Bab 18

426 24 10

Ustad in love

B

ab 18

.
.
.

Warning : segala hal yang kutulis didalamnya tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Typo, gaje, absurd, dll, dsb, dst #plak. But this story is mine.

.
.
.

Ada banyak hal yang tidak Hasbi sukai di dunia ini. Salah satunya adalah keramaian. Yah, seperti yang ada didepannya kali ini. Orang-orang yang berlalu lalang juga suara bising dari sekitarnya membuat pemuda adonis itu mendengus kesal. Raut datarnya semakin datar saat melihat dua orang gadis yang tengah asik membahas tentang Boyband-boyband Korea dengan antusias. Siapa lagi jika bukan Vira, pacar Samudra yang kini tengah duduk disampingnya dan tengah sibuk dengan ponsel di tangannya. Sedangkan gadis yang satunya adalah Kenbi, gadis yang diakui sebagai pacarnya.

Matahari tampak bersiap kembali ke peraduannya, menyisakan cahaya jingga yang kini menyinari wajah mereka. Selepas kuliah tadi, Ia diajak ke sini. Suasana di taman kini sedikit tenang saat orang-orang mulai beranjak pergi. Tapi dipojok taman, kedua pasangan itu tampak malas untuk sekedar pindah ke tempat lain. Samudra mulai mengeluarkan laptopnya dan menulis blog seperti biasa sedangkan Vira dan Kenbi yang duduk di atas rerumputan berteriak histeris, melihat perfrom idol mereka dari laptop Hasbi yang dipinjam secara paksa oleh Kenbi beberapa waktu lalu.

Demi apapun Hasbi sangat kesal. Dirinya seolah hanya menjadi obat nyamuk disini.

"Bisakah kita pulang sekarang?" Tanya Hasbi datar.

"Nantilah. Kalo kak MH mau pulang, pulang duluan aja." Jawab Kenbi polos yang membuat Vira serta Sam meringis dibuatnya.

Hasbi yang ingin membalaspun menghentikan niatnya saat benda pipih di sakunya bergetar, menandakan ada panggilan yang masuk.

'Fandi?' Batin Hasbi dan beranjak dari sana hingga membuat Sam mengernyitkan dahi saat Hasbi menjauh dari mereka.

'Assalamualaikum, Bi.'

"Waalaikumsalam, ada apa?"

'Bi, bisakah kau pulang ke apartemenmu sekarang? Ada hal yang ingin kubicarakan'

"Memangnya ada.. eh, tunggu, kau di Jakarta?" Tanya Hasbi kaget.

'Ya, aku baru saja sampai. Mas Ridwan juga ada disini.' Jelas suara di seberang telfon itu membuat Hasbi mengangguk. Kemarin Ridwan, kakaknya memang memberi tau bahwa Ia akan berkunjung lagi. Tapi Hasbi tidak tau bahwa Fandi juga akan ikut bersamanya.

"Baiklah."

'Ya sudah, Assalamualaikum.'

"Waalaikumsalam." Balas Hasbi dan segera menutup telfonnya.

Saat berbalik, entah mengapa ada desiran aneh yang tiba-tiba dirasakannya saat melihat tawa Kenbi juga ekspresi menggemaskan gadis itu. Wajah manisnya yang diterpa cahaya senja membuatnya semakin menawan. Tatapan polosnya, suaranya, dan juga senyum itu. Kenapa? Semakin sering Hasbi melihatnya semakin sering juga gelenyar aneh yang tiba-tiba dirasakannya. Perasaan apa ini? Tidak mungkin kan Ia termakan pesona gadis itu?

Ustad in love Baca cerita ini secara GRATIS!