Ku rela mengangkang demi Juara Umum➡️[bxb]

6.3K 230 191

Vote!🔞
















Warning, 7k words!! Jangan bosen ya..

Warning, 7k words!! Jangan bosen ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


























Seorang lelaki manis yang sedang duduk di kursi paling depan itu tengah membenarkan letak kacamata nya yang sedikit kendur, kedua matanya berusaha untuk berpura-pura fokus membaca dan memahami setiap kalimat yang ada di dalam buku biologi.

"Kim Jinhwan..."

Mendengar nama nya di panggil lelaki manis itupun hanya bisa menghela nafas pasrah.

Lagi.

Entah kenapa sejak ia duduk di bangku kelas dua SMA nilai biologinya mendadak turun drastis. Padahal dia sudah belajar semaksimal mungkin.

"Nilai praktekmu tiga puluh," ucap Junhoe selaku guru biologi.

Jinhwan tertunduk lesu saat nilainya di sebutkan. Ia kecewa pada dirinya sendiri, walaupun setiap kenaikan kelas dia tetap menjadi juara pertama.

Sudah lima belas menit berlalu sejak Pak Junhoe menyebutkan lima siswa yang memiliki nilai praktek terendah semester ini, sejak itu juga ia menelusupkan wajah pada lipatan tangannya di atas meja.

"Hei Nani, si kutu buku!" seru seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi telinganya, Song Yunhyeong.

Jinhwan tidak menyahuti panggilan sarkas yang Yunhyeong lontarkan, ia hanya berdecak malas.

"Lo di panggil pak Bobby, ke ruang BK"

Jinhwan langsung mengangkat wajahnya dan menatap Yunhyeong sayu, "Beasiswa gue, Yun" ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya.

Yunhyeong menghela nafas berat. Sebagai sahabat semata wayangnya Jinhwan, ia juga turut berdukacita atas semua yang terjadi pada sahabat nerd nya itu.

"Doa aja semoga masih ada toleransi. Sana, udah di tungguin dari tadi." Yunhyeong memasangkan kembali kaca mata tebal itu pada Jinhwan sebelum menepuk bahu sahabatnya itu seakan menyemangatinya.

"Ya, semoga aja" jawab Jinhwan

Ia bangkit lalu melangkah menuju ruangan BK dengan perlahan. Ia mencoba menarik nafas dalam-dalam lalu di hembuskannya setiap ia melangkah, guna menstabilkan detak jantungnya.

Tok! Tok! Tok!

"Saya Jinhwan, pak."

"Masuk,"

Ia meremas jari tangannya hingga memutih, sebelum menekan gagang pintu tersebut.

"Silahkan duduk," ucap Pak Bobby pelan.

[2] ᴏɴᴇ & ᴏɴʟʏ↬ʙɪɴʜᴡᴀɴ 🔞Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang