--kebenaran

18 3 0

DINDA terlonjak kaget dan memutar tubuhnya 180 derajat saat ia mendengar suara raynand yang memanggilnya

"iya nak?" tanya dinda dengan senyum hangatnya yang tidak pernah hilang dari wajah cantiknya "ini, tadi tante jatohin" jawab raynand menyodorkan foto yang didalamnya terdapat 2 anak kecil yang sedang bersama dengan orang tua mereka

"kenapa tan?" tanya raynand begitu menyadari wajah dinda yang tiba tiba menjadi pucat "sini ikut tante, ada yang mau tante omongin sama kamu" jawab dinda

"iya tante" raynand mengekori dinda yang sudah berjalan di depannya

"duduk" dinda mempersilahkan raynand yang masih berdiri didepannya untuk duduk di sebelahnya, raynand mengangguk lalu duduk di salah satu kursi di kantin rumah sakit itu yang sudah diisi dengan dinda

"jadi gini, tante mau tanya sama kamu" kata dinda, raynand menaikkan salah satu alisnya "kamu tadi liat orang yang ada di dalem foto itu ga?" tanya dinda cemas

"liat tan, tapi agak blur" jawab raynand masih dengan ekspresi bingungnya "kamu kenal orang di dalem foto itu?" tanya dinda lagi

"devi?" jawab raynand ragu "iya, dan dua orang dibelakangnya itu foto orangtua devi" dinda menengadah keatas menahan tangisnya "orangtua devi? Tante dong" sela raynand, dinda menggelengkan kepalanya

"bukan, itu bukan tante, tante itu sebenernya bunda tiri dia, tante pungut devi di panti asuhan waktu dia baru berumur beberapa bulan, devi sampe sekarang gatau tentang ini, tante gamau bikin dia kecewa

"tante bener bener gamau dia sampe tau hal ini" dinda mengelengkan kepalanya, tangisnya pecah, membuat raynand yang duduk disebelahnya mengelus pundak dinda pelan, menguatkan

"bunda? Kak raynand?" sapa devi dari belakang, ia melangkahkan kedua kakinya kearah tempat duduk yang diduduki oleh dinda dan raynand "bunda! Bunda kenapa?" devi terlonjak kaget, ia segera menambah kecepatan jalannya menghampiri bundanya

"bunda? Bunda kenapa nangis bun?" tanya devi ikut sedih, tapi bundanya tetap diam "bun-"

"devi!!" potong raynand ketus "ke-kenapa?" kaget devi "diem!" raynand kembali memfokuskan pandangannya pada dinda yang sekarang tangisnya sudah mereda

"bunda gapapa nak" dinda menatap devi lembut sambil menyeka air matanya "kenapa kamu kesini?" tanya dinda "tante aisyah down lagi" raynand dan dinda langsung bangkit dari tempat duduknya khawatir "beneran nak?" tanya aisyah khawatir "iya bun" jawab devi

"tante, duluan aja, lu tunggu disini" kata raynand kepada dinda lalu ia mengalihkan pandangannya kepada devi "yasudah" dinda menganggukan kepalanya

"napa kak?" tanya devi sesaat setelah dinda pergi, raynand mendekatkan wajahnya pada devi, ia menatap gadis didepannya lekat, membuat devi salah tingkah "ke-kenapa ka?" devi memundurkan wajahnya yang sudah memanas

"bagus" kata raynand menjauhkan wajahnya juga "ha? bagus?" bingung devi, ia menatap raynand dengan dahinya yang terlihat bergelombang

"mirip" kata raynand lagi "hah? apaan sih?" tanya devi bingung "kalo ngomong tuh jangan sepotong potong napa, biar orang gak salah nangkepnya" tambah devi menasihati dengan wajah kesalnya

"kakk!! Kok malah ditinggal sih?!" devi berlari mengejar raynand yang sudah pergi menjauh "kakkk!!" devi menahan lengan raynand yang ada didepannya "apaansi?! Bunda gue lagi sakit, gue khawatir sama keadaan bunda gue!" raynand menepis lengan devi kasar

"kasar banget sih!" devi mengelus tangannya yang memerah dengan matanya yang sudah berkaca kaca "cengeng!" raynand menatap devi sinis dan berjalan pergi

DevianaRead this story for FREE!