Part 1

98.4K 851 6

Lonely Sexy Woman
Ditulis oleh Lula Olivia Tantono
a.k.a Lolita
© 2019 Lula Olivia Tantono

20.05.2019

Satu kata yang mampu mendiskripsikan suasana penthouse-ku saat ini. Sepi. Selalu seperti ini setiap harinya, berlangsung sepanjang tahun aku hanya menghabiskan waktu seorang diri. Tanpa keluarga, teman, apalagi… pasangan.

Mungkin orang lain akan merasa kesulitan menjalani kehidupan layaknya diriku. Awalnya aku merasa demikian, namun setelah luka dalam bekas pengkhianatan membuatku bertekat untuk menjalani kehidupan baruku ini. Hidup sendiri tanpa merasa cemas jika saja kembali terjadi pengkhianatan oleh orang yang aku percaya.

Menurut mereka wajahku begitu cantik. Penampilanku pun selalu terlihat menarik. Namun bukan semua itu yang bisa aku banggakan. Aku memiliki kecerdasan yang patut aku syukuri. Memilikinya aku merasa lebih unggul dari kebanyakan pria. Aku merasa mudah meraih kesuksesan, memiliki banyak materi untukku bisa membeli apapun yang aku inginkan. Terutama pria. Aku bisa membeli mereka.

Ini bukan sekedar karena aku membutuhkan kehangatan dari seorang pria. Aku perlu memenuhi kebutuhan seksualku, namun aku lebih ingin untuk menundukkan para pria di bawah kakiku. Aku membayar mereka, lalu aku mempermainkannya dengan permainan di atas ranjang. Aku merasa terpuaskan, namun jangan harap sebagai lawan bisa mendapatkan seperti apa yang aku rasakan.

Pekerjaan kantor membuatku merasa penat. Kesibukan beberapa hari ini membuatku tak sempat hanya untuk menunggangi penis pria yang aku inginkan. Aku sudah memesan gigolo dari seorang mucikari kepercayaanku untuk malam ini, namun masih ada satu rapat lagi yang harus aku selesaikan secepatnya.

“Dia sudah tiba, Bu.” ucap sekretaisku yang datang tiba-tiba ke ruangan, menyadarkanku dari lamunan.

“Perkenankan beliau menemuiku di ruangan ini! Aku ingin lemon tea. Jangan lupa siapkan juga untuknya!” Perintahku.

“Baik, Bu.”

Aku bersiap. Memperbaiki penampilanku untuk menyambut tamu kehormatanku beberapa saat lagi. Dia investor terbesar di perusahaan milikku. Victoria Enterprise, perusahaan multimedia yang aku beli dan aku kembangkan seorang diri. Aku menamainya Victoria, nama kecil ibuku yang telah tiada 15 tahun yang lalu.

“Olivia.”

“Tuan Petterson. Apa kabar Anda hari ini?” sapaku seraya menjabat tangannya.

“Aku harap bisa pulang lebih awal hari ini, namun ternyata masih ada janji untuk bertemu denganmu. Aku baik-baik saja sebelum terjebak macet di 5th Avenue.”

“Terimakasih telah menyempatkan waktu untuk datang kemari menemuiku. Aku menyayangkan bahwa Anda harus terjebak macet. Seharusnya aku sudah memikirkannya ketika meminta Anda di waktu sore ini untuk datang kemari.”

“Tidak masalah. Letak kantormu searah dengan jalur kepulanganku. Aku lebih menghargaimu karena telah bersabar menungguku selama beberapa minggu lamanya. Aku sudah menerima proposal yang kau kirimkan. Dan aku akan mendukung penuh semua ide brilianmu itu.”

Mendengar ucapannya membuat senyum tulusku merekah. Tiga tahun telah mengenal sosoknya, membuatku semakin mengagumi sikap bijaknya. Dia begitu menghargai kerja kerasku, memujiku tulus dan selalu mendukung sepenuh hati. Andai saja ayahku… bisa bersikap seperti Tuan Peterson.

“Sungguh?”

“Apa kau pikir aku akan bercanda untuk hal seperti ini, Olivia?”

Aku menggeleng cepat. “Anda memang suka bercanda, Tuan Peterson. Tapi sepertinya untuk kali ini Anda benar-benar serius mengatakannya. Terimakasih banyak untuk semua dukungannya. Anda begitu membantu saya selama 3 tahun terakhir ini. Aku harap kerjasama kita bisa terus berlanjut.”

“Sudah lama aku menggeluti dunia bisnis ini, Olivia. Aku tidak mungkin sembarangan menginvestasikan uangku. Kau wanita yang sangat cerdas. Ide brilianmu tidak pernah mengecewakanku. Aku akan selalu mendukung penuh selama cara kerjamu tidak menyimpang dengan visi kerjasama yang kita sepakati.”

Perasaanku memuncah. Hatiku bersorak gembira karena berhasil membuatnya percaya. Aku tidak akan mengecewakannya. Semua kebaikan beliau telah membantuku bisa sampai berada di titik ini.

“Terimakasih banyak, Tuan Peterson. Aku tidak akan mengecewakanmu. Kau tidak akan menyesal telah menanamkan banyak modal di perusahaanku.”

“Jika kau benar-benar ingin berterimakasih, datanglah ke rumah kami malam ini. Istriku pasti senang melihatmu. Aku akan mengenalkanmu pada putraku. Dia tidak kalah tampan dariku.”

Seketika aku terbahak. “Kapan kau akan berhenti mencoba menjodohkanku dengan putramu, Tuan Peterson?”

“Sampai kau bersedia menjadi menantuku.”

“Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak tertarik dengan pernikahan. Terimakasih telah berpikir bahwa aku layak menjadi menantu di keluarga Anda.”

“Tapi kau benar-benar layak, Olivia. Datanglah untuk makan malam di rumah kami.”

“Maafkan aku. Malam ini aku sudah ada janji. Mungkin lain kali akan aku usahakan menerima undangan makan malam dari Anda.”

Aku tak tega menolak undangannya, namun aku benar-benar tidak bisa dan tak ingin kembali terjebak dalam suatu hubungan. Tuan Peterson berharap banyak padaku untuk bisa menjadi menantunya. Sebelum sampai putranya benar-benar tertarik padaku, alangkah lebih baik untuk menjauh lebih dulu dan menghindari kemungkinan yang tidak aku inginkan.

“Baiklah. Aku tidak bisa memaksamu, Olivia. Datanglah jika kau memang menginginkannya. Aku pamit. Aku sudah berjanji pada istriku untuk pulang lebih awal hari ini.”

Aku langsung berdiri dan mengantar kepulangan Tuan Peterson seraya berkata, “Bahagia mendengar keharmonisan antara Anda dengan Nyonya. Hati-hati di jalan, Tuan Peterson. Titip salamku untuk istrimu.”

“Pernikahan tidak seburuk yang kau bayangkan, Olivia. Untuk saat ini mungkin kau memang belum membuka hatimu, namun aku berdoa dan berharap suatu saat pikiranmu bisa terbuka mengenai pernikahan. Kau tidak bisa selalu sendiri. Kau membutuhkan seseorang untuk mengisi dan menemani masa tuamu nanti.”

“Terimakasih untuk nasihatnya. Ini bukti betapa Anda begitu menaruh perhatian kepadaku. Kau bersikap melebihi apa yang ayah kandungku lakukan, Tuan Peterson.” ucapku menggodanya.

“Kau sudah seperti putriku sendiri. Karenanya aku selalu berharap yang terbaik untukmu. Aku pergi.” Pamit Tuan Peterson untuk yang terakhir kalinya.

Kepergiaannya membuatku menghela napas lega. Topik perbincangan ini telah membuat dadaku merasa sesak. Aku pernah akan menikah, namun belum sampai itu terjadi pasanganku memilih meninggalkanku demi wanita lainnya. Wanita yang tidak lain adalah adik tiriku sendiri.

Luka yang ditorehkannya begitu membekas di hatiku. Setelah bertahun-tahun lamanya kami menjalin kasih, ketika pernikahan itu akan terjadi dia justru mengkhianatiku. Sungguh menyakitkan, membuatku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa bangkit kembali.

Namun ketika aku telah berhasil melewatinya, hati terdalamku berjanji tak ingin lagi terluka untuk yang kedua kalinya. Karenanya aku memutuskan dan bertekat, bahwa aku akan hidup sendiri untuk selamanya. Tanpa pasangan yang memungkinkan untuk kembali menorehkan luka yang serupa. Mungkin inilah yang dinamakan dengan… trauma.

tbc

Naskah lengkap dari cerita ini sudah tersedia dalam bentuk ebook yang bisa kalian dapatkan di google playstore. Harga hanya 9.900 rupiah, dan ada juga versi harga 41.250. Kedua versi ebook dengan harga berbeda tersebut memiliki isi naskah yang sama. Kenapa harganya berbeda? Karena harga 41.250 aku peruntukan bagi kalian yang memiliki kredit potongan harga dari google. Potongan harga 40.000 rupiah membuatmu bisa mendapatkan ebook ini hanya dengan perlu membayar 1.250 rupiah. Murah meriah bukan?

Link pembelian ebook Lolita tersedia di Bio profil wattpad ini. Tetap bersama Lolita untuk mendapatkan update cerita baru setiap minggunya. Jangan lupa follow akun ini terlebih dulu, klik bintang di pojok kiri ponselmu, lalu share ke teman mesum lainnya. Mohon kesadarannya untuk tidak melanjutkan membaca cerita ini jika masih di bawah umur. Terimakasih, salam mesum dari Lolita.

Lonely Sexy Woman #3 [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang