Pengakuan

699 165 21
                                                  

Lebih dari sepuluh kali aku mengunjungi perpustakaan kota, namun baru kali ini aku melihat sosoknya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Lebih dari sepuluh kali aku mengunjungi perpustakaan kota, namun baru kali ini aku melihat sosoknya. Ia duduk di balik meja registrasi dengan name tag yang tergantung, aku pun mencuri lihat namanya, Kang Daniel. Lalu aku merapalkan berulang kali di dalam hati.

Tak berapa lama dia menoleh ke arahku, sepertinya dia tersadar akan tatapan mataku yang terus tertuju padanya. Sesaat manik mata kami bertemu, aku menelusuri wajahnya hingga lagi-lagi tersadar, aku bukan hanya jatuh hati tapi juga jatuh cinta pada pandangan pertama.

Beruntung, Hwang Minhyun menyadarkanku.

"Seongwoo!" panggilnya, pasti ia merasa aneh saat aku terpaku menatap meja tempat si pegawai perpus berada.

"Ah, iya?" aku memutuskan berhenti menatapnya lalu menoleh pada Minhyun.

"Kenapa? Menemukan yang dicari?"

Aku hampir saja berteriak 'iya', namun buru-buru menyadari sedang berada di perpustakaan dan Minhyun pasti menanyakan mengenai 'buku', bukan sosok itu. Menanggapinya aku hanya terkekeh sambil menggeleng canggung. Mungkin Minhyun akan menganggapku gila setelah ini. Biar saja.

"Kalau begitu ayo kita ke lantai 2, buku-buku pertanian banyak di sana." Minhyun sudah berjalan lebih dulu, sambil menginstruksikan agar aku segera mengikutinya dari belakang.

Dengan ragu-ragu aku melangkah, sedikit berat karena aku ingin lebih lama di dekatnya. Kuberanikan menoleh ke belakang, tempat dimana pemuda bermarga Kang itu berada. Sayangnya ia sudah kembali fokus pada buku di tangannya.

***

"Aku tahu, tadi kau sudah menemukannya kan?" Minhyun mengambil tempat duduk di sampingku dengan setumpuk buku yang ia bawa. Kemudian ia pun membuka satu per satu buku yang berhasil ia dapatkan. Sedangkan aku? Hanya duduk sambil menelungkupkan wajah di meja, entah kenapa tidak berminat pada buku-buku yang semakin memuakkan.

"Belum dapat, Hyun," balasku tidak bersemangat. Pasalnya aku benar-benar tidak bisa konsentrasi menemukan satupun.

"Jangan bohong, jelas-jelas matamu tidak berkedip saat melihatnya!"

Aku menegakkan posisi duduk, ingin mengajak seorang Hwang Minhyun bertarung argumentasi.

"Lihat apa?"

"Aku melihatmu Ong Seongwoo, menatap pegawai perpustakaan itu dengan mata berbinar. Kau bahkan enggan bertatap muka dengan para fans-mu di kampus! Jelas sekali, kau jatuh hati padanya!" serang Minhyun dengan satu tarikan nafas.

"Ja-jadi kau melihatnya?"

"Jelas sekali, kau berdiri di sana hampir 15 menit!" serunya dengan menjaga nada suara tetap rendah, ia sudah mengalihkan perhatiannya dari tumpukan buku-buku dan memandangku serius.

Pipiku bersemu, sudah lebih dari lima tahun aku tidak memiliki ketertarikan lagi pada seseorang, dan kali ini sungguh berbeda. Mungkin saja aku tampak seperti remaja yang baru jatuh cinta, dan kepergok oleh orang lain.

Keheningan mendominaai sesaat, Minhyun menatapku tanpa ekspresi sedangkan aku berusaha mengipasi wajah yang terasa panas.

Sepertinya ia jengah dan mulai menginterogasi, "jadi katakan, apa yang membuatmu menyukainya?"

Aku kelimpungan, Minhyun adalah tipikal yang menjunjung tinggi logika di atas segalanya. Tidak mungkin aku menjawab 'jatuh cinta pada pandangan pertama', ataupun karena 'mengikuti kata hati'. Aku harus memikirkan jawaban yang paling masuk akal.

"Dia... Tampan kan?" Aku mencoba mencari peruntungan.

Manik Minhyun melebar tidak percaya, apakah aku sudah salah mencari alasan?

"Aku baru tahu kalau tipe ideal-mu seperti dia." Minhyun lanjut membaca buku tebalnya, sepertinya aku berhasil.

Minhyun adalah teman baik pertama yang mengetahui kisah menyedihkan masa remajaku. Dan kini dia mungkin sedikit syok mendapati aku jatuh hati kembali.

Pada sosok yang baru pertama kali kulihat.

***

Meski harus sedikit merengek pada Minhyun, akhirnya ia memperbolehkanku untuk turun ke lantai 1.

Wajah si pegawai perpustakaan terus saja menghantui kepalaku. Rasanya aku ingin terus-terusan menatapnya.

Aku melirik ke tempatnya tadi berada, namun sudah berganti dengan seseorang yang ku kenali. Kim Jaehwan.

Jaehwan merupakan pegawai perpustakaan yang sudah mengenaliku dan Minhyun, sebab saat pertama kali mendaftar Minhyun merepotkan Jaehwan yang di anggap terlalu bertele-tele mempersulit kami sebagai mahasiswa.

Akhirnya sejak saat itu kami berteman, dikarenakan kami adalah pelanggan tetap yang rutin datang, juga fakta kalau kami seumuran membuat tidak ada jarak yang terlalu membentang lagi.

Aku melirik ke sekitar, mencari keberadaan Kang Daniel. Namun nihil, aku tidak bisa menemukannya di mana pun.

Saat rasa penasaran begitu menggebu, kuberanikan diri bertanya pada Jaehwan.

Awalnya Jaehwan tidak curiga saat menjelaskan mengenai Daniel, namun saat melihatku salah tingkah ia curiga dan jadi tertarik untuk menjahili.

"Nanti aku sampaikan salammu, Woo," janjinya tanpa kuminta.

Aku berpura-pura kesal dan tidak setuju, namun di dalam hati sedikit berterima kasih, berharap perasaanku bersambut.

Aku berpura-pura kesal dan tidak setuju, namun di dalam hati sedikit berterima kasih, berharap perasaanku bersambut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Serendipity - OngNielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang