Tetes Air 4 : Sesal (Selesai)

13 1 0

"Ma... Cepat tutup semua pintu dan jendela!" Aku berteriak dari kebun sambil sedikit berlari menuju rumah yang tepat berdampingan. Sesekali aku tengok ke belakang. Gumpalan asap hitam telah memenuhi langit. Bau tak sedap dari gumpalan asap itu kian mendekat. Sepertinya angin sedang tak bersahabat, ia justru membawanya menuju pemukiman penduduk. Tentu saja, ini bukan kali pertama kebakaran hutan seperti ini terjadi. Ah bukan terbakar, akan lebih cocok dengan sebutan hutan yang dibakar.

Aku semakin jelas melihat istriku karena sudah memasuki halaman rumah. Ia sedang menidurkan Anni—anak perempuan kami—di dekat jendela. Sekali lagi aku berteriak, "Ma... Tutup jendelanya!".

"Ada apa?" Istriku bertanya dengan isyarat karena tak mau sampai Anni terbangun. Ah benar juga, ia tak akan bisa melihat dari sudut pandang itu.

"Kebakaran hutan, Ma!" Aku menjawab saat tepat berada di depan jendela. Dengan segera istriku menutup jendela setelah mendengar kabar dariku. Aku pun segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu serta jendela-jendela lain di rumahku. Sejujurnya, aku sangat membenci saat-saat seperti ini karena sungguh mengganggu. Terlebih, aku menghawatirkan istriku dan Anni. Dua orang perempuan yang kusayangi sungguh rentan dengan asap. Benar, mereka mengidap penyakit asma sedari kecil.

***

Tiga hari telah berlalu sejak kebakaran hutan itu. Udara kembali terasa segar. Langit mulai membiru sampai ke ujung cakrawala di sana. Pagi ini, Anni merajuk ingin ikut pergi ke kebun. Gadis kecil itu selalu terlihat lucu dan menggemaskan. Tentu saja aku tak tega jika harus menolak pinta yang sederhana itu. Aku bersiap-siap sembari menunggu Anni menyelesaikan sarapannya.

"Ayah kenapa tidak makan dulu? Mau Anni suapin?" Ujar gadis itu seraya menyendokkan nasi untukku.

"Anni makan saja. Ayah sudah disuapin mama tadi sebelum Anni bangun." Jawabku sekenanya sembari melirik istriku yang sedang mengelap piring di samping Anni. Tentu saja aku hanya bergurau, karena aku tak makan sepagi ini. Istriku akan mengantarkan makan saat aku bekerja di kebun dan kami akan makan bersama saat itu.

"Yuk Yah. Anni sudah selesai makan," Ia berdiri dari kursi yang didudukinya kemudian berjalan menuju sisi kanan mamanya, "Ma, Anni berangkat dulu ya." Istriku menangguk dan memberikan tangannya untuk dikecup anak gadis kami.

Saat keluar dari rumah, matahari terlihat masih malu-malu di ufuk timur sana. Anni terlihat berlari-lari kecil sembari sesekali menoleh ke arahku dan memperlihatkan senyumannya. Ah, sungguh aku menyukuri bisa dikaruniai malaikat kecil seperti dia.

Aku dan Anni berkeliling kebun sawit ini sembari mengawasi pekerja-pekerja kebun ini. Sepuluh menit berlalu, gadis kecilku ingin beristirahat dulu. Kebetulan kami sampai pada gubuk kecil yang sengaja dibangun di tengah kebun sawit yang luas ini.

"Anni capek yah, Anni duduk-duduk di gubuk ini saja, ayah lanjutin jalan-jalannya enggak apa-apa," katanya sembari mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung saat duduk di gubuk ini.

"Oke, Anni jangan kemana-mana ya sampai ayah datang," kataku sembari mengelus pelan ubun-ubunnya.

Tiga puluh menit kemudian, aku kembali berjalan menuju gubuk kecil tadi. Hei, tunggu. Gadis kecilku sedang bersama... orangutan? Sial sekali. Orangutan adalah salah satu hama bagi perkebunan kelapa sawit seperti ini. Dari dekat, sepertinya orangutan ini adalah orangutan Kalimantan jenis Morio—orangutan yang sesekali memasuki pemukiman penduduk.

"Hai Anni," sapaku.

"Oh, halo ayah. Kenalin, ini Bobby," ia melihat ke arahku, "dan Bobby, ini ayah Anni," ia berganti memalingkan wajahnya menghadap orangutan itu, "sudah ya Bobby, sepetinya ayah mengajak pulang. Sampai ketemu besok." Gadis kecil tujuh tahun itu memberikan tangannya kepada orangutan itu dan aku sedikit terkejut saat melihat si Bobby dengan pintarnya mengecup tangan Anni seperti apa yang dilakukan Anni kepada mamanya.

"Yuk pulang." Ajakku yang dibalasnya dengan anggukan singkat. Dengan perlahan Anni menuruni gubuk itu melalui tangga di sisi kirinya.

"Daah... Dadah... Bobby!" Anni membalikkan badannya sembari melambaikan tangannya tinggi-tinggi, "Besok main lagi yaaa!" sedetik kemudian ia sudah berjalan kembali di sampingku. "Kalau ayah ke kebun lagi, Anni boleh ikut lagi kan?" ia kembali menunjukkan wajah menggemaskannya.

"Tentu," jawabku singkat sembari tersenyum ke arahnya.

***

Beberapa hari berturut-turut, Anni selalu meminta ikut saat aku pergi ke kebun, seperti permintaannya lalu. Pun ia juga bermain bersama Boby saat aku meniggalkannya untuk mengelilingi kebun mengawasi pekerja. Ia terlihat begitu senang, aku pun tak terlalu khawatir walau meninggalkannya sendirian karena saat mengamati Bobby ia terlihat jinak dan tak berbahaya. Namun, sudah tiga hari ini Anni tidak ikut karena sedang demam. Ia beristirahat di rumah ditemani mamanya.

Seperti biasa, setelah berkeliling aku duduk bersantai sebentar di gubuk. Tak lama kemudian, seorang pekerja mendekatiku.

"Permisi pak, beberpa hari ini orangutan yang biasa bermain dengan anak anda mulai berulah, apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.

"Segera binasakan saja sebelum memberikan kerugian lebih besar." Perintahku.

"Baik, pak." Sedetik kemudian pekerja itu meninggalkanku.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Baru saja beberapa menit, aku melihat Bobby—orangutan kesayangan putriku—berjalan mendekat. Waktu yang pas sekali. Gumamku. Aku segera berjalan menuju kantor pekerja kebun ini untuk mengambil senapan angin.

Dari jarak 10 meter, aku mengambil posisi. Memicingkan mata agar tepat mengenai sasaran. Beberapa detik berlalu, bobby masih terlihat tenang. Tentu saja ia tak tahu jika beberapa saat lagi ia tak bisa melanjutkan bermain dengan putriku.

"Ayah jangaaaaannn...!" Aku mendengar suara Anni. Anni?

Duaaarrrr!!!

Terlambat.

***

Hari ini gerimis membasahi tanah Swaga Bara. Aku bersyukur gerimis turun. Setidaknya, ia bisa menyamarkan tangisku. Tangis yang sungguh aku sesali dan tak mugkin pernah aku lupakan.

"Mungkin seperti ini yang dirasakan Bobby kala kebakaran hutan beberapa saat lalu. Merasakan sedih kehilangan keluarga," ucapku lirih.

Hari ini, aku dan istriku mengantarkan Anni—malaikat kecilku—menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Aku tak tahu jika saat itu mamanya mengantarkan Anni ke kebun.

"Setidaknya, Bobby tak pernah merasakan sesal sepertiku. Maafkan ayah, Anni."

Langit semakin mendung. Hujan turun semakin deras. Air mataku luruh semakin tersamarkan.

===================================

Ketidaksengajaan bukanlah menjadi alasan dari sebuah kesalahan lantas angkat tangan tak mau meminta maaf. Merasa tak bersalah. Bukan. 

Terkadang, ucapaan 'maaf' diperlukan untuk sekadar mendinginkan keadaan.

====================================

Hai teman-teman, mohon maaf karena sudah lama enggak update.  

Ambil apa yang bagus dari cerita ini dan buang kejelekannya. Terima kasih sudah mampir :) Kalau suka, jangan lupa vote dan komen ya.

Sampai jumpa pada kisah tetes air hujan berikutnya! Bye!

Tetes Air Hujan (Kumpulan Cerpen)Read this story for FREE!