Tetes Air 5 : Cemburunya Membuatku Mencinta (Bagian 1/2)

22 1 0

Edisi spesial Romadhon :)

Sepenggal kisah yang terjadi di pesantren.

Perihal Alfiyah yang selalu menyisakan kenangan di hati kecil penghafalnya.

Selamat membaca...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 #   لاَ أَقْعُدُ الْجُبْنَ عَنِ الْهَيْجَاءِ

 وَلَوْ تَوَالَتْ زُمَرُ الأَعَدَاءِ 

"Tak akan aku berpangku tangan karena takut berperang, meskipun pasukan musuh datang bertubi-tubi." (alfiyyah : 302)

[Alfiyah : Kumpulan syair bahasa arab yang mempelajari tata bahsa (nahwu)]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penjara.

Satu kata yang terlintas dalam benakku. Lima menit berlalu, dan aku hanya diam terpaku di depan bangunan ini. Ya, bangunan yang semuanya didominasi oleh warna hijau. Dikelilingi pagar yang melebihi dua kali tinggi badanku membuat bangunan ini terlihat seperti 'penjara'. Benarkah orangtuaku mengirimku ke sini untuk belajar? Bukan memenjarakanku? Aku tak tahu.

Pagi itu, langit begitu cerah. Matahari tak sedikit pun malu untuk memancarkan sinarnya. Teriknya membuat peluh ini membasahi lipatan pada jilbab yang kukenakan. Tak kupedulikan sengatan matahari yang semakin panas, aku terus mengamati.

Bangunan ini berlantai tiga, dan lantai keempatnya hanya lapangan luas tanpa genting. Mungkin digunakan untuk tempat menjemur baju, pikirku. Dari luar hanya terlihat bagian belakang bangunan dengan jendela berkaca buram serta ventilasi kecil di atasnya.

Pintu gerbang berdiri kokoh dengan angkuhnya, semua tertutup dan hanya menyisakan setengah meter bagian berupa jeruji-jeruji untuk melihat dari dalam pagar ke luar ataupun sebaliknya. Dari jeruji-jeruji pagar itupun hanya terlihat sebuah rumah dengan taman kecil di depannya. Rumah pengasuh pesantren ini atau disebut dengan ndalem.

Suasana sejuk sangat terasa ketika memasuki gerbang pesantren ini, pepohonan tumbuh rimbun memayungi jalan yang kami lewati. Gemericik air terdengar dari kolam kecil yang berada di taman depan ndalem. Tepat disamping ndalem, ada gerbang yang berukuran cukup besar, dengan tulisan yang menempel "Area Asrama Putri, Selain Santri Putri dan Pengurus Dilarang Masuk". Kuperlambat langkahku untuk mengamatinya. Tak banyak yang bisa kuamati dari sini. Hanya terlihat lantai dua dengan ruangan-ruangan dan lantai tiga yang tertutup dinding seluruhnya.

Mulai hari ini, harus kubiasakan hidup jauh dari orangtua. Pendidikanku berlanjut ke pesantren yang berada di luar kota. Ya, orangtuaku menginginkan agar aku tak hanya belajar pelajaran umum, namun juga belajar ilmu agama dan juga Al-quran sebagaimana ciri khas dari pondok pesantren.

Saat itu, aku masih anak ingusan. Umurku baru 13 tahun, dan aku belum mengenal apa itu cinta.

***

"Aya, giliranmu maju." Nur menyenggol lenganku, sekaligus menyadarkan lamunanku.

"Eh iya, makasih." nyampe mana? Aku ngerjain nomor berapa? Aku menatap Nur, berharap ia paham dengan maksud tatapaku yang tanpa suara itu.

"Empat," jawabnya pendek.

"Soalnya halaman berapa?" Kali ini aku bertanya dengan suara sedikit berbisik agar Bu Ika tidak mendengar.

Tetes Air Hujan (Kumpulan Cerpen)Read this story for FREE!