” jawabku mengakhiri pembicaraan ini.

Aku berjalan cepat meninggalkannya setelah meminta Luna mengusirnya. Seorang diri aku mengemudikan mobilku menuju kantor Tuan Peterson. Aku ingin menyibukan diri dengan pekerjaan hari ini, namun Alexander tetap saja tak bisa aku enyahkan dalam pikiran.

“Shhh bagaimana dia bisa tahu tempat aku bekerja? Bukankah… dia hanya mengenalku sebagai Sandra?” gumamku menerka-nerka.

696969

Tubuhku sangat lelah. Staminaku terkuras habis oleh jadwal rapat yang begitu padat. Dengan tubuh lunglai ini aku berusaha sesegera sampai ke penthouse-ku. Aku ingin segera membersihkan tubuh dan rambut lepek ini, lalu membaringkan badan di ranjang empuk-ku dan tidur selelap-lelapnya.

Hujan di luar begitu deras, membuat udara di sekitar menjadi sangat lembab dan dingin. Mungkin alangkah lebih baik jika berendam air hangat. Dulu aku sering melakukannya untuk menyibukan diri ketika ayah dan ibu tiriku mencoba mendekatiku. Aku tidak menyukai mereka. Aku lebih suka dan merasa bahagia ketika hidup sendiri tanpa campur tangan mereka.

Dengan keluarga barunya ayahku tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Aku merasa tak nyaman bersama mereka. Lulus dari high school adalah kesempatanku untuk hidup sendiri, lalu berusaha sekuat tenaga membangun kehidupan baru di kota ini. Aku wanita yang cerdas, dan karenanya aku bisa dengan cepat membangun perusahaanku sendiri menggunakan saham perusahaan peninggalan ibuku.

Kenangan masa lalu segera berakhir ketika pintu lift yang membawaku ke lantai teratas gedung ini terbuka. Lift pribadi yang langsung membawaku menuju unit penthouse-ku. Tentu hanya aku dan satu orang kepercayaanku yang memiliki aksesnya, namun entah bagaimana Alexander bisa berada di sini saat ini.

Aku terkejut bukan main sesaat keluar dari lift dan mendapatinya terduduk di anak tangga dengan keadaan tubuh gemetar. Karena tubuh basahnya dan udara dingin di sekitar membuat Alexander menggigil hebat. Bibirnya sudah membiru, sedangkan sorot matanya menyiratkan permohonan.

Aku yang sebelumnya ingin mengumpatinya dan melaporkannya ke pihak keamanan, pada akhirnya memilih untuk menghampiri dan bertanya padanya. “Ba-bagaimana kau bisa ada di sini? Ini sudah sangat keterlaluan, Alexander. Kau sudah bertindak kriminal dengan membobol rumah orang.”

“Ma-maafkan… maafkan aku Sandra. Aku sudah menunggumu selama 3 jam di luar. Aku harus bertemu denganmu, tapi aku tidak bisa lebih lama menunggumu di luar sana.”

“Bagaimana caramu bisa masuk kemari? Darimana kau bisa tahu tempat tinggalku?” teriakku karena merasa sangat kesal atas tindakannya yang tidak bisa dimaafkan begitu saja.

“Aku… aku…”

Belum sampai Alexander menyelesaikan ucapannya, tubuhnya ambruk begitu saja ke lantai. Aku sempat panik, namun ketika memeriksa keadaannya sepertinya dia hanya terkena demam.

Beban berat tubuhnya tentu tak memungkinkan aku untuk menggendongnya. Dengan sangat terpaksa aku menyeret tubuhnya menuju sofa terdekat. Segera aku mengambil beberapa selimut tebal, lalu melepas semua pakaian basahnya dan membalutnya dengan selimut tersebut. Aku ingin membuatnya merasa hangat. Dan untuk kali pertamanya aku rela pergi ke dapur untuk menyiapkannya semangkuk sup. Begitu perhatian kah aku terhadap orang asing satu ini?

“Hey, bangunlah! Makan sup hangat ini supaya kau segera membaik.”

Berulang kali aku menepuk pipi Alexander, sampai akhirnya dia membuka mata dan bernar-benar terbangun merespon ucapanku. Dia menerima dan memakan sup buatanku sampai habis. Setelahnya aku memberikannya obat demam sebelum meninggalkannya.

“Kau bisa pergi setelah keadaanmu membaik. Jangan banyak berulah jika tidak ingin aku benar-benar melaporkan tindakanmu ini ke polisi!”

Baru saja aku akan pergi, Alexander lebih dulu memegang tanganku untuk menahan kepergianku.

“Susah payah aku berusaha menemuimu, Sandra. Tolong dengarkan aku sebentar saja!”

“Apa yang kau inginkan dariku?”

tbc

Lonely Sexy Woman #3 [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang