Kamar Pengantin

26 6 7
                                                  

Gugup. Aku sangat gugup menunggu kak Rasyid datang kesini. Telapak tanganku dingin sekali. Jantungku juga berdegup tak beraturan. Rasanya masih aneh dengan statusku sebagai istri dari kak Rasyid sekarang ini. Kak Rasyid, sahabat kakak tertuaku, Kang Ilham.

Saat kang Ilham bertanya padaku apa aku mau menikah dengan kak Rasyid, aku kira dia hanya bercanda. Aku pikir dia hanya menghibur adik perempuan satu satunya ini yang tak pernah beruntung tentang percintaan.

Aku sulit mengungkapkan perasaanku pada laki laki yang kusukai. Rasanya aku terlalu malu untuk mengungkapkan. Pun jika laki laki itu yang menyatakan perasaannya padaku.

Apalagi aku bukan perempuan yang populer. Sejak sekolah, aku bukan termasuk kelompok perempuan cantik yang punya penggemar disetiap kelas. Aku juga bukan gadis pintar yang bisa diingat guru. Apalagi remaja aktif yang mondar mandir di banyak kegiatan ekstra kulikuler. Aku hanya pelajar biasa. Hanya itu.

Kakakku yang lain, bang Ihsan bilang karena itu kisah cintaku selalu menyedihkan. Bagaimana tidak? Pacar terakhirku, yang kudapatkan dengan susah payah, dia memutuskan ku begitu saja. Dia bilang sudah tak ada kecocokan diantara kami. Tak lama setelah itu, kudengar dia bertunangan dengan rekan kerjanya.

Bukan, aku bukan stalking mantan. Tapi mantan pacarku bekerja di tempat yang sama dengan kang Ilham. Karena itu aku selalu mendapatkan informasi terbaru dari sang mantan. Kang Ilham juga seperti tidak mengerti perasaanku. Kenapa harus terus melaporkan perkembangan mantanku sih? Aku kan jadi susah move on.

Aku pikir karena itu dia selalu mempromosikan sahabatnya padaku. Kalau kalian bertanya padaku kenapa aku berakhir menjadi istrinya. Mungkin karena aku merasa bernasib sama dengan Kak Rasyid. Kami sama sama sering menjadi korban dan pihak yang dicampakkan oleh pacar kami.

Kak Rasyid sepertinya putus asa mencari perempuan untuk dinikahinya. Karena itu dia mendekatiku, dengan bantuan sabahatnya. Pintar sekali dia. Hahahahaha

Apalagi ayah dan ibu sangat antusias saat tahu kak Rasyid ingin menikah denganku. Maklum saja, kak Rasyid dan kang Ilham sudah lama bersahabat. Dukungan ayah dan ibu sudah ditangan, aku tak punya pacar. Kak Rasyid punya pekerjaan dan keluarga yang baik. Bagaimana mungkin aku menolak? Dan kalau dilihat lagi, dia cukup ganteng kok.

Sudahlah, tak peduli jalan pertemuan kami sampai akhirnya kami menjadi suami istri. Yang terpenting sekarang, aku harus bagaimana?

Apa aku harus langsung menyambutnya, mencium tangannya? Aahh aneh sekali kan? Sebelumnya aku sering membullynya. Aku sering mengolok olok dia yang tak kuat makan pedas. Kadang juga aku menjahilinya. Bagaimana kalau dia sekarang balas dendam?

Apa ini caranya untuk balas dendam? Seniat itukah? Ah tidak tidak, ini hanya pikiran liarku saja. Aku terlalu gugup dan grogi. Tidak mungkin kan dia menikahiku jika tidak mencintaiku? Memangnya dia sudah gila.

Cekrek. Suara pintu terbuka.

" Assalamu'alaikum tiyaz.. " kak Rasyid masuk ke kamar, kemudian menutup pintu.

"Tiyaz Tiyaz.. Biasanya juga panggil aku ini ini.. Gitu.. " ketusku, padahal untuk menutupi gugup.

"Ciye ngambek apa grogi nih disamperin suami galak amat, sampe salam juga nggak dijawab.." sambil berjalan ke arahku, dan tersenyum menggodaku. Alisnya naik turun.

Gagal, aku gagal menyembunyikan kegugupanku.

"Iya, walaikumsalam.. Lagian sok imut banget panggilnya tiyaz. Panggil ini aja sih kayak biasanya. Kan jadi aneh.." kataku sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Sambil mengedarkan pandangan kemana saja, asal bukan matanya. Matanya membuatku salah tingkah.

Ambu Belajar NulisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang