Chapter 2

113 91 73

Beberapa menit yang lalu bel pulang sekolah sudah berbunyi, kini Dinda dan Ziza sedang berada di gerbang sekolah menunggu Adam yang akan menjemput mereka. Tak lama kemudian terdengarlah bunyi klakson mobil dan berhenti di depan mereka, lalu turunlah pria tampan dengan seragam sekolah yang berbeda dari kedua gadis tersebut.

"Maaf nunggu lama." kata Adam yang sudah berada di hadapan ke dua gadis yang ia sayangi.

"Gapapa ko kak." ujar Dinda tersenyum.
Adam mengacak puncak rambut Dinda gemas. Lalu ia menoleh ke Ziza menatap kekasihnya yang sedang cemberut.

"Lama!" cetus Ziza dan memalingkan wajahnya ke samping.

Adam mendekati Ziza lalu menangkup kedua pipinya dan menatap tepat ke arah matanya.

"Maaf, jangan marah. Yuk pulang." setelah berujar Adam mengecup kening Ziza kilat hingga gadis itu terdiam sesaat mendapatkan perlakuan dari Adam yang tidak terduga. Pipinya merah merona dan ia sangat malu bagaimana tidak Adam menciumnya di tempat umum.

Sedangkan Dinda sudah terlebih dahulu memasuki mobil.

"Ayo!" ajak Adam mengandeng tangan Ziza lalu membukakan pintu mobil mempersilahkan Ziza duduk, lalu ia berjalan memasuki pintu mobil mengemudi dan sesaat berlaju dengan kecepatan rata-rata.

Dinda yang duduk di belakang hanya acuh dan membaca novel yang beberapa jam lalu ia pinjam di perpustakaan sekolah.

"Din, ayah sama bunda keluar kota paling lama seminggu tadi bunda mengabari kakak. Katanya handphone kamu tidak aktif," ujar Adam yang tetap fokus mengendarai.

"Ah iya ka, baterai ponselku habis." balas Dinda.

Dan terjadi kembali keheningan menyelimuti ketiga manusia yang berada di mobil itu.

"Za nanti malam jalan yuk" tutur Adam pada gadisnya. Ziza hanya bergumam saja.

"Jam 7 malam aku jemput ya"

"Iya, awas aja kalo telat. Kita putus!" jawab Ziza tegas.

Adam mendengkus kesal lagi- lagi ancamannya selalu putus. Jika bukan orang yang ia cintai sudah di pastikan Adam akan membogemnya karena selalu membuatnya kesal tiada henti memancing emosinya saja.

Setelah mereka mengantarkan Ziza sampai rumahnya, Adam dan Dinda terlebih dahulu mampir ke sebuah toko kue untuk membeli bolu yang di inginkan oleh Dinda setelah itu barulah mereka pulang.

"Huh, capenya" tutur Adam menghempas ke sofa.

Sedangkan Dinda sudah berlalu ke dapur untuk menaruh bolu kemudian ke kamarnya.

Deringan ponsel berbunyi, Adam mengangkat panggilan dari sahabatnya yang bernama Iqbal.

"Ada apa bro?" tanya Adam

"Gua mau otw nih ke rumah lo sama teman gua itu,"

"Oke."

Sambungan teleponpun terputus, Adam beranjak dari duduknya dan melenggang pergi menuju kamarnya untuk mengganti baju.

Saat ia melewati kamar Dinda, ia menengok dan melihat Dinda yang sedang rebahan di kasur sambil membaca novel.

"Dek, kalo udah pulang tuh langsung ganti baju" ujar Adam.
Dinda melirik kakaknya itu lalu berdehem.

"Yasudah, oya nanti teman kakak mau ke sini. Kakak minta tolong nanti buatin minuman ya" pinta Adam pada adiknya.

Dinda terbangun dari rebahannya lalu menatap Adam, "iya kak, masih lama kan?" tanya Dinda.

"Mereka lagi otw," balas Adam.

Dinda hanya menganggukan kepala lalu Adam kembali berjalan menuju kamarnya.

The Light Of Allah's LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang