Bab 01 Pertemuan

41.4K 3.9K 126
                                        



"Papa gimana ma?"

Novia menatap mamanya yang terlihat sedih. Novia baru saja pulang dari Yogya. Langsung dari bandara dia menuju tempat papanya dirawat.

"Dari semalam nanyain kamu."
Novia mencium pipi mamanya lalu menegakkan tubuhnya. Lelah mulai mendera karena dia tidak bisa tidur semalam. Keputusan untuk datang ke Yogya sungguh sangat bodoh. Karena dia terlalu kesal dengan ketidaksopanan Raihan.

"Novi masuk dulu ya ma?"

Mamanya menganggukkan kepala lalu membuka pintu kamar perawatan sang papa.

"Novi.."

Suara parau papanya membuat Novia langsung melangkah perlahan ke arah ranjang. Papanya terlihat begitu pucat dan rapuh. Ini kenyataan yang tidak disukainya. Membuat perasaannya semakin bersalah.

"Pa.."
Novia mengecup kening sang papa lalu menarik kursi yang ada di samping ranjang. Selang infus membebat tangan papanya. Lalu alat bantu pernafasan juga sepertinya membatasi gerakan pria yang sebelum jatuh sakit tampak gagah walaupun usia sudah tidak muda lagi. Kini yang ada hanya orang tua yang tampak sangat rapuh.

"Kamu darimana?"

Novia menghela nafasnya. Dia tidak mau berbohong.

"Dari Yogya pa."
Akhirnya Novia mengatakan itu. Raut wajah papanya tampak lebih cerah.

"Kenan setuju?"

Novia menghela nafasnya. Lalu menatap papa yang sangat disayanginya itu.

"Pa... Mas kenan sudah menikah. Dan Novia tidak mau menjadi perusak di rumah tangganya."
Novia mengatakan itu secara perlahan. Lalu raut wajah sang papa berganti muram.

"Novia... papa tidak tahu lagi bisa bertahan sampai kapan. Kalau saja kamu dulu tidak menolak menikah dengan Kenan. Papa akan sangat lega. Keluarganya Dokter Kafka itu sangat baik. Papa tidak tahu lagi kamu harus menikah dengan siapa .."
Novia mengerutkan kening. Tapi kemudian ide itu muncul begitu saja.

"Pa... waktu di Yogya sebenarnya..."
Novia menatap papanya yang menunggu ucapannya.

"Kakak iparnya Mas Kenan, mengenalkan Novi sama sepupunya. Dia seorang dokter anak."

Mendengar itu sang papa langsung tampak berpikir.

"Aslan maksud kamu? Suaminya dari Sofia? Kakaknya Kenan yang dulu menolak Bagus?"

Novia menganggukkan kepala.

"Iya suaminya mbak Sofia."

Dia tahu betul riwayat kakaknya, Bagus. Dulu, mereka dijodohkan dan Novia tahu betul kakaknya itu mencintai Sofia. Hanya saja mereka tidak berjodoh karena Sofia menikah dengan Aslan.

"Iya pa.."

Papanya menatap Novia dan menggelengkan kepalanya perlahan.

"Dari keluarga pria yang sudah bersaing dengan Bagus?"

Novia akhirnya menatap sang papa.

"Artinya berarti lebih baik Aslan daripada Kak Bagus kan? Mbak Sofia lebih memilihnya."

Dia tahu papanya tidak suka. Tapi kenyataan itu memang benar. Kakaknya kalah bersaing dengan Aslan.

"Hemmm kamu suka sama dokter anak itu?"

Novia sebenarnya masih malas dengan sikap angkuh Raihan. Hanya saja kalau hal ini bisa membuat sang papa sembuh itu akan dilakukan.

"Dia baik pa."

Papanya akhirnya menganggukkan kepala.

"Bawa dia ke sini. Papa ingin bertemu."

*******

"Assalamualaikum."

Novia berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Dia sebenarnya malas menelepon. Tapi semua ini harus dilakukan.

"Waalaikumsalam."

Suara berat di ujung sana membuat Novia menghentikan langkahnya. Ini terpaksa dia lakukan.

"Raihan?"

Novia menggigit bibirnya saat memanggil nama itu.

"Ya calon istri.."
Novia mengernyit mendengar jawaban Raihan di ujung sana.

"Aku belum setuju"

Novia akhirnya duduk di tepi kasur. Menata hatinya untuk berbicara dengan pria angkuh ini.

"Ehmm jadi kenapa menelepon?"

"Papa ingin bertemu dengan kamu. Aku tidak ingin papa bersedih. Kamu harus bantu aku. Bilang sama papa kamu mau menikahiku."
Dia mengucapkan itu dengan terburu-buru sehingga tumpang tindih.

"Hei..calm down. Aku akan melamarmu Novia. Secepatnya. Bismilah."

Ucapan Raihan membuat mata Novia membulat. Dia tidak mau dilamar secepatnya.

"Aku tidak mau dilamar secepat ini. Kamu bertemu dulu dengan papa."

"Lebih cepat lebih baik. Aku tidak suka berbuat dosa. Lebih baik halal secepatnya Novia. Maaf aku masih ada pasien. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Novia masih termenung dengan ucapan Raihan. Kenapa harus secepat ini?

Bersambung

Up dikit yaaa... baru permulaan. Yuk koment dulu

Pengantin BayanganTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang