Chapter 7

137 13 0

Orang bilang, kalau ingin tahu kebenaran suatu kejadian, kita harus tahu kesaksian dari dua belah pihak—dalam hal ini, tiga belah pihak. Aku sudah dengar dari Mas Irul dan Mas Aji, sekarang tinggal satu lagi. Tentu saja, aku masih tidak percaya kalau Mas Alif sengaja bikin celaka sahabatnya sendiri. Pasti ada sepotong fakta yang hilang dan gagal dilihat kedua kakak kelasku yang pendapatnya berseberangan itu. Pasti ada satu titik di mana semua fakta bisa menyatu dan tidak berlubang-lubang seperti ini.

Aku masih ingat janjiku kepada Bapak bahwa aku akan mengajak teman setiap kali bertemu dengan Mas Alif. Makanya, Minggu pagi ini aku menyeret Alya untuk menemaniku pergi ke rumah Ibu. Biasanya, anak itu susah diajak ke mana pun kalau harus naik angkot. Katanya jauh lebih nyaman naik sepeda. Tapi entah kenapa kali ini dia mau saja.

Kami sampai di rumah Ibu satu jam kemudian, setelah sebelumnya harus ganti angkot dua kali. Setelah pintu dibuka, senyum Ibu langsung merekah saat melihatku, lalu langsung saja menyuruh kami masuk.

“Ini temen Isna? Namanya siapa?” tanya Ibu ke Alya.

“Alya, Bu—”

“Panggil ‘Ibu’ aja, ndak apa-apa, kok.” Ibu langsung berdiri. “Bentar ya? Ibu bikinin minum dulu. Dienakin aja, anggap rumah sendiri, ya, Alya.”

Setelah Ibu masuk, Alya langsung menoleh padaku. “Ibumu baik banget sih, Is.”

Aku langsung tersenyum mendengar pujian itu.

“Enak banget ya, punya Ibu sebaik itu?” kata Alya sambil tersenyum sayu.

“Aku yakin kalau Ibumu juga pasti baik banget, Al.”

“Kata Bapak sih, begitu.”

Aku langsung diam. Kata bapaknya? “Maksudnya?”

“Ibu udah nggak ada setelah ngelahirin aku.”

Sudah tidak ada? Maksudnya meninggal? Aku ingin tanya, tapi ekspresi sedih yang saat ini menggelayuti Alya langsung membuatku bungkam. Aku rasa, maksudnya memang itu. Jadi, ini maksudnya waktu dia bilang dia harus mengurus bapak dan kedua kakaknya sebelum berangkat sekolah? Pantas saja. Seketika, aku langsung merangkulnya. “Sini, nyender.”

Alya seketika menatapku aneh. Kami diam agak lama, lalu dia mendorongku pelan, yang refleks membuatku mendengus geli. “Ih, apaan sih, Is.”

Kami tertawa sesudahnya.

Kemunculan Ibu sambil membawa baki berisi tiga gelas es teh dan sestoples kue buatan tangan itu langsung membuat kami diam. Aku pun berdiri dan membantu Ibu menurunkan isi baki.

“Mas Alif ke mana, Bu?” tanyaku sesudah kami duduk nyaman.

“Minggu pagi gini biasanya latihan bola di sekolahnya. Bentar lagi juga pulang, kok.”

Aku hanya manggut-manggut. Wajar sih, ekskul bola kan sekarang sedang menghadapi turnamen. Tentu saja latihan mereka harus diperbanyak. Kalau aku tidak salah dengar, ekskul bola sekolahku juga sering mengadakan latihan tambahan tiap akhir pekan. Mungkin gara-gara itu, kemarin Mas Irul tidak muncul di perpustakaan. Eh? Aku langsung menggeleng cepat. Kok topiknya cepat sekali pindah ke senior menyebalkan itu? Gara-gara pikiranku fokus di ekskul bola, sih.

“Alya ini temen sekelas Isna, ya?”

Suara Ibu langsung menyentakku, biarpun bukan aku yang ditanya.

“Iya, temen sebangku juga, Bu.”

“Eh? Gimana Isna kalau di sekolah?”

Keningku mengkerut mendengar pertanyaan itu. “Kok nanyanya ke Alya, Bu?” 

The White Hat [COMPLETED]Read this story for FREE!