I

462 102 61

"Hai, Axel! Tumben kamu ngehubungi aku di hari Minggu begini, ada apa?" tanya Megan, sang gadis bersurai magenta dengan dress selutut yang memberikan efek manis sekaligus seksi untuknya. Ia terduduk di depan Axel dengan santai setelah menyeruput ice coffee Axel seenaknya.

Dengan canggung, Axel mengusap tengkuknya perlahan. "A-aku mau ngaku sesuatu ke kamu."

"Apa?"

"Gini, kita udah temenan lama. Aku mau ngaku kalo aku ... aku ...." Axel terbata menelisik wajah Megan yang terlihat menunggu ucapannya. "Aku gay."

Sesaat, Axel dapat melihat bahu sahabatnya yang tiba-tiba menegang. "H-hah?"

"Aku ngerasa aku perlu jujur sama kamu tentang ini, aku ngerasa kamu bisa dipercaya untuk ukuran teman dekat yang udah tiga tahun bersama," papar si pria berambut ash grey sambil menunduk, mengelus gelas minumannya.

"You know, Axel," Megan menggantungkan ucapannya, menarik atensi kepala Axel untuk mendongak. "Nggak peduli apa pun keadaannya, nggak peduli apa pun orientasi seksual kamu ... you are still my bestfriend."

"Really?" Axel memastikan dengan matanya yang membulat lucu.

"... Ya, Axel."

-

"Hey, Megan! Belajar lebih giat lagi supaya bisa kayak sahabatmu, Axel. Dia enggak pernah mendapatkan nilai empat kayak kamu,"

"Hey, Megan! Ayo, kamu harus lari lebih cepat lagi! Axel saja memimpin, kamu ini lambat sekali, sih!"

"Megan, tolong bilang pada sahabatmu Axel untuk datang ke pesta ulang tahunku," ujar Elana, teman beda kelasnya. Gadis populer yang sangat cantik. "Tapi, kamu enggak diundang. Aku cuma mengundang anak-anak populer dan yang paling keren aja di pesta private-ku."

Muak.

Awalnya Megan biasa saja, tapi makin ke sini semakin terasa memuakkan bagi Megan. Ia berpikir, mengapa semua terasa memihak Axel dan membandingkannya dengannya padahal Megan adalah sahabat Axel?

Ia benci direndahkan apalagi dibedakan.

"Hey, Elana. Kalau aku bilang Axel nggak sekeren yang di pikiranmu, bagaimana?"

Gadis bersurai pirang itu mengerutkan dahinya bingung. "Maksud kamu apa?"

"Axel gay, dan kamu harus hati-hati kalau mengenalkan pacarmu sama dia. Axel penggoda ulung, tau!"

"Jangan bohong, Megan." Elana memperingati dengan tampang gusarnya.

"Aku berani sumpah buat itu, El."

-

"Now I know that our perfect boy is a gay." Elana berujar dengan santai tepat saat Axel baru melewatinya, membuat Axel yang merasa demikian langsung membekukan langkahnya. Namun seolah tak ingin ketahuan, Axel kembali berjalan untuk pura-pura tak peduli.

"So, I need to call your name, Axel?" Elana kembali berujar dengan nada tak enaknya.

Tubuh Axel menegang, seketika membalikkan tubuhnya dengan dahi mengernyit sebal, "What do you want?"

"Nothing, just ...," Elana menggantungkan kata-katanya dengan nada yang menjengkelkan bagi Axel, "kamu harus patuh sama aku."

"No, I won't." Axel seketika menolak. Ia tak pernah mau menjadi pesuruh bagi orang lain, bahkan dalam mimpi sekali pun ia tak sudi.

"Terserah, tapi jangan harap rahasia kamu ini bakal aman kalau kamu enggak mau menuruti kata-kataku."

"Just do it. Do whatever you want. I don't care." Terdengar santai meskipun Axel tengah ketar-ketir di hatinya, menyumpahi si ular Elana yang sialnya tahu rahasianya selama ini.

Bury a FriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang