perjanjian-perjanjian

1.5K 28 0

"Mi, Arif ngajar dulu ya" sambil mencium tangan Umi yang tampak sibuk memencet-mencet Hp sambil mengecil-ngecilkan biji mata dibalik kaca mata plus yang tampak sudah agak usang.

"Iya, hati-hati dijalan ya" sambil terus memperhatikan Hp melihat nomer-nomer.

^^^

"Assalamualaikum"

"....."

"Ummu Hamzah, Khaifa halk?"

"....."

"Ana bi khoir, Alhamdulillah"

"....."

"Begini, Ummu Hamzah, saya ingin menanyakan perihal Hawa, yang dulu pernah kita certain itu loh? Menurut anti kira-kira bagaimana?"

"....."

"Sudah mau lulus dari LIPIA toh? Masyaallah. Terus terus?"

"....."

"Lagi di Bogor? Alhamdulillah. Kira-kira kapan kita bisa main kerumah? Soalnya Arif sudah minta dicariin istri ini"

"....."

"Insyaallah. Arif itu anaknya gak banyak milih, yang penting solehah, sisanya ya biar Uminya yang pilih katanya"

"....."

"Malam ini? Masyaallah. Ba'da isya ya"

"....."

"Iya, iya Insyaallah. Oh iya gak usah repot-repot atuh yak nanti Insyaallah yang dateng Cuma kita bertiga, Saya, Abinya sama Arif"

"....."

"Iya iya Insyaallah. Sudah dulu ya, Assalamualaikum"

Sang ibu berjilbab besar berwarna coklat muda menutup telepon genggamnya. Tersenyum sambil sedikit mengkhayal. Rasanya kekuatannya sudah kembali lagi, memorinya menjelajahi waktu, teringat beberapa tahun yang lalu saat proses menjodohkan anak sulungnya dengan seorang kerabat yang berhasil sukses menproduksi sampai 3 cucu dari mereka yang sekarang hidup mansiri di Bandung sebagai petugas KUA. "Insyaallah ini yang terakhir" gumamnya sendiri. Menandakan tugas terakhirnya mengantarkan putra bungsu ke pelaminan dapat segera berjalan.

^^^

Waktu yang dinanti sudah tiba, pukul 08.00 malam.

"Bi, ganti baju atuh. Masa iya pergi kerumah saudara pake sarung"

"Astagfirullah Mi, Abi lupa. Maklum Mi, faktor U', sebentar ya"

"Arif Arif" Umi memanggil-manggil anaknya

"Udah rapih Mi?"

"Udah, Hayuk Bi, keburu kemaleman gak enak"

"Arif mana, Mi?"

"Mungkin udah di depan"

Mereka berdua berjalan menuju kearah depan, Abi memeriksa kembali semua ruangan termasuk dapur takut-takut kompor masih menyala atau ada pintu yang belum dikunci saat ditinggalkan.

"Masyaallah, anak Umi gagah pisan" Arif tersenyum

"Hayuk, Mi, berangkat"

Mobil berjalan meninggalkan rumah putih itu, Arif sebagai sopir, Abi disebelah sopir dan Umi sebagai Ratu yang duduk dibarisan kedua.

"Hawa itu sebentar lagi lulus loh Bi dari LIPIA"

"Iya, Mi? Masyaallah. Qadarullah Abi gak pernah ngajar beliau ya"

"Mungkin pernah, cuma Abi aja yang lupa. Kan, mahasiswi yang Abi ajar banyak"

"Mungkin juga mi"

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now