Part 2

77.1K 699 10

22.05.2019

Setelah menyelesaikan pekerjaan kantor dan mengistirahatkan tubuh sejenak, inilah waktunya bagiku untuk bersenang-senang. Saat ini aku sedang berada di sebuah ruangan hotel yang terlihat begitu mewah, menunggu seorang pria yang sudah aku pesan sebelumnya.

Seraya menunggunya, aku sempatkan kembali untuk mengecek informasi mengenai pria tersebut. Dari fotonya saja terlihat sangat tampan. Tentu mucikari kepercayaanku tidak ingin mengecewakanku sebagai pelanggan tetapnya. Dan aku berharap wujud nyatanya benar-benar bisa menggugah gairah terdalamku untuk bersenang-senang malam ini.

Namanya Alexander. Seorang mahasiswa berusia 26 tahun. Ah mungkin dia membutuhkan uang untuk gaya hidupnya. Sudah sangat biasa aku menemui hal semacam ini, namun aku tak pernah mempermasalahkannya. Bukan berarti aku menyukai pria yang lebih muda dariku. Aku lebih menginginkan kepuasan darinya, lalu melupakannya begitu saja setelah membayarnya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu hotel mengalihkan pandanganku dari layar ponsel. Sepertinya Alexander telah tiba, membuatku langsung meletakan ponsel ke atas meja dan menyesap habis sisa red wine di tangan kiriku. Aku berjalan menuju pintu lalu membuka dan menyambut kedatangan pemuda tersebut.

"Se... selamat malam, Nyonya. Namaku Al-"

"Alexander." Sahutku karena tak sabar melihat kegugupannya yang terlihat begitu kentara.

Sepertinya Alexander merasa tak nyaman ketika aku menelisik keseluruhan tubuhnya menggunakan tatapanku. Dia terlihat berbeda dari para gigolo lain yang pernah aku sewa. Selain bodoh- karena mengetuk pintu di saat ada bel, dia juga sepertinya seorang pemula. Aku telah mahal membayarnya, namun yang dia lakukan hanya menundukkan kepala menghindari tatapanku. Alih-alih menggodaku supaya bisa mendapatkan tip lebih.

"Masuklah!" ucapku mempersilahkannya memasuki ruangan hotel.

Tingkahnya yang tak biasa membuatku terus mengamatinya. Setelah menutup pintu bukannya langsung menghiburku, justru yang dilakukan Alexander adalah mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dia terlihat mengagumi ruangan mewah hotel ini, melupakan tugas yang seharusnya dia lakukan.

"Kau anak barunya Nyonya Queens?" tanyaku seraya menuangkan red wine ke dalam gelas.

Dia mengangguk cepat, dan kali ini menatapku ketika menjawabnya. "Benar. Anda akan menjadi pelanggan pertama saya, Nyonya. Tapi jangan khawatir, saya bisa menjamin bahwa permainan saya tidak akan mengecewakan Anda."

"Panggil aku Sandra. Aku memang 4 tahun lebih tua darimu, namun dengan kau memanggilku nyonya itu membuatku semakin terlihat tua. Minumlah!"

Aku menyodorkan segelas red wine padanya, dan tak ku sangka dia menggelengkan kepala menolaknya. Bahkan ia sama sekali tak bersedia menyentuhnya.

"Kau tidak suka red wine? Ingin yang lain? Aku bisa memesankan minuman lain untukmu."

"Aku tidak minum, Sandra. Aku begitu payah dengan alkohol. Lebih baik aku tidak meminumnya supaya bisa memuaskanmu malam ini."

Payah. Kenapa masih ada orang seperti ini di dunia ini? Sebelumnya aku tidak pernah menemui orang yang menolak minuman selain... Lupakan! Lupakan, Olivia! Kenapa kau kembali mengingat pria brengsek itu?

Sialan! Sungguh sialan ketika sosoknya kembali melintas dalam benakku. Sekian lama aku berusaha melupakannya, dan sudah seharusnya aku bisa mengeyahkannya dalam pikiran ini.

Sejenak aku merasa ingin mengumpati diriku sendiri. Namun mengingat ada orang lain berada di hadapanku saat ini, aku tidak ingin menunjukkan kelemahanku padanya. Kelemahan yang mungkin begitu konyol bagi orang lain.

Setelah meletakan gelas di atas nakas, perlahan aku membuka tali bathrobe-ku. Alexander hanya mengamatiku, sampai bathrobe yang aku kenakan benar-benar jatuh ke lantai. Aku sudah telanjang sepenuhnya, namun untuk beberapa saat Alexander terdiam hanya memandangi keseluruhan tubuhku.

"Kenapa kau hanya diam saja?" tanyaku membuatnya tersentak. Susah payah ia menelan ludah, berusaha menjawab dengan suara terbata.

"Ak-aku... aku..."

Belum sampai dia menyelesaikan ucapannya, aku yang sudah tak sabar langsung menyahutnya. "Kau perlu menanggalkan pakaianmu, Alexander." Seraya meremas mempermainkan kedua payudaraku sendiri.

Alexander mengangguk cepat, langsung terburu-buru menanggalkan pakaiannya sendiri sampai benar-benar telanjang bulat. Berhadap-hadapan untuk beberapa saat kami tak melakukan apapun, sampai akhirnya Alexander mendekat menghampiriku lalu berusaha mencium bibirku.

Tentu aku tak membiarkannya. Aku tidak pernah lagi menginginkan ciuman dari siapapun, bahkan dari semua pria yang pernah tidur denganku. Maksudku semua pria yang pernah aku bayar untuk kencan semalam di atas ranjang. Aku mendorong wajah Alexander menjauh dari wajahku, lalu mengusap kepalanya dan mengarahkannya pada payudaraku.

Aku ingin dia menyesap memberikan rangsangan di kedua puncak payudaraku. Dia menurut, langsung menggunakan tangan dan mulutnya untuk memuaskan hasratku. Mempermainkan kedua payudaraku yang sudah memuncak sepenuhnya secara bergantian.

Aku hanya bisa melenguh menikmati keseluruhan sensasinya. Seraya mendongakkan wajah aku mengacak-acak rambut kepala Alexander. Hasrat dalam diriku perlahan terdorong keluar meminta kepuasan, membuatku mengharapkan lebih permainan lidah Alexander di bawah sana.

Langsung saja aku mendorong kepala Alexander menuju selangkanganku. Dia menurut, langsung menghisap klirotisku dan mempermainkan lubang kewanitaanku menggunakan kedua jari tangannya.

Aku sudah tak tahan lagi. Tubuhku semakin menggelinjang hebat menerima rangsangannya. Cairan kewanitaanku semakin deras tertanda kesiapan dalam bercinta. Alexander tak banyak berkata-kata, begitu pasrah ketika aku menyeret dan mendorong tubuhnya terjatuh ke atas ranjang.

Untuk pertama kalinya aku bisa mendengar desahan kenikmatan Alexander. Menggunakan kedua tangan aku mengurut penisnya naik turun. Perlahan namun pasti penis itu menegang sempurna, membuatku langsung meraih karet pengaman di laci nakas lalu memasangkannya.

Aku tak membiarkan Alexander mendominasi permainan. Aku mendorong kembali dadanya ketika mencoba bangkit dari pembaringan. Segera aku menaiki tubuhnya, lalu perlahan memasukan penisnya ke dalam lubang vaginaku.

Awalnya cukup sulit, namun ketika sudah lebih lancar aku segera memacu tenagaku untuk menunggainya naik turun dengan kecepatan tinggi. Sialan! Mungkin Alexander berpikir bahwa aku adalah wanita yang haus akan seks. Tingkahku begitu agresif ketika merasakan kenikmatan dari penis besar, panjang, dan keras yang jarang aku dapatkan.

"Oh shit! Emmmh Sandra. Bisa... bisakah kau lebih santai? Tapi ini sangat nikmattt akhhhh." Rancau Alexander ketika aku semakin beringas menggoyangkan tubuhku. Bahkan aku sempatkan untuk memutar-mutar pantatku, membuat peraduan kami semakin menyatu.

Tubuh kami sudah basah sepenuhnya oleh keringat. Rambutku sudah tak beraturan lagi bentuknya. Aku lelah, namun aku belum mendapatkan apa-apa. Sedangkan Alexander... pemula yang sangat payah ini sudah mendapatkan puncaknya sesaat tubuhnya menegang mengeluarkan sperma di dalam kantong karet pengaman.

"Maafkan aku. Biasanya aku tidak sepayah ini. Mungkin karena... kau begitu hebat, Sandra."

tbc

Lonely Sexy Woman #3 [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang