Bebek Goreng, Nasi Goreng dan Kita.

42 10 4
                                                  

Kang, pulangnya kalau beli bebek goreng bisa gak? Uangnya masih cukup?

Asih mengetik pesan di layar handphonenya. Entah kenapa sejak pagi tadi dia selalu membayangkan rasa bebek goreng yang gurih. Apalagi disantap bersama sambel korek yang pedasnya tak pernah gagal menggugah selera. Sepertinya enak sekali, rasa gurih, pedas, dan nagih perpaduan nasi, bebek dan sambel akan menghilangkan rasa mual seharian ini.

Tapi kemudian Asih ragu untuk mengirimkan pesan ini pada suaminya. Dia sadar betul, sekarang sudah tanggal tua. Mereka sudah harus berhemat. Memang, kalau sesuai jadwal, hari ini kang Jafar akan mendapatkan upah privat dari salah satu muridnya. Tapi, apa bebek tidak terlalu berlebihan? Dagingnya mahal. Kalau beli ayam bisa untuk dua sampai tiga kali makan.

Kang, pulang dari kampus jadi privat Raihan dulu? Semoga yaaa... Hehhehehe

Asih menghapus pesan sebelumnya. Lalu mengganti dengan pesan lain. Sambil berfikir dalam hati,

"kang Jafar apa akan mengerti ya arti kata semoga yang aku tulis. Gimana dong, aku pengen bebek goreng, tapi nggak mau juga bikin suamiku jadi merasa bersalah dan terbebani kalau belum punya uang." pikir Asih.

Asih sadar, mereka tidak seharusnya berfoya foya. Kurang dari dua bulan lagi sudah hari perkiraan lahir anak mereka. Tabungan untuk biaya persalinan belum terkumpul. Semua uang simpanan mereka sudah terpakai untuk membeli kebutuhan bayi dan membayar kontrakan setaun ke depan.

Mereka banya berdua di Kota Bandung ini. Keluarga kang Jafar di Cianjur. Asih sendiri berasal dari Purwakarta. Dan Asih masih berstatus mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Bandung. Sebelumnya Asih ikut bekerja sebagai guru privat untuk menjemput rezeki keluarga mereka. Sejak hamil, kang Jafar tidak mengizinkan. Kuliah dan hamil saja sudah sangat berat. Tak sampai hati Jafar membiarkan istrinya kelelahan seperti itu.

Asih merasa egois sekali kalau harus mengorbankan kesempatan untuk menyimpan uang hanya untuk keinginannya makan dengan bebek goreng.

Kehamilannya memang sudah memasuki trimester ketiga. Tapi kadang masih dihampiri rasa mual yang membuatnya kehilangan selera makan. Seperti hari ini. Dari pagi sampai menjelang sore ini, hanya lemper yang dia beli di warung depan yang mengisi perutnya.

Kang, selesai privat nanti langsung pulang ya.. Kita makan bareng. Kita makan nasi goreng berdua. Dede bayi pengen makan bareng ayahnya nih.. Manja...

Akhirnya pesan itu yang Asih kirim pada suaminya. Sambil tersenyum dan membelai perut buncitnya dia berkata

"Gapapa ya dek, nanti kalau ayah dan ibu sudah punya uang lebih, baru kita makan bebek ya.. Nanti malam kita makan nasi goreng kesukaan ibu. Nasi goreng spesial karena ditambah tungir goreng. Ayah pasti tau kesukaan ibu.."

                                 ***

Kang, selesai privat nanti langsung pulang ya.. Kita makan bareng. Kita makan nasi goreng berdua. Dede bayi pengen makan bareng ayahnya nih.. Manja...

Jafar tersenyum melihat pesan yang masuk ke handphonenya. Rupanya kekasih hatinya itu sedang ngidam makan dengan nasi goreng spesial kesukaan.

Padahal di gantungan motornya, telah menggantung sekotak nasi dan bebek goreng. Pemberian orang tua muridnya tadi. Sedang ada syukuran di rumah mereka. Dan nasi box untuk dibagikannya adalah nasi dengan bebek goreng ini. Jafar dapat dua kotak. Untuk istri bapak. Begitu kata bu Dewi tadi.

Tak sampai hati Jafar mematahkan keinginan istrinya. Asih sangat jarang meminta sesuatu. Jika dia bilang menginginkan sesuatu, berarti dia benar benar menginginkannya.

Iya sayang, ok.

Balasan Jafar sambil menatap keresek berisi dua kotak nasi bebek lengkap dengan sambel korek itu. Dalam hati dia berfikir kalau mereka makan nasi goreng, bagaimana nasib makanan ini?

Aahh kita lihat saja nanti. Sekarang yang penting, dia bergegas ke penjual nasi goreng secepatnya. Goreng tungir selalu jadi kesukaan banyak orang. Selalu menjadi topping tambahan yang paling cepat habis. Dia harus bergegas. Demi memenuhi keinginan istri dan anaknya. Dua kesayangannya.

Nasi goreng pesanan sudah ikut bergantung di motor. Dengan hati riang Jafar menunggu lampu lalu lintas berganti dari merah menjadi hijau. Sambil membayangkan ekspresi bahagia dan lahapnya Asih saat menyantap nasi goreng ini nanti.

Lamunannya terusik saat melihat dua remaja laki laki berjalan beriringan berjualan cobekan dan ulekan. Badannya kurus, hitam terpanggang matahari, juga rambutnya kemerahan.

"Jang..  Kadieu jang.."(nak kesini nak..) Jafar berteriak memanggil mereka..

"Ieu, lumayan.. Rejeki jang.. Emam nya.." (ini lumayan, rejeki nak.. Makan ya..)

Jafar memberikan keresek berisi dua kotak nasi bebek pada salah satu dari mereka.

"wah nuhun pak.. Alhamdulillah.. Sing ageng rejeki sareng sehat pak.." (wah terima kasih pak.. Alhamdulillah.. Semoga banyak rejeki dan sehat pak).

                                  ***

"Assalamu'alaikum..."
"Walaikumsalam... Sebentar kang.." Asih bergegas untuk membuja pintu, menyambut suami tercinta.

"Masih mual kayak tadi pagi?"

"Iya lumayan. Lemes banget hari ini. Pengennya tiduran terus. Hehehehe" jawab Asih sambil mengambil tangan Jafar untuk dikecup.

"Asih baru makan lemper dua pagi tadi. Siang pas beli lotek malah tambah mual, terus muntah lagi.." lanjut Asih.

" kasian.. Sekarang makan yang banyak ya.. nih mumpung masih anget. Asih tunggu disini, akang yang ambil piring sama minumnya." Jafar menuju arah dapur yang hanya beberapa langkah dari tempat mereka duduk.

"Enak? " Fajar tersenyum gemas melihat Asih menikmati brutu.

"Iya kang.. Hehehehe ayam teh emang paling enak tungirnya kang.. Alhamdulillah.." Asih tersenyum sambil menyendok nasi dan kerupuk.

"Sayang, tadi akang liat anak anak jualan coet sama mutu. Kasian teh, pada kurus, sedih liatnya. Pas pisan akang punya dua nasi kotak dari bu Dewi.. Udah weh akang kasiin.. Lumayan buat mereka makan malem. Mereka pasti seneng makan bebek goreng." Jafar bercerita.

"Bebek goreng?" Asih berhenti makan.

" Iya, bebek goreng. Tadi bu Dewi bikin selametan apa gitu, isi nasi kotaknya bebek goreng kesukaan Asih itu loh.."  Jafar mengambil kerupuk.

"Tadi bu Dewi ngasih akang dua. Katanya buat Asih satu. Eehh pas akang baru mau pulang kan ada wa dari Asih. Untung akang belum maju. Jadi bisa beli nasi goreng. Kalau udah dijalan kan wa nya nggak akan kebaca, nanti Asih sedih karena akang nggak bawa nasi goreng, malah bawa bebek." lanjut Jafar ringan.

" Ya Alloh akaaanggg... Dari siang tadi, Asih tuh kebayangin makan pake bebek goreng, pake sambel korek.. Ya Alloohh..." Asih gemas, membuat suaranya keluar lebih keras dari biasanya, setengah berteriak.

"Hah?? Kenapa pesannya nasi goreng?" tanya Jafar bingung.

" ya kan bebek goreng mahal kang.. Seporsinya tiga puluh enam ribu. Kalo nasi goreng, tiga puluh lima ribu udah nambah sate tungir goreng kang iihh..." Asih merajuk.

"Tadi gratis lagi kan aahh.. Akang maahh... Asih jadi nyesel kenapa nggak bilang aja pengen bebek.." Asih masih merajuk.

Jafar hanya tersenyum kecut dan bingung. Bagaimana dia tau istrinya ingin makan bebek, bukan nasi goreng.

"Untung nasi gorengnya sudah habis saat aku cerita..." gumam Jafar dalam hati.

#littlebees #littlebeeschallenge #littlebees23 #30haribercerita

Ambu Belajar NulisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang