Chapter 3

99 77 52

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra, 17 : 32)

*****

Setelah Iqbal dan Syahid pamit pulang, Adam menuju ke kamar Adiknya.

"Din," ujar Adam menghampiri Dinda yang terbaring di kasurnya sambil mengutik ponselnya. Gadis itu menoleh sekilas.

"Ada apa kak?" tanya Dinda tanpa beralih dari ponselnya.

Terdengar helaan napas kasar dari Adam, "Din, besok kakak harus ke Bandung soalnya perusahaan ayah yang di sana ada masalah."

Dinda bangun dari tidurnya lalu duduk menghadap ke arah kakaknya dan mengernyit bingung,"lah, kak kan sudah ada om Beni yang ngurus, lagipula kakak kan masih SMA?"tutur Dinda.

"Iya, makanya itu. Om Beni nyuruh kakak belajar."

"Sekolah kakak gimana?" tanya Dinda

"Izin."

" Oh gitu ya kak, yasudah. Kalo gitu kak Adam kapan berangkatnya?

"Lusa."
"Di sana kakak hanya tiga hari, gapapa kan Din,?" lanjut Adam dengan raut wajah khawatir jika ia meninggalkan Dinda.

"Gapapa ka, kan ada pak Jono sama Bi Nori. Kakak gak usah khawatir."

"Baiklah, yaudah kakak ke kamar. Jangan main handphone terus Din. Baca Al- Qur'an lebih baik, jangan lupakan untuk mengaji." Nasehat Adam pada Dinda.

"Iya kak, tadi Dinda sudah mengaji ko." jawabnya.

Setelah Adam keluar kamar, Dinda menaro ponselnya di atas meja belajarnya dan kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya untuk istirahat sejenak.

***

Keesokan harinya, pagi yang begitu cerah. Membuat semua orang melakukan aktivitas seperti biasanya. Dinda yang sudah berada di sekolah memilih untuk ke perpustakaan karena jam masuk sekolah masih sekitar 30 menit lagi. Saat Dinda menyelusuri rak-rak buku mencari buku yang ingin ia baca tidak sengaja arah matanya menangkap seseorang yang ia kagumi dari awal masuk sekolah ini seniornya yang tak lain adalah Syahid.

"Astagfirullah, zina mata. Jika ia jodohku ya Allah maka dekatkanlah." gumam Dinda memalingkan wajahnya. Setelah itu ia kembali mencari buku.

Setelah mengambil buku itu Dinda mencari tempat duduk lalu membacanya dengan serius tak lama kemudian terdengar geseran sebuah kursi di depannya. Dinda mendongak seketika menahan nafas di depannya adalah Syahid.

"Assalamu'alaikum," salam Syahid.

"Wa'alaikum salam" balasnya.

"Boleh saya duduk di sini?" ujar pria itu kepada Dinda.

"Iya silahkan." jawab Dinda.

"Rian! Sini!" panggil Syahid kepada temannya.

Lalu pria yang bernama Rian pun menghampiri mereka dan duduk di samping Syahid.

Sedangkan Dinda acuh.

Dan kemudian tak ada lagi percakapan di antara keduanya karena mereka hanyut dengan membaca buku. Hanya ada keheningan yang menerpa mereka, lagipula ini di perpustakaan di larang berisik atau mengobrol jika bukan kerja kelompok atau bahas sebuah tugas.

20 menit berlalu, Dinda mengakhiri membacanya. Ia berdiri sebelum berlalu Dinda pamit kepada Syahid tak lupa memberi salam.

Sepanjang perjalanan menuju kelas tak henti-hentinya Dinda tersenyum.

Syahid adalah pemuda yang baik, sopan, ramah kepada semua orang. Dinda sudah lama menyimpan perasaan pada cowo itu.

Saat sampai kelas Dinda langsung ke duduk di tempat kursinya. Tak lupa memberi salam kepada sahabatnya.

"Anya lagi apa?" tanya Dinda pada gadis itu yang sedang mengutik ponselnya seperti sedang bertukar pesan pada seseorang.

Bukannya Dinda kepo hanya saja sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, jika sampai salah satu guru melihat ada siswa-siswi yang membawa handphone sudah di pastikan akan terkena razia dan tidak bisa di ambil kembali jika bukan orang tua yang datang mengambilnya, merepotkan bukan. Tapi itu sudah ketentuan dan aturan sekolah.

"Lagi balas chatt teman." jawabnya.

"Anya udah nanti lagi, kalo ketauan gawat loh." tegur Dinda mengingatkan Anya.

Anya kemudian menaro ponselnya di dalam tas setelah itu ia menghadap Dinda dan berujar, "lo tau gak Din, tetangga gua lagi deketin ka Syahid." ucapnya.

Dinda bingung,"lalu?"

"Ish polos banget sih Din, ya dia berusaha deketin Syahid dan teman gue dengan beraninya mengatakan perasaannya dan nembak ka Syahid, ya ampun gak ada malunya banget kan, terus lo tebak deh selanjutnya apa?"

"Hem, penolakan. Maybe? Ujar Dinda.

"Yups, Ka Syahid bilang gini ke teman gue itu, terima kasih sudah menyukai saya, dan maaf saya tidak bisa menerima karena saya tidak berminat untuk berpacaran. Sebab hal yang sangat tidak di sukai oleh Allah adalah mereka yang berpacaran sebelum sah. Duh perkataannya bikin gue campur aduk Din. Oya cocok tuh sama lu," celoteh Anya.

"Benar," balas Dinda singkat.

Anya mengerutkan dahinya bertanda bingung, "benar apa? Benar cocok sama lo. Haha," goda Anya.

"Ihh maksud aku tuh benar soal pacaran yang tidak di sukai oleh Allah," jawab Dinda.

"Hem, iya sih. Tapi kan kita seenggaknya tau batasan."

Tak lama kemudian bel berbunyi, dan masuklah seseorang guru yang akan mengajar.

Di lain tempat, seorang pemuda sedang mencatat apa yang guru jelaskan dengan serius dan mengacuhkan teman sebangkunya yang dari tadi berceloteh berbicara tentang pacarnya yang sangat manja. Daripada mendengarkan temannya yang mengeluh lebih baik ia mencatat.

"Lo dengerin gua enggak sih?"ucap Dimas.

" Dim, daripada lo ngoceh gak jelas mending catat tuh. Ini waktunya belajar."Tegur Syahid tanpa beralih dari bukunya.

"Kasih saran gua dulu,"

Sejenak Syahid menghentikan aktivitas menulisnya, " Putus! Lebih baik karena Allah tidak suka dengan orang yang berpacaran kalo lo mau pacaran mending nikah dulu."Nasihat Syahid.

Dimas yang mendengar hanya mencibir selalu begitu jika ia minta saran pada teman sebangkunya ini.

Banyak sekali perempuan yang secara terang-terangan mendekati Syahid tapi cowo itu tampak acuh malah ia pernah berapa kali menegur dan menasehati perempuan yang selalu mendekatinya.

"Emang lo gak mau punya pacar?" tanya Dimas sambil menulis catatanya.

"Mau, tapi sama istri gua kelak nanti. Karena berpacaran sudah menikah itu lebih halal." Jawab pria itu mantap.

"Yaudah lo nikah gih,"

Syahid tak menjawab perkataan Dimas. Ia terdiam dan malah teringat wajah Dinda yang tersenyum kepadanya.
Kenapa jantungnya berdegup cepat.

"Astagfirullah aladzim, maafkan hamba ya Allah." gumam Syahid yang masih dapat di dengar oleh Dimas.

"Kenapa lo?" tanyanya.

Syahid mengangkat bahu acuh dan melanjutkan menulis catatan yang belum terselesaikan.

🌸🌸🌸🌸🌸

Maklumi jika typo bersebaran.
Masih amatiran.

Instagram : @sarahspni

Salam hangat, syaa:)

The Light Of Allah's LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang