Part 3

63.7K 621 3

24.05.2019

"Aku belum mendapatkan apa-apa, Sialan! Aku sudah membayarmu mahal. Ingat itu!" ucapku berpura marah.

Aku sama sekali tidak kecewa dengan permainan ini. Meskipun aku belum memperoleh kepuasan yang seharusnya aku dapatkan, tapi aku cukup puas bisa mengalahkan seorang pria seperkasa Alexander. Aku menganggapnya perkasa, setelah menilai bagaimana kelas ukuran penisnya sampai tubuh idealnya yang terlihat begitu indah. Mungkin dia begitu rajin berolahraga demi menjaga stamina dan tubuh sixpack-nya. Dan dia termasuk yang paling bisa bertahan lama setelah aku menunggangi penisnya penuh tenaga.

"Aku tidak akan mengecewakanmu yang sudah membayarku mahal. Beri aku sedikit waktu untuk memulihkan tenagaku. Aku akan kembali untuk memuaskanmu, Sandra." ucapnya bertekat.

Aku tak mendengarkan. Tanpa persetujuan darinya aku lebih memilih melepas karet pelindung dari penisnya, lalu mulai mempermainkannya bermaksud membuatnya kembali bangkit berdiri tegak. Aku mengurut penisnya, dan tindakanku selanjutnya membuat diriku sendiri tidak menyangka. Untuk pertama kalinya aku berkenan memasukan penis seorang gigolo ke dalam mulutku. Sial! Aku benar-benar mengulumnya.

Alexander terlihat benar-benar menikmatinya. Tak butuh waktu lama untuk membuat penisnya bangkit kembali, bersiap menyenangkanku malam ini. Aku sudah terlanjur memasukannya ke dalam lubang vaginaku ketika terlupa sesuatu.

"Sial! Aku melupakan karet pengamannya." Gumamku.

Sudah kepalang basah dan terlalu menikmatinya, pada akhirnya aku memilih melanjutkan penetrasi tersebut tanpa karet pelindung. Tentu sensasinya terasa lebih nikmat tanpa penghalang apapun, meskipun timbul sedikit rasa khawatir jika aku hamil ataupun penyakit yang bisa ditularkan oleh Alexander kepadaku.

Tapi mengingat bahwa dia seorang gigolo pemula dan aku adalah pelanggan pertamanya, kemungkinan itu membuat kekhawatiranku tidak begitu besar. Aku tak ingin terlalu memikirkannya, karena aku ingin menikmati seks mengairahkan malam ini. Memenuhi kebutuhan yang perlu aku perhatikan sebagai seorang wanita single.

Aku kembali menggoyangkan tubuhku di atas tubuh Alexander. Aku menunggangi penisnya penuh tenaga, namun tubuh lelah ini merasa tak sanggup lagi meskipun Alexander telah membantu menopang tubuhku menggunakan kedua tangan kuatnya.

Tanpa aku memintanya Alexander berinisiatif untuk membalik posisi permainan kami. Saat ini dia berada di atasku, mengungkung tubuhku dengan tubuh indahnya seraya terus menghujamkan penisnya ke dalam vaginaku. Aku memejamkan mata menikmati semua sensasi yang aku rasakan berkat permainan seks hebatnya. Aku mengakui bahwa Alexander begitu hebat. Beberapa kali dia mengubah posisi kami, dengan aku tetap terbaring di ranjang untuk menyimpan tenaga yang tersisa.

Aku merasa bahwa permainan darinya bukanlah seperti seorang pemula. Dia pandai menggunakan setiap detik waktu kami di atas ranjang. Untuk sesaat dia menggoyang pinggulnya dalam kecepatan tinggi, namun seketika saat aku menikmatinya dia justru menghujamkan penisnya keras dengan intensitas yang lambat.

Bukan ini sebenarnya yang aku inginkan. Aku memang menikmati permainan seks ini, namun aku tidak ingin dia menguasai diriku. Aku merasa senang disaat penisnya menghujam dalam lubang vaginaku dan mulutnya tak berhenti mengulum kedua payudaraku. Sedangkan tangannya secara intens terus merangsang klirotisku.

Kami tak banyak berbicara. Selama permainan hanya terdengar suara lenguhan, rintihan, geraman, serta teriakan penuh kenikmatan. Seolah hanya dari sana kami mampu berinteraksi, membuat permainan seks ini semakin panas dan menggairahkan.

Terhitung sudah sampai 2 kali aku mengalami orgasme. Aku sudah kehabisan tenaga, begitu juga dengan Alexander. Menindih tubuhku dan menatap tepat ke wajahku, tanpa berkata-kata ia mempercepat goyangan pinggulnya. Berlangsung beberapa saat membuat kakiku merasa kram, namun belum sampai aku mengeluh padanya Alexander sudah lebih dulu menyemburkan cairan sperma ke dalam rahimku.

Sial! Aku ingin sekali mengumpatinya karena tak bisa mengontrol hasratnya. Namun aku tak sanggup berkata-kata untuk melakukan hal tersebut. Selain karena aku sudah kehabisan tenaga, aku memang menikmati ketika dia melakukannya. Aku merasakan cairan hangat itu menyeruak keluar dari vaginaku.

Hal yang cukup fatal namun tidak menjadi persoalan. Justru aku marah pada Alexander karena hal lain. Entah karena aku lupa memperingatkannya, atau mungkin dia memang bertindak berani padaku. Tiba-tiba saja dia mencium bibirku lalu tersenyum puas setelah melepas tautan bibir kami.

Seketika aku bereaksi atas tindakannya. Aku tak bisa menahan tanganku yang langsung menampar wajah tampannya, lalu mulutku berteriak mengusirnya.

"Berani sekali kau bersikap lancang padaku, Sialan! Pergi dari sini sekarang juga!"

Aku meluapkan kemarahanku. Alexander terlihat ketakutan. Segera ia turun dari ranjang dan mengenakan pakaiannya, lalu bergegas keluar dari ruangan setelah berpamitan.

"Maafkan aku, Sandra. Aku tidak bermaksud bersikap lancang padamu. Aku pamit."

696969

Perasaanku sedang buruk saat ini. Semua karena sikap lancang Alexander semalam. Setelah mengusirnya dari kamar hotel, aku langsung menghubungi mucikarinya dan melampiaskan kekesalanku. Dia sudah lama mengenal diriku dan sudah seharusnya memperingatkan anak asuhnya sebelum mengirimnya padaku.

"Nyonya Olivia, ini semua berkas yang Anda minta. Apa ada hal lain yang Anda butuhkan?" kata Luna- sekretarisku membuyarkan lamunanku.

"Tidak ada. Selesaikan saja pekerjaanmu. Tinggalkan aku sendiri!"

"Baik, Nyonya."

"Luna," panggilku sesaat Luna membalik badan. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang sempat aku lupakan.

"Tolong hubungi sekretaris Tuan Peterson! Aku ingin datang ke kantor menemuinya."

"Baik, Nyonya."

Aku mengurut pelipisku merasakan pening hebat di kepala. Aku masih belum bisa melupakan kejadian semalam yang sangat membuatku teramat kesal. Aku berharap kesibukan pekerjaan bisa mengalihkan perasaanku. Pekerjaan yang seharusnya aku prioritaskan dari segala hal di dunia ini. Sebut saja aku sebagai workaholic.

Menunggu kabar dari sekretarisku mengenai permintaan tadi, aku sempatkan sela waktu ini untuk memejamkan mata sejenak. Aku ingin beristirahat supaya tampak segar dan bisa berpikir jernih ketika bertemu dengan partner kerjaku. Namun baru beberapa detik berlangsung, semuanya membuyar begitu saja karena kedatangan seseorang. Tak lain karena seorang pemuda yang menyeruak masuk begitu saja ke ruangan kerjaku.

"Ma-maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bisa menahannya. Pihak keamanan di depan mengatakan bahwa dia memiliki akses memasuki kantor ini. Mereka sedang dalam perjalanan kemari setelah saya memintanya." kata Luna berusaha menarik tamu tak di undang tersebut untuk segera keluar dari ruangan.

Namun tenaganya sebagai pria tetap membuatnya bertahan di tempat. Mengabaikan Luna yang merasa khawatir karena tak bisa melaksanakan tugasnya dengan lebih baik. Tentu Luna merasa khawatir jika aku memarahinya.

"Tinggalkan dia di sini, Luna! Kau boleh keluar." Putusku tak ingin menimbulkan keributan.

Setelah Luna keluar dari ruangan dan menutup rapat pintunya, pemuda dengan ransel di punggungnya ini langsung menghampiriku. Iya, dia tidak lain adalah Alexander. Seorang gigolo yang seharian ini memenuhi pikiranku. Tidak lain karena tindakannya semalam yang membuatku teramat sangat kesal.

"Apa maksud dari kedatanganmu ke sini? Kau-"

"Aku sudah meminta maaf padamu, Sandra. Ini bukan tentang pelayanan yang aku berikan padamu semalam. Aku yakin semalam kau merasa terpuaskan olehku. Tapi bukan berarti karena satu kesalahan lain itu membuatku harus kehilangan pekerjaan yang baru aku mulai. Kau yang harus bertanggung jawab atas kesialan yang aku dapatkan." Sahutnya marah, berbicara tanpa jeda berusaha meminta pertanggung jawaban dariku. Konyol. Bocah ini benar-benar konyol.

tbc

Lonely Sexy Woman #3 [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang