dua belas

26 7 0

Gion mengedarkan pandangannya, dasar si Fiona. Gara-gara gadis itu, Gion harus meninggalkan kasur king size nya hanya untuk mengantarkan buku bersampul merah yang sekarang ada di tangannya.

Beruntung sekali Gion memang sedang libur, dan berbaik hati --- bisa saja tadi dia berpura-pura tidak mendengar handphone itu berdering atau menolak permintaan gadis itu.

Oh tidak, sebenarnya dia pun tidak bisa menolak. Bagaimana bisa dia menolak saat Fiona memberikan bayaran yang bisa menyembuhkan pria itu dari sesuatu.

Rasa penasarannya mengenai seseorang, lebih tepatnya masa lalu Mutiara. Gadis satu satunya yang mampu mengacak-acak isi hati Gion. Cantik? Maka jawab Gion 100% iya.

Tapi masa lalu gadis itu,
Gion juga ingin tahu seperti apa dulu gadis itu menjalani hidupnya.

* * *

"Thanks banget, banget, banget, Gion" senang Fiona sembari mencium sampul bukunya berulang kali. Gion yang melihat pemandangan itu hanya bisa bergidik ngeri dengan sifat aneh Fiona.

Kok bisa ya aku punya temen kayak dia? Aneh gini orangnya, bisa pula pacaran sama Dirga. Omel Gion dalam hatinya.

"Gak usah mikir yang aneh-aneh, lu juga lebih aneh dari gue" sarkas Fiona yang seakan tau apa yang sedang di pikirkan Gion.

Sontak Gion di buat kaget, dan hanya bisa cengengesan di depan Fiona.

"Nah sekarang untung Lo!" Ucap Gion.

"Iya bawel. Emang lu suka amat ya sama Mutiara?"

* * *

"Jadi ? Masih mau gimana lagi, kan aku udah jelasin semuanya." Ucap Fiona sembari memasukkan sandwich buatannya ke dalam mulut.

"Hanya saja. Aku sedikit kaget dengan kenyataan itu" mata Gion menerawang ke langit. Sebuah fakta yang baru saja di ceritakan Fiona mengenai gadis pujaannya itu, seakan hanyalah sebuah dongeng fantasi.

Tapi itu nyata, pantas saja Mutiara selalu tampak murung, pikir Gion. Pantas juga Dirga gak pernah mau bahas keluarga Mutiara bahkan sekalipun tidak ada Mutiara disitu. Pasti itu adalah pukulan keras bagi Mutiara dan keluarganya.

Ah, bukannya kepala Gion membaik, malah kebalikannya dia semakin pusing. Hidup di sebuah alur cerita yang rumit itu berbeda rasanya dengan yang Gion rasakan. Mau pergi kesana kemari, suka-sukanya Gion.

"Haa...pasti lelah ya." Gumam Gion dengan suara kecil.

Matanya kembali menerawang sekitar hingga atensinya jatuh pada seorang gadis. Siapa lagi kalau bukan Mutiara. Entah perintah dari siapa kakinya terangkat begitu saja, melangkahkan mendekati gadis yang sedang tertawa bersama seorang pria di sebelahnya.

Siapa? Batin Gion.

"Gion? Kok disini?" Ucap Mutiara saat melihat ke arah Gion.

Gion tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Enggak, cuma nganterin buku Fiona yang ketinggalan." Jawab Gion. Tetapi matanya malah teralihkan untuk melihat pria di samping Mutiara.

Sepertinya Gion mengenal pria itu, tapi dimana dan kapan, Gion lupa.

"Kak, aku pergi dulu ya cari kelas ku." Ucap pria itu.

LonelyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang