9

299 48 42
                                    

Sebelum membaca ada baiknya kita memvote part ini dahulu. Vote dimulai:"

Enjoy the reading! Aku harap kalian suka❤.

****

Sebenarnya yang sakit itu bukan perpisahan, melainkan kenangan. Karena, kenangan butuh waktu lama untuk kita lupakan.

-Jehan Carlyle Tegan-

----

Kringgg! Kringgg! Kringgg!!

Bunyi bel pulang kuliah yang paling indah itu akhirnya terdengar di Tegan University. Para mahasiswa dan maha siswipun berhamburan keluar kelas dengan desak-desakkan. Tidak dengan Jehan. Ia tidak mau desak-desakkan seperti itu, toh, nantinya juga sama-sama pulang. Buat apa repot-repot berdesakkan?

Setelah para orang tidak berdesakkan, baru lah Jehan keluar kelas disusul dengan Shafa, Vania, dan Dea.

"Aku mempunyai ide bagus, bagaimana jika nanti malam kita pergi clubbing?" ajak Shafa.

"Sekali saja, Fa. Jangan membuat kita menjadi anak yang penuh dengan dosa." ucap Vania.

"Aku ini lebih suci darimu! Kau saja selalu menonton yang tak lazim bersama kekasih mu, si omes Yogi." kesal Shafa.

"Aku ini lebih suci, karena tidak pernah melawan guru!" kesal Alea lagi.

"Sudahlah! Tidak ada yang suci diantara kalian. Sadar tidak? Kalian itu sama-sama berdosa." lerai Dea.

"Sejak kapan manusia polos sepertimu menjadi sebrengsek ini?" tanya Shafa dan Vania kesal. Sedangkan Dea hanya menyengir kuda.

"Mari kita berbuat dosa!" ajak Shafa membuat Jehan dan Dea menggelengkan kepalanya.

"Silahkan ikuti kita mengumpulkan dosa sebanyak-banyaknya. Gratis, kok, tidak dipungut biaya!" seru Vania.

Vania dan Shafa, tidak ada perbedaan antara mereka. Sama-sama tidak benar, sama-sama berdosa. Mereka selalu sama-sama mengajarkan hal yang tidak pantas untuk temannya yang lain.

"Aku tidak ikut," jawab Dea dan Jehan bersamaan.

"Kenapa, Je?" tanya Vania.

Karena, aku tak mau mengecewakan Lean. Aku tak mau Lean membenciku, jika aku kembali menjadi badgirl seperti dulu. Jawab Jehan dalam hati.

"Jegan saja yang ditanya, aku tidak?" kesal Dea.

"Kau itu anak muslimah, nanti yang ada dosaku menumpuk akibat mengajak maksiat anak sholehah sepertimu." ucap Vania.

"Sejak kapan kau mengumpul dosa dengan setengah-setengah seperti ini?" ejek Shafa.

"Hey! Urusi saja dosa-dosamu itu!" kesal Vania.

"Mauku jawab tidak?" tanya Jehan melerai Vania dan Shafa.

Vania dan Shafa pun menghentikan perbedatan mereka, dan mengangguk kearah Jehan.

"Meeting," bohong Jehan. Padahal, jadwalnya kosong hari ini. Oh, ia berharap, Pandu menelponnya untuk memberitahukan jadwal meeting.

"Kau itu terlalu sering meeting. Jangan sampai mukamu jadi kriting, Je." ucap Dea membuat Jehan terkekeh kecil.

"Maklumkan saja. Mrs. Carlyle itu mempunyai jadwal yang sibuk." ejek Vania.

"Ya, begitulah. I can't waste my time with activity not as clear as you guys." ejek Jehan membuat temannya memutar bola mata kesal.

LuchaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang