Chapter 5

83 65 30

"Rasa kasih sayang tak perlu di ungkapkan setiap hari, cukup dengan perhatiannya saja sudah menggambarkannya."

- Syahid & Dinda -

*****

Matahari mulai menampakan dirinya dari celah-celah jendela kamar Dinda, yang baru saja telah di buka oleh bi Nori. Dinda mengucek kedua matanya karena pancaran sinar mentari yang menyilau. Setelah kedua matanya terbuka ia bangun dari tidurnya dan duduk menyender.

"Pagi Non," sapa bi Nori.

"Pagi bi." balas Dinda dengan suara khas orang bangun tidur.

"Jam berapa bi?" tanya Dinda.

"Sudah jam 8 pagi non," jawab wanita paruh baya itu.
Seketika Dinda membulatkan matanya lalu ia terpekik meloncat dari tempat tidur.

"MasyaAllah, BI AKU TELAT SEKOLAH!" pekik Dinda dan mundar mandir dengan penuh kepanikan.

Sedangkan bi Nori terkekeh melihat reaksi Dinda, "Non tenang, gak usah panik," ujarnya.

Dinda menghampiri bi Nori dan menghadap ke arahnya.

"Bibi! Ini Dinda udah telat sekolah, kenapa gak bangunin Dinda sih. Sebel deh," gerutunya.

"Non ini itu hari minggu, semua sekolah juga libur kalo hari minggu," seru bi Nori di akhiri kekehan kecil.

Seketika Dinda terdiam lalu melangkah ke meja belajarnya mengambil ponsel untuk melihat tanggal dan hari, ternyata benar yang dikatakan bi Nori.

Dinda mengerucutkan bibirnya sebal, "Kenapa bibi gak bilang dari tadi, bikin Dinda jantungan tau!" seru Dinda.

"Non duluan yang udah panik, ya sudah bibi mau kembali bekerja."

Setelah itu bi Nori keluar kamar, gadis itu bergegas ke kamar mandi membersihkan diri.

Tak butuh waktu lama untuk Dinda. Ia sudah berpakaian santai. Lalu ia menuju ke arah meja makan untuk sarapan setelah selesai sarapan Dinda kembali ke kamarnya dan duduk di balkon sambil membaca novel.

Hari ini Dinda sangat malas untuk pergi berjalan-jalan, akhirnya ia memilih untuk tetap di rumah saja.

Terdengar deringan ponsel begitu nyaring, Dinda mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari bunda.

"Assalamu'alaikum," salam Dinda terlebih dahulu.

"Wa'alaikum salam, gimana keadaan kamu dek?"tutur bunda di sambungan telepon tersebut.

"Alhamdulillah baik bun, bunda sama ayah gimana kabarnya?"

"Alhamdulillah dek."

"Bunda kapan pulang? Dinda kangen ihh. Ka Adam pergi ke Bandung, ayah sama Bunda juga. Pulang dong bun," rengek Dinda.

"Sabar ya dek, bunda sama ayah besok pulang. Kamu mau di bawain oleh-oleh apa?" tanya bunda.

"Apa aja bun, terserah." jawab Dinda.

"Baiklah dek, Dinda udah dulu ya bunda tutup teleponya. Bunda ada urusan. Gapapa kan dek,"

"Iya bunda, gapapa."

"Assalamu'alaikum," salam bunda.

"Wa'alaikum salam." balas Dinda.

Dinda menghela napas panjang lalu ia beralih memainkan ponselnya mengecek notip yang masuk.

***

Setelah selesai mengaji, Syahid menaruh kitab suci Al-Qur'an di rak khusus Al-Qur'an. Setelah itu ia ke ruang keluarga. Di sana sudah ada ke dua orang tuanya yang sedang bersantai.

"Gimana sama sekolah kamu, Syahid?" tanya pria baya.

"Alhamdulillah bi." jawabnya.

"Abi sama umi mau beri tahu sesuatu ke kamu. Mungkin berita ini terlalu cepat tapi abi ingin beri tahu kamu sekarang. Abi harap kamu menuruti kemauan abi dan umi." tutur Abinya.

Syahid hanya menganggukkan kepala.

Lalu abinya kembali berbicara," setahun yang lalu abi dan umi bersama sahabat abi telah menyetujui menjodohkan anak-anak kita nanti. Dan kamu abi jodohkan sama anak dari sahabatnya abi. Abi harap kamu mau,"tutur Abi Syahid dengan tegas.

"Tapi bi, Syahid masih sekolah dan belum bekerja,"serunya.

"Bukan sekarang tapi nanti kalian menikahnya, lagipula anak sahabat abi juga masih sekolah kelas sebelas. Seminggu lagi kita akan berkumpul bersama. Kamu mulai perkenalan saja. Mengenali dia. Dan juga ternyata anaknya sekolah di tempatmu juga. Mungkin kamu kenal dengan dia,"

"Baik bi, kalo ini permintaan abi. Syahid turuti."

"Umi bangga punya anak sepertimu yang selalu berbakti kepada orang tuanya." ujar umi Syahid seraya mengelus pucak rambut Syahid lembut menyalurkan kasih sayang seorang ibu.

"Iya umi."

Tiba-tiba terdengarlah teriakan melengking dari seorang gadis cantik yang berlari menghampiri mereka lalu berhambur memeluk umi.

"ABI! UMI! Bang SYAHID! Aisyah KANGEN!"

"Ush dek jangan teriak-teriak tidak baik." tegur abi.

Aisyah adalah adik Syahid yang kini baru menduduki bangku kelas 9 smp.

Aisya yang masih memeluk uminya menyengir, "ihh abi Aisyah kan kangen."

"Loh ko kamu pulang gak beri tahu abi sama umi?" tanya umi

Aisyah melepaskan pelukan uminya, "mau buat kejutan sama kalian. Hehe," ujarnya.

"Kamu betah di pesantren Sya?" tanya Syahid.

"Betah banget bang. Hem Aisya pulang cepat juga mau ngehadiriin juga acara pertemuan calon istri abang. Masa Aisyah gak ikut. Harus dong ini mah," antusias Aisya dengan semangat.

"Kamu tau?" kejut Syahid. Ya tentu saja, kenapa adiknya sudah tahu bahkan ia baru tahu tadi. Mungkin abi dan umi sudah beri tahu terlebih dahulu pada sang adik.

"Tau dong!"

"Udah Sya, mending kamu bersihkan diri dulu. Setelah itu makan, pasti laper kan?"

"Umi tau aja sih. Oke Aisya ke kamar."
Setelah Aisya beranjak berlalu pergi. Uminya pun berlalu ke arah dapur menyiapkan makanan untuk Aisya.

"Syahid, abi ke kamar,"

"Iya bi."


Pemuda itu yang kini hanya sendiri di ruang tamu, terdiam memikirkan siapa gadis yang akan di kenalkannya. Siapapun itu Syahid akan menerima apa adanya.

Terdengar helaan napas panjang dari cowo itu. Ia menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa lalu memejamkan matanya sejenak.

🌸🌸🌸🌸🌸

NEXT?...
(Komentarnya dong)hehe

Instagram : @sarahspni

The Light Of Allah's LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang