perjanjian-perjanjian

Start from the beginning

"Anaknya cantik Bi, Solehah lagi. Kalau gak salah denger terakhir itu dia sudah hafal 25 juz Bi, mungkin sekarang sudah Hafidzah"

"Masyaallah. Bener-bener calon menantu solehah ya Mi"

"Insyaallah Bi"

Arif hanya diam saja mendengarkan percakapan kedua orang tuanya. Dia paham betul bahwa semua percakapan yang dilakukan itu adalah sebuah bentuk penyampaian informasi dari kedua orangtuanya. Sepanjang perjalanan dia hanya tersenyum sambil sesekali melirik ke arah kaca yang memantulkan refleksi wajah sang Bunda.

"Gang yang mana ya mi rumahnya?"

"Disini! Disini! Udah deket ini. Jalan terus pelan-pelan. Nah! Rumah yang pagar item ini rumahnya"

Arif memelankan laju mobilnya, mengarahkannya persis kearah pintu masuk pagar. Tak lama seorang anak muda tampak mendorong pagar, member aba-aba perintah masuk, mobil Arif masuk tanpa hambatan.

"Assalamualaikum"

"Waalaikumussallam Abu Syafiq"

"Khaifa halk?"

"Khoir, Alhamdulillah. Wa antum khaifa halk?"

"Khoir Alhamdulillah"

Mari-mari silahkan masuk. Sang tuan rumah mempersilahkan para tamu untuk segera masuk kedalam rumah.

"Maaf loh, ini seadanya" nyonya rumah tampak keluar membawa nampan berisi 6 gelas teh hangat diikuti putri bungsunya yang membawa satu nampan yang berisi beberapa piring kue.

"Ini, ada sedikit oleh-oleh" Ummu Syafiq menyerahkan sekotak kue yang sedari siang ia persiapkan untuk dibawa kerumah tempat ia bertamu tersebut.

"Alah, Ustadzah ini kok repot-repot? Jazakillahu khoir"

"Waiyyaki"

Perbincangan diawali dengan basa basi kedua orang tua mereka. Orang tua Arif yang banyak bertanya tentang kegiatan putri bungsu Ummu Hamzah, yang dijawabnya ternyata sekarang sudah menjadi Hafidzah. Sedang orang tua Hawa sendiri sudah tahu bahwa Arif sekarang menjadi salah seorang pengajar di salah satu pesantren ternama di Bogor. Setelah beberapa kata pengantar usai, Abi dari Arif mulai berbicara serius mengenai asbab kedatangan mereka bertamu malam itu.

"Bismillah, Alhamdulillah atas karunia Allah, bahwa pada hari ini kita ditakdirkan untuk bertemu dan berbincang-bincang. Jadi, langsung saja, karena keluarga kita sudah akrab dan masing-masing sudah saling mengenal jadi, kami disini ingin segera mengutarakan maksud kedatangan kami malam ini yaitu ingin mengkhitbah putri bapak yang bernama Hawa untuk anak kami Ahmad Arif Alfarisi"

"Alhamdulillah, sesungguhnya kami meyakini bahwa pujian tertinggi adalah mutlak hanya milik Allah Subhanahuwataala semata. Untuk yang demikian kamipun selaku orang tua belum menanyakan kepada putri kami apakah menyetujui khitbah ini atau menolak, karena jelas, dalam Islam dia memiliki hak untuk keduanya. Jadi, alangkah baiknya kita dengarkan bersama isi hati dari putri kami satu-satunya ini"

Setelah mendengar jawaban dari Kepala Lurah sekaligus suaminya, Ummu Hamzah terlihat mengelus-elus punggung gadis berjilbab besar berwarna pink muda tersebut seraya membisik-bisikan sesuatu.

"Ehhem" sang gadis mulai mengeluarkan suaranya, sedikit membersihkan saluran tenggorokannya mungkin karena terlalu gugup.

"Bismillah, Alhamdulillah segala puji bagi Allah atas segala karunia ilmu, rezeki juga kesehatan yang telah Allah limpahkan kepada kita semua. Langsung saja, perihal khitbah ini sebenarnya Hawa sudah memikirkan ini jauh sebelum Hawa tau siapa orang yang akan mengkhitbah Hawa juga apa pendidikannya dan darimana dia berasal".

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now