Part 26

1.3K 49 0
                                                  

Happy Reading

Pagi ini, Aletta sudah siap dengan seragam sekolahnya. Libur untuk melepas penat hanya berlaku satu hari. Pagi ini ia sangat senang. Karena apa? Karna ayahnya sudah dirumah, setelah beberapa hari pergi keluar kota.

Menuruni anak tangga dan segera menuju kemeja makan. Disana ia terus mengulas senyum lebar. Melihat Ayahnya yang sudah duduk bersama kak Lita.

"Morninggg..." Sapa aletta lalu duduk bersebrangan dengan ayahnya.

"Morning." sahut ayahnya dengan senyuman hangat yang membuatnya sangat amat senang.

"Ayah antar letta kan?" tanyanya sambil memoleskan selai dirotinya.

"Iyupp." sahut ayahnya yang membuat Aletta tertawa.

"Eh ta..," panggil kak lita yang berada disampingnya.

"Kenapa?" tanyanya tanpa menoleh.

"Gimana itu? Kamu terima atau tolak."

Aletta hanya menghembuskan nafas panjang. "Terima." sahutnya yang sontak saja membuat kak Lita melototkan matanya.

"Terus dayat?" tanya kak Lita dengan suara pelan.

"Apanya?" tanya Aletta bingung.

"Ngomongin apa sih?" sambung ayahnya

"Gak papa kok yah. Biasa urusan cewek." sahut Kak lita sambil menyenggol bahu Aletta.

"Kakak aja ya yang anterin kamu."

"Ih kok kakak sih?"

"Mau ngomongin ini.."

"Nanti malam bisa." sahut Aletta

"Jadi siapa yang anterin? Ayah apa kakak?" tanya ayahnya.

"Ayah aja." sahut Aletta cepat.

♡♡♡♡

Dilain tempat, Dayat juga sudah siap dengan seragam sekolahnya. Menuruni anak tangga dan berlari menuju meja makan.

Dimeja makan, sudah tersedia sarapan. Cakra yang duduk sambil mengunyah roti miliknya, terus memperhatikan tingkah dayat yang sangat amat terlihat senang untuk pagi ini.

"Senang amat." Ucap mama nya yang dari tadi memperhatikan gerak gerik dayat.

"Iya dong maa..," sahutnya dengan senyuman lebar.

"Anterin adik kamu ya." sambung mamanya

"Oke." sahut dayat cepat.

"Tumben, biasanya loe nolak nganterin wawa." Ucap Cakra yang disahuti senyuman lebar dari dayat.

"Abang gila?" tanya wawa yang terheran heran melihat dayat yang hanya senyum-senyum.

"Alhamdullilah waras." Ucapnya dengan mulut yang penuh dengan roti. Wawa dan Cakra hanya saling berpandangan. Pikiran mereka mungkin sama, 'Dayat kenapa? waras?" .

Aletta ✔ [ COMPLETE ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang