Chapter 2

393 303 470

"Nay lo tau ngga?"

"Ngga!" potong Nayra. Alhasil membuat Keysa kesal.

"Lo mah gitu, gue belom siap ngomong lo udah main potong aja! Pas gue ngomong panjang kali lebar, lo gak dengarin gue!" celoteh Keysa. Nayra sama sekali tidak menggubris celotehan Keysa, ia hanya melihat kearah Keysa sebentar, lalu merapikan bukunya yang berserakan.

"Issh NAYRA! Gue serius," ucap Keysa sedikit meninggi.

Setelah selesai merapikan buku, Nayra melihat kearah Keysa yang diam sembari memajukan bibirnya. Terlihat jelas raut kekesalan di wajah Keysa. Tapi, siapa juga yang tidak kesal melihat tingkah laku Nayra yang menyebalkan?

"Yaudah mau ngomong apa?"  tanya Nayra.

  Keysa mengambil nafas dalam-dalam untuk menetralkan amarahnya. Untung saja Nayra adalah sahabatnya, jika tidak? Mungkin ia tidak tau apa yang akan ia lakukan terhadap orang yang memiliki sifat seperti Nayra.

"Tadi, waktu istirahat kedua gue perhatiin si Andre, ngelihatin lo terus. Lo ngga ngerasa gitu lagi dilihatin cowok ganteng?" ucap Keysa seraya berbisik dan menaik-turunkan kedua alis matanya.

"Andre? Siapa? Gue gak kenal," jawab Nayra sembari menyerngit bingung.

"Itu loh, si Andre kapten basket sekolah kita, masa lo gak kenal?" ujar Keysa mencoba menjelaskan.

"Taukk ahh, gue mau pulang," balas Nayra kesal, karena Keysa membahas tentang orang yang sama sekali tidak ia kenal. Padahal Keysa sudah tau bahwasanya, Nayra orangnya tertutup dan tidak terlalu memikirkan hal-hal yang berada disekitarnya. Jangankan mengenal Andre, nama teman-teman sekelasnya saja, ia tidak ingat kalo ditanya satu-satu.

"Ha! Emang udah bunyi bel pulang?" ujar Keysa terkejut. Keysa melihat sekeliling kelas, ternyata sepi. Hanya beberapa siswa yang sedang merapikan peralatan sekolahnya. Bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu, dan Keysa tidak menyadarinya.

"Makanya, telinga tuh dipakek!" ucap Nayra sembari berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan meninggalkan Keysa yang sedang merapikan alat tulisnya.

"Ehh Nay, tungguin napa!" teriak Keysa sembari berlari mengejar Nayra yang sudah berada di depan pintu kelas.

"Nayra, lo pulang sama siapa? Mau bareng gue gak?" tanya Keysa setelah berada didepan gerbang sekolah.

"Gak deh, gue mau ke suatu tempat dulu baru pulang," jawab Nayra.

"Yaudah gue duluan ya? Hati-hati loh," ujar Keysa, lalu berjalan menuju mobil yang berada tak jauh dari gerbang sekolah.

"Byee Nayra!" kata Keysa setelah berada didalam mobil sembari melambaikan sebelah tangannya.

"Bye" balas Nayra.

Nayra mengambil hp android yang berada didalam sakunya, dan menelfon Kang Dendi. Kang Dendi merupakan seorang pria paruh baya yang selalu setia mengantar dan menjemput Nayra ke sekolah.

Tujuan Nayra menelfon Kang Dendi yakni, untuk memberitahukan kepada Kang Dendi, bahwasanya kang Dendi tidak perlu menjemput Nayra di sekolah. Karena Nayra akan pergi ke suatu tempat sendiri.

Setelah selesai menelfon kang Dendi, Nayra memesan taksi online melalui hp androidnya. Beberapa lama kemudian, akhirnya taksi pesanan Nayra datang. Nayra duduk dibelakang supir dan langsung memberi alamat tujuannya kepada supir taksi tersebut.

***

"Terimakasih pak" ujar Nayra kepada supir taksi setibanya ia di tempat tujuan. Ia memberikan selembar uang bewarna merah kepada supir taksi tersebut.

"Iya mbak sama-sama." balas supir taksi sembari mengambil uang yang diberikan Nayra dan berlalu pergi.

Nayra berjalan menyelusuri taman. Setelah beberapa lama Nayra berjalan, akhirnya ia sampai ditepi danau. Nayra duduk di kursi panjang yang berada ditepi danau seperti biasanya. Nayra selalu datang mengunjungi danau, ketika ia memiliki banyak waktu luang dan ketika hatinya lagi tidak baik.

Danau ini adalah tempat favorite Nayra. Bukan hanya karena pemandangannya yang asri, bagi Nayra  danau ini adalah tempat yang menyimpan beribu kenangan indah Nayra dengan seseorang yang kini ia rindukan.

***
Siapa yang salama ini Nayra rindukan? Kenangan apa saja yang ia rindukan? Apa yang membuat Nayra kehilangan orang tersebut?

Hoho Chapter 2 selesai
Mohon maaf bila banyak kesalahan dan kata yang susah dipahami.

Tinggalkan jejak:)

Street In My LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang