Tetes Air 5: Cemburunya Membuatku Mencinta (Bagian 2/ Tamat)

19 1 0

Daftar Istilah :

[Jayyid : Nilai maksimal dalam ujian hafalan]

[Muhafadzoh Kubro : Ujian hafalan yang diagendakan setiap akhir tahunajaran sebagai syarat mengikuti UAS tulis]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"Kalian boleh duduk. Saya tidak akan memberikan ta'ziran lagi. Ini tahun terakhir saya mengajar di sini karena saya harus mengajar di tempat lain yang cukup jauh." Mendengar hal itu, kami bertatapan satu sama lain. Lima detik. Kembali ta'dzim mendengarkan kalimat apa yang hendak ustadz Ali katakan selanjutnya. Dengan wajah protes terpampang, kami tak ingin beliau meninggalkan kami sebelum kami lulus.

"Jadi, saya hanya ingin memberikan yang terbaik di saat terakhir ini. Saya benar-benar ingin kalian mendapat jayyid saat muhafadzoh kubro nanti, sehingga tahun depan hanya tinggal 500 bait lagi agar bisa ikut Festival 1002 Bait Alfiyah." Beliau menundukkan kepalanya, tidak lagi menatap kami. Kami masih diam. Bungkam. Benar, tak ada guru yang menginginkan anak didiknya gagal. Ta'ziran merupakan salah satu bentuk kasih sayang beliau. Mulai saat itu, aku membulatkan tekad. Aku harus lancar 500 bait agar dapat jayyid.

Sisa waktuku menjelang muhafadzoh tak banyak. Maka, aku segera membuat target-target kecil, menambah 5 bait setiap harinya. Tak banyak memang. Namun, kegiatan pesanten yang cukup padat membuatku benar-benar memutar otak untuk mencari waktu hafalan. Detik ini dan seterusnya, nadzom alfiyah selalu kubawa kemana pun.

Setiap hari benar-benar kumanfaatkan untuk menambah dan memperlancar hafalan. Saat menunggu giiliran mendapat jatah makan, mengantri kamar mandi, bahkan saat berjalan. Jam tidurku yang normalnya hanya 5 jam, aku relakan dua jamnya untuk alfiyah setiap malamnya. Kalian bertanya apakah aku lelah? Aku sudah melupakan kata itu, tak ada lagi kata lelah dalam perjuangan ini. Tak jarang pula aku tertidur di luar kamar saat menghafal di tempat favoritku—di samping jemuran handuk.

Semua itu hanya seputar waktu, kali ini aku bicarakan betapa sulitnya menambah hafalan di setiap baitnya. "Susah didapatkan namun mudah sekali hilang" mungkin itu kalimat yang sangat tepat untuk menggambarkannya.

Bahkan, Ustadz Ali pernah mengingatkan bahwa "Hati-hati saat menghafal alfiyah". Saat itu, kami hanya diam, tak faham maksud kalimat beliau itu. "Alfiyah sangat mudah cemburu" Bertambahlah kebingungan kami mendengar kalimat kedua Ustadz Ali. Namun, saat ini aku faham apa arti 'cemburu' pada kalimat beliau. Ketika aku telah masuk ke dalam dunia Alfiyah yang sesungguhnya, semua kalimat beliau nampak nyata.

Membiasakan lidah untukmengucapkannya saja membutuhkan waktu yang lama, apalagi ketika menghafal.Ketika menghafal bait baru, maka sedikit demi sedikit bait sebelumnya mulaiterlupakan. Oleh sebab itu, mengulang-ulang setiap bait sangat penting. Benar-benar pencemburu. Sebentar saja ditinggalkan, ia sudah meninggalkan lebih dulu. Semakin lama meninggalkan bait itu, maka semakin tak berbekas pula bahwa bait itu pernah dihafal.

Memasuki bab 'istighol', tugas tambahan organisasi dipercayakan kepadaku. Seketika itu juga kesibukanku bertambah dan otomatis waktu menghafalku berkurang. Hal itu sungguh membuatku putus asa. Karena aku benar-benar kehabisan waktu.

Keadaan menjadi semakin rumit ketika memasuki dua minggu terakhir. Aku jatuh sakit. Sebulan ini kupaksakan fisikku untuk terjaga setiap malam, waktu istirahat yang sangat sebentar membuat tubuhku protes. Jadilah di saat-saat terakhir aku tumbang. Mengalah. Biarlah tubuhku istirahat sebentar. Empat hari berjalan lambat. Aku menghabiskan waktu di atas kasur. Tidak masuk sekolah dan memperbanyak tidur. Hafalanku? Aku masih berhenti pada bait 450. Maka, pada 10 hari terakhir kugantungkan harapan terakhirku. Kembali mengumpulkan sisa-sisa semangat yang sempat lenyap.

Tetes Air Hujan (Kumpulan Cerpen)Read this story for FREE!