Chapter 3.

363 278 405

Aku yang kini duduk sendirian sembari menyaksikan sang surya mulai tertidur. Tak terasa langit mulai menenggelamkan dirinya kedalam kegelapan. Hembusan angin menyebarkan aura dingin yang menyeruak kedalam tubuh ku.

Ting...titing...tingg

Terdengar suara notifikasi dari hp yang berada di saku baju Nayra. Ia pun langsung merogoh saku bajunya, dan membuka notofikasi tersebut. Ternyata, ia mendapatkan pesan dari kang Dendi.

"Non, non dimana?"

"Kang Dendi jemput ya? Si Mbok khawatir ni, dari tadi nanyain
Si non trus,"

"Non...."

Begitulah isi pesan dari kang Dendi. Nayra pun langsung menelfon kang Dendi dan memberikan lokasi dimana ia berada. Setelah memberitahukan keberadaannya kepada kang Dendi, Nayra mematikan panggilan telfon dan kembali meletakkan hp kedalam saku bajunya.

Nayra berdiri dari tempat duduknya sembari menatap danau dalam diam. Beberapa lama kemudian, Nayra pun melangkahkan kakinya untuk meninggalkan danau menuju gerbang taman.

Setelah sampai didepan gerbang, tak lama kemudian kang Dendi datang dengan menggunakan mobil sedan berwarna hitam. Nayra pun langsung masuk kedalam mobil, dan kang Dendi mulai melajukan mobil menuju rumah Nayra.

Tinn...tintinn...tinnn.

Bunyi klason kang Dendi. Pak satpam yang mendengar bunyi klason tersebut, segera membukakan pagar agar kang Dendi bisa memasukkan mobil ke perkarangan rumah.

Mbok Siti yang juga mendengar klason mobil, langsung keluar menghampiri Nayra.

"Non dari mana aja? Si Mbok khawatir karo non... Mbok kira non kenapa-napa, jam segini belom pulang," ujar Mbok dengan nada cemas.

"Iya Mbok maaf...
Nayra lupa ngabarin Mbok, tapi Nayra nggak kenapa-napa kok Mbok. Jadi Mbok gak usah cemas lagi," jawab Nayra menyesal karena telah membuat Mbok Siti cemas.

Mbok Siti merupakan pembantu kepercayaan keluarga Nayra. Mbok Siti, sudah lama menjadi pembantu di keluarga Nayra. Mbok Sitilah yang selama ini menjaga dan merawat Nayra dari kecil.

Karena ada beberapa permasalahan dalam keluarga Nayra, Mbok Siti harus menjaga dan merawat Nayra dengan penuh kasih sayang. Agar Nayra tidak merasa kekurangan kasih sayang dari orangtuanya.

Si Mbok pun sudah menganggap Nayra seperti anaknya sendiri. Sama halnya, dengan Nayra yang juga menganggap Mbok Siti seperti orangtuanya sendiri.

"Yowess... non langsung aja mandi, biar bersih. Mbok mau siapin makan malam dulu untuk non, nanti kalau udah siap makan malamnya, si non langsung aja turun ke bawah untuk makan malam," ujar Mbok Siti.

"Iya Mbokk..." jawab Nayra. Ia pun langsung berjalan memasuki rumahnya, dan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai 2.

Tanpa Nayra sadari, ada seorang pria yang sedari tadi mengikutinya mulai dari ia pulang sekolah hingga ia sampai di rumahnya. Pria itu mengikuti Nayra karena penasaran dengan gadis cantik yang memiliki mata coklat itu.

***

Keesokkan harinya, Nayra bangun pagi untuk berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat ke sekolah, Nayra menyantap sarapan pagi yang telah disiapkan oleh Mbok Siti. Mbok Siti juga menyiapkan bekal untuk Nayra bawa ke sekolah.

"Mbok, Nayra berangkat ke sekolah ya?" ujar Nayra setelah menghabiskan sarapan paginya sembari mencium punggung tangan Mbok Siti, kemudian berlalu menuju mobil.

"Iya non, hati-hati di jalan. Yang rajin ya belajarnya non." teriak Mbok Siti saat Nayra sudah berada di dalam mobil, yang mulai begerak keluar dari perkarangan rumah.

Street In My LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang