CHAPTER 16 : PROPOSAL

432 49 3
                                                  

Sejak pertemuan mereka kembali, Hanbin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Jinhwan dan Hanna. Tentu saja mereka begitu bahagia, terutama Hanna yang semakin lengket pada Hanbin. Gadis itu selalu bersemangat menunggu Appanya tiap pagi untuk mengantarnya sekolah dan merasa kecewa ketika Hanbin tidak bisa datang karena urusan pekerjaannya. Mereka juga sering makan malam bersama di apartemen Jinhwan seperti malam ini, lalu bercerita tentang masa kecil Hanna sambil membuka beberapa album foto. Mereka duduk di lantai dengan Hanna di pangkuan Hanbin dan Jinhwan di sebelahnya.

"Appa..lihat ini, tangan Eomma dan tanganku waktu aku masih bayi, kecil sekali..lucu kan?" tunjuk Hanna pada sebuah foto yang memperlihatkan tangan mungil Hanna di genggaman tangan Jinhwan.

"Aigooo..lucu sekali, tanganmu bulat seperti kue mochi.."

Hanna terkikik geli mendengar kata-kata Appanya, lalu bertanya lagi,

"Appa..dulu Appa dimana? Kenapa disini tidak ada foto Appa satupun, hanya aku dan Eomma?"

Hanbin memandang Jinhwan dan Hanna dengan perasaan bersalah. Dia memeluk Hanna erat sambil menggenggam tangan Jinhwan di sampingnya.

"Maafkan Appa baru bisa datang sekarang..tapi mulai sekarang kita bertiga akan selalu bersama, Appa janji.." Hanbin menahan airmatanya.

"Dulu..Appa harus bekerja di Korea sedangkan Eomma dan Hanna harus tinggal di Jepang untuk menemani Nenek Kim..karena waktu itu Hanna masih terlalu kecil untuk diajak bepergian jadi Hanna tinggal disana sampai sebesar ini..Appa sedih sekali karena tidak bisa bertemu Hanna dan juga Eomma" Jinhwan yang berbicara menjelaskan pada Hanna.

"Appa..jangan sedih, Eomma dan aku sudah disini menemani Appa bekerja, kami tidak pergi lagi ke Jepang, benar kan Eomma?" Hanna menangkup wajah Hanbin dengan kedua tangan mungilnya lalu mencium pipi Hanbin.

"Hanna sayang Appa.." kata-kata putrinya itu berhasil meruntuhkan pertahanan Hanbin, dia menangis di pelukan putrinya. Hatinya bahagia dan terharu mendengar Hanna begitu menyayanginya. Dia sebenarnya merasa tidak layak mendapat kasih sayang dari putrinya yang baru ditemuinya beberapa waktu ini. Putrinya benar-benar seperti malaikat, begitu polos dan tulus padanya.

"Appa lebih mencintai Hanna, terima kasih karena sudah menyayangi Appa"

"Appa..temani aku tidur ya malam ini, bacakan cerita untukku dan nyanyikan aku sebuah lagu, mau kan?" pinta Hanna.

"Tentu saja, putri Appa sudah mengantuk ya? Ayo kita tidur.."

Hanbin menggendong Hanna lalu mengikuti Jinhwan yang menunjukkan kamar Hanna.

Setelah mendengar cerita dan suara merdu Hanbin yang menyanyikan lagu tidur, Hanna tertidur pulas, lelah karena bermain seharian dengan Appa dan Eommanya. Hanbin berjalan di belakang Jinhwan yang menuju ruang tamu, membereskan beberapa snack dan album foto yang tadi mereka lihat bersama. Selesai beres-beres, Jinhan melihat Hanbin yang bersiap pergi.

"Sudah mau pergi?" tanya Jinhwan.

"Kenapa? Kau masih ingin bersamaku?" tanya Hanbin yang berjalan mendekati Jinhwan.

"Terserah kau saja, pergilah kalau mau pergi, aku tidak akan menahanmu" jawab Jinhwan kesal.

Hanbin terkekeh geli, dibawanya Jinhwan ke dalam pelukannya.

"Aku sebenarnya masih ingin disini tapi aku harus pergi, ada yang harus kuselesaikan di studio"

"Kau masih sering begadang di studio?"

"Kadang-kadang saja, hanya jika mendekati deadline..aku masih ingat janjiku padamu dan Eommonim dulu"

Jinhwan melepas pelukannya sedikit untuk memberi jarak baginya memandang wajah Hanbin. Dilihatnya lingkar mata Hanbin yang menghitam, tanda dia kurang tidur, juga pipinya yang lebih tirus. Jari Jinhwan mengusap lembut wajah Hanbin, membuat pria itu memejamkan mata, menikmati sentuhan Jinhwan.

BINHWAN -LOVE OF MY LIFE-🔚Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang