Pesta Kostum

12 2 0

Ben tak pernah suka keramaian semacam pesta.

Berisik, terlalu banyak orang dan membuang waktu. Ia benci pesta setara dengan kebenciannya terhadap kucing. Tunggu, mengapa tiba-tiba membahas kucing?

Karena di dalam ballroom itu banyak orang berkostum kucing!

Ini memang pesta kostum. Di mana setiap undangan diwajibkan memakai kostum yang berbeda dari kostum yang biasa dikenakan untuk menghadiri sebuah pesta.

Tapi mengapa mereka memilih memakai telinga kucing, sarung tangan bentuk kaki kucing, kalung kucing bahkan ekor pun ikut ditempelkan di bokong mereka! Apa tidak ada kostum lain? Seperti yang ia kenakan misalnya.

Ben menggunakan kostum ala vampir yang banyak digambarkan dalam film. Serba hitam dan memiliki jubah panjang. Tidak ketinggalan gigi taring yang bertengger memanjang di kedua sisi mulutnya.

Terlalu mainstream? Biar saja.

Lihat? Dirinya saja sangat pintar memilih kostum. Lalu mengapa harus kucing?!

Oke, lupakan saja soal kucing. Ini bukan lagi zamannya penjajahan, mereka bebas mau melakukan apa pun yang mereka inginkan.

Kembali ke permasalahan utama. Kalau Ben tak suka, lantas mengapa ia repot-repot menghadiri pesta kostum itu?

Karena Becca mengancam akan memotong 'anuku' kalau tidak hadir di pesta ulang tahunnya!

Ah, itu ancaman yang lumayan... ampuh, Ben.

Becca adalah salah satu sepupunya. Seorang gadis remaja yang hari itu merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas. Yeah, sweet seventeen. Tidak heran jika Ben sampai diancam seperti itu.

Alasan lainnya adalah, Ben dan Becca tinggal di apartemen yang sama. Bersama kakak lelaki Becca yang kini sedang menemani gadis itu memotong kue setinggi satu meter. Tentu saja Ben tidak sudi berada di sana. Ia lebih memilih bersembunyi di salah satu sudut. Sambil memegang gelas berisi anggur, oh bukan, hanya jus. Mana mungkin ada anggur di dalam pesta ulang tahun seorang gadis.

Ben masih berdiri di sana ketika orang-orang mulai berdansa. Si lelaki akan memeluk pinggang si gadis, kemudian memutarnya hingga pingsan. Ah, mungkin tidak sampai pingsan juga. Yang jelas, Ben tidak tertarik melakukannya.

Gadis-gadis yang menjadi tamu undangan memang berasal dari kalangan menengah ke atas, tetapi dunia pun sudah tahu kalau Ben lebih tertarik pada gadis 'biasa' bertampang manis. Semanis gadis yang sedang diamatinya.

Ya, gadis di seberang ruangan itu. Yang sedang membalas tatapannya. Yang sedang membalas senyumnya.

Bibir tipis, tubuh tinggi semampai dan jari lentiknya telah sukses membuat hati Ben meleleh seperti lilin aromaterapi.

Sebenarnya mereka bersekolah di tempat yang sama. Dan ditingkat yang sama pula. Mereka juga saling mengenal tetapi tidak terlalu dekat. Ben bukan bajingan. Ia tidak pernah melirik orang lain kalau ia memiliki pacar. Itu yang membuatnya tidak bisa mendekati gadis idamannya.

Tapi sekarang aku sudah lajang.

Kemudian... tahu-tahu Ben sudah menggerakkan kakinya.

Bruk!

Yang benar saja! Ini bukan FTV. Ben tidak butuh adegan bertabrakan yang dramatis seperti itu. "Sorry," ucap si penabrak yang berjenis kelamin sama dengan dirinya.

"It's okay." Itu hanya basa-basi. Dalam hati, Ben menyumpahi orang di depannya. Ia juga tidak berlama-lama berdiri di sana.

"Tunggu!"

This Gift is a CurseBaca cerita ini secara GRATIS!