Chapters

5 2 0

Ini adalah lebaran pertama kami. Rumah tinggal yang kebetulan satu daerah dengan keluargaku di tanah priangan, menjadi alasan utama kami menunda pulang ke kampung Mas Bayu di Semarang. Kami memang sudah sepakat bergiliran setiap tahun untuk urusan mudik lebaran.

"Andini,"

"Iya, Ma."

"Udah mau satu tahun loh. Kok kamu belum ngasih kabar, gitu."

Aku baru selesai membantu Mama membersihkan peralatan bekas memasak tadi siang. Di dapur berukuran lima kali lima itu hanya ada kami berdua. Mungkin itu sebabnya Mama baru berani bertanya.

Bibirku mengulas senyum. Sangat paham kabar seperti apa yang Mama inginkan. "Aku sama Mas Bayu pengen pacaran dulu."

"Halah. Usiamu itu udah mau 27, nunggu sampai kapan?"

"Iya, Mama. Doain, tahun depan Mama bisa gendong cucu dari aku, ya."

Bersamaan ucapan 'Amin' dari mulut wanita yang sedang kupeluk itu, hatiku juga menggumam kalimat serupa.

+++

Tapi Tuhan tidak mendukung rencanaku.

Sudah tahun kelima. Aku terus-menerus mendapat satu garis setiap kali mengetahui siklus bulanan tidak sesuai hitungan. Tadinya aku kira, dua garis si pembawa kabar gembira akan mudah menampakkan diri.

"Kita harus periksa sekali lagi, Mas." Bibirku merengek kesekian kali.

"Sayang. Kamu dengar sendiri, lima dokter yang kita datangi punya kesimpulan sama. Kita berdua sehat. Ini cuma masalah waktu." Lengan besar Mas Bayu mencoba meraih tubuhku.

Namun entah mengapa tubuh itu bergerak menghindar dengan sendirinya.

Tanpa melihat, aku bisa menangkap raut terkejut di wajah Mas Bayu. Itu memang pertama kalinya. Selama ini aku tidak pernah menolak sentuhannya sekalipun kami sedang bertengkar. Karena ia tahu, pelukannya selalu ampuh mendinginkan suasana.

Aku pun tak tahu mengapa teori itu sekarang tidak berlaku.

+++

"Mas, kamu coba minum obat apa, gitu."

"Kamu ngomong apa, sih."

"Ya kali aja kamu yang kurang subur."

Jam dinding berukuran besar di atas pintu masih menunjukkan pukul delapan. Salah satu minggu pagi yang diisi rutinitas kami duduk berdua ditemani dua cangkir kopi di teras depan.

Yang berbeda kali ini, aku tidak memulainya dengan benar.

"Mas! Kok malah diem, sih. Aku ajak ngomong ga ditanggepin!" Aku sadar betul nada suaraku meninggi. Aku tahu betul itu bukan hal yang diajarkan Mama ketika aku mengganti status menjadi seorang istri.

"Ini masih pagi, Andini. Jangan mulai."

Seandainya aku tahu setan apa yang berani mengganggu, mungkin aku bisa mengusirnya sebelum berhasil mengontrol cangkir di tanganku yang kini berserakan di lantai.

"Bikin muak aja!"

+++

Aku sudah berhenti bekerja sejak kami memulai program kehamilan. Kegiatan yang sebelumnya terasa menyenangkan tanpa tumpukan berkas atau tanggal deadline, sekarang telah berubah sepenuhnya menjadi gumpalan rasa bosan.

Gumpalan yang semakin malam semakin membesar.

Sudah pukul dua belas, dan aku masih duduk menunggu suara ketukan yang biasanya akan terdengar tidak lebih dari jam delapan. Mas Bayu tidak pernah pulang selarut ini. Pekerjaannya tidak memiliki jadwal lembur atau jadwal tambahan. Itu membuat isi kepalaku dipenuhi berbagai macam bayangan.

ChaptersBaca cerita ini secara GRATIS!