Langit yang kokoh pun menangis

694 14 0


Hari berlangsung cepat, sejak subuh hingga sore hari. Arif berlarian dikejar waktu, menimbang antara ingin pulang kerumah untuk mandi dan sholat maghrib di masjid dekat rumah saja atau berdiam di pondok tempat ia mendedikasikan ilmunya. Sebenarnya hari ini dia tidak mesti pulang sesore ini, tetapi karena harus menggantikan salah satu Ustadz yang tidak hadir karena sedang sakit diare, jadilah ia yang membantu mengajarkan anak-anak tersebut.

Menimbang peluh yang sudah tidak sedikit jumlahnya, ia memilih untuk pulang kerumah.

"Masih keburu!" gumamnya setelah melihat jam tangan hadiah sang kakak sulung beberapa tahun yang lalau itu masih menunjukkan pukul 05.15 sore. Sebenarnya jarak rumah yang berada di jalan H. Kain dan pesantren tempat ia mengajar yang tidak begitu jauh serta perhitungan waktu yang masih masuk akal adalah alasan utamanya untuk pulang.

Ia bergegas, menghidupkan motor jenis Jupiter MX miliknya lalu berlalu dengan penuh kehati-hatian pulang menuju rumah.

^^^

Setelah makan malam, Arif langsung berbaring. Tubuhnya remuk redam serasa seperti anak SMA yang habis melakukan ujian fisik olahraga. Sebelum tidur ia membersihkan tubuhnya, mengambil wudhu kemudian sholat witir 3 rakaat. Setelah sholat ia mendoakan kebaikan untuk kedua orang tuanya, sangat panjang dan teratur. Seketika kenangan masa kecilnya seperti kembali, ia kembali menangis ketika teringat betapa sabar dan penuh kasihnya kedua orang tuanya mengasuh dan mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang ini.

"Ya Rabb pakaikanlah kedua orang tuaku jubah kemuliaan di jannahMu nanti dan naikkanlah tingkatannya ke Jannatul firdaus. Limpahkanlah kasih sayangMu kepada mereka seperti mereka melimpahkan begitu banyak cinta kepadaku sampai hari ini, Aamiin"

Lebih kurang begitu ia menutup pintanya kepada yang maha pengabul permintaan. Ia kembali berdzikir masing-masing 33 kali lebih kurang lima belas menit lamanya, kemudian merapihkan sajadahnya dan melipat kembali sarung yang ia kenakan. Ia menepuk-nepuk kasurnya dengan sapu lidi seraya berseru "Bismillahi Allahuakbar Allahuakbar" kemudian membaca doa sebelum tidur dan ayatul kursi.

Ia kemudian membaringkan tubuhnya, nyaman. Tak butuh waktu lama ia sudah tertidur lelap.

Ia tersentak, alarm di hp yang ia stel permanen berdering keras tepat pukul 03.30 pagi. Ia terbangun, setelah mengedip-ngedipkan mata 3 sampai 4 kali barulah ia berseru 'Alhamdulillah' kemudian dilanjutkan dengan membaca 'Alhamdulillah hiladzi ahyana ba'dama amatana wa ilaihin nushuur'. Ia merenggangkan jemarinya, duduk perlahan kemudian menggerak-gerakan kedua kakinya.

Ia berdiri, menghidupkan lampu kamar dan masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai dengan hajatnya ia kemudian mengambil air wudhu, biasanya ia langsung mandi, tetapi, cuaca terasa sangat dingin sampai menusuk kedalam bagian sum-sum terdalam. Ia hanya mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat tahajudnya. Cuaca yang dingin dan hujan yang deras menjadi teman akrabnya pagi itu.

Setelah selesai sholat, ia duduk diatas sajadah itu. melantunkan puji-pujian agung terhadap yang Maha penerima pujian melalui dzikirnya. Saat tengah berdzikir tiba-tiba ia teringat dengan kisah sajadah coklat yang tengah ia kenakan. Alangkah bahagianya ia jika dahulu mau menerima pinangan sang gadis saat ia memberikan sajadah itu kepadanya. Tapi, takdir berkata lain. Sang gadis asli Makassar telah dipinang oleh sahabatnya sendiri.

Ia menangis pilu, betapa tidak, saat ia benar menginginkan seorang istri, ia malah dihadapkan dengan kertas-kertas yang memiliki pasal-pasal didalamnya. Ia menangis, meminta dan mengiba kepada Rabbnya agar ditunjukan jalan kepadaNya. Ia menangis bersama ributnya hujan, yang turun dari langit yang kokoh.

....................................

Bismillah

Assalamu 'alaikum

Novel ini sudah tersedia bentuk PDF

yang mau boleh langsung DM atau Inbok

Insyaa Allah cerita akan dikirim ke alamat Email masing-masing

Selamat membaca

Salam kenal dari penulis Ririn Putri Abdullah :)

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now