6-b

162 20 7
                                                  

Tidak peduli sudah berapa kali hati tergores
karna alasan yang sama
hingga tak sadar tetesan air mata turun
tapi kau tahu?
aku selalu mencoba menikmatinya

***

Setelah lama ku bujuk ketiga sahabatku untuk meninggalkanku di rooftop ini, akhirnya mereka menyerah dan membiarkanku sendiri di rooftop sekolah, tempat dimana aku selalu melarikan diri sejenak. Tentu saja untuk melarikan diri dari semua keadaan yang melelahkan hati dan membiarkan angin membawanya terbang pergi, meski tidak semua.

Sudah lebih dari tiga jam aku membiarkan hujan turun dari mataku. Membiarkanya hingga kini berhenti seolah sudah terkuras habis, yang kini hanya tersisa bekas air mata yang kering dan meninggalkan bengkak pada kedua mataku.

Namun begitu, pikiranku tak bisa terkuras sedikitpun. Aku masih memikirkan orang yang sama, Jimin. Dan aku tidak bisa menghentikanya. Mengingat kejadian beberapa jam lalu, membuatku ingin terjun dari rooftop ini saja, tapi itu adalah hal yang sangat bodoh bila aku lakukan.

"Kenapa Chim? kenapa kamu kaya gini?"

"Apa yang membuat kamu tega? aku tahu aku bayak kurangnya, aku tahu aku belum bisa jadi yang kamu mau, tapi kamu bisa bilangkan sama aku? dan aku akan berusaha jadi yang kamu mau Chim" satu tetes air mata berhasil turun lagi.

"Apa yang harus aku lakuin, Chim?" satu lontaran pertanyaan lagi untuk angin.

"Lo ngga perlu nglakuin apapun" aku tersentak saat sebuah tarikan lembut membawaku ke pelukan dada bidang seseorang yang entah itu siapa.

"Lo cuma harus lupain dia" aku kenal pemilik suara itu, Jungkook. Aku mendongak memastikanya.

"Kenapa?" tanyaku yang dibalas pelukan yang makin mengerat.

"Dia ngga pantes milikin hati lo"

"Tapi gue ngga bisa Kook, gue ngga bisa lupain Chimin" Jungkook hanya diam. Aku menyamankan diri dalam dada bidang miliknya. Setidaknya menyalurkan sedikit rasa sakitku.

"Kenapa? kenapa harus Chimin? dan kenapa harus aku, Kook?" aku menangis lagi.

"Karna dia ngga akan pernah bisa nglupain cinta pertamanya" aku langsung melepas pelukan dan menatap wajah Jungkook penuh tanya.

"Siapa? memang siapa cinta pertama Chimin?" aku menghapus kasar air mataku. Jungkook menariku lagi dalam pelukannya, kini lebih erat. Jungkook masih diam.

"Apa perempuan itu? apa Nancy? apa dia cinta pertama Chimin?" aku makin menangis dalam pelukan Jungkook dan dia masih diam.

"Jawab Kook! benerkan?"

"Lupain cowo brengsek itu! tinggalin Jimin!"

"Ngga Kook!"

"Kenapa? secinta itu lo sama dia sampai lo biarin hati lo terluka!" aku menangis lagi.

"Karna gue percaya, Chimin sayang sama gue, Nancy mungkin cinta pertamanya, tapi gue pacarnya sekarang" aku melepas pelukan itu dan menatap Jungkook.

"Dia ngga pernah cinta sama lo" Jungkook menatapku dalam, entah tatapan apa itu.

"Ngga Kook, Chimin emang ngga pernah perhatian sama gue, tapi gue tahu dia sayang dan cinta sama gue"

"Lo cuma akan semakin nyakitin hati lo sendiri kalo lo bertahan sama dia, putusin Jimin!" kalimat terakhirnya membuatku menyernyitkan dahi. Kenapa Jungkook begitu ingin aku meninggalkan Jimin.

"Lo sahabat Chimin, tapi kenapa lo pengin gue dan Chimin putus? sahabat macam apa lo ini?" ada sedikit nada marah dalam kalimatku.

"Karna gue tahu dia hanya akan bikin lo sakit" matanya menatapku menyakinkan. Aku menggeleng keras.

"Lo salah Kook, Chimin ngga pernah nyakitin gue, dia cuma ngga tahu cara ngasih perhatian sama gue" Jungkook mengalihkan pandangnya. Aku melihatnya menghela nafas.

"Kalo lo percaya itu, maka lakuin itu" dia menatapku dan tersenyum.

"Tapi inget! jangan biarin hati lo sakit terlalu dalem dan inget, ada gue kalo lo butuh seseorang" lanjutnya, aku membalas senyumanya dan memeluknya erat. Entah kenapa aku merasa ada yang berbeda dengan Jungkook. Sikap dinginnya dulu tiba-tiba melembut. Dulu yang bahkan aku akan canggung bila bertemu denganya, kini justru menjadi temanku untuk berbagi luka.

"Makasih banyak Kook." aku merasakan tangan besarnya mengelus lembut puncak kepalaku.

***

Baru saja suara bel pulang berbunyi, namun aku masih disini, rooftop. Berdiri sendiri, karna memang Jungkook sudah pamit dari satu jam yang lalu. Mataku menatap nanar ke area parkir, dimana kekasihku dengan bahagianya merangkul perempuan lain yang notabennya adalah sahabatnya kedalam mobil merah miliknya.

"Kalo emang dia cinta pertama kamu, aku tetep ngga peduli, karna yang sekarang milikin kamu adalah aku, dan itu berarti kamu masih punya kesempatan untuk lupain dia"

"Aku tahu kamu sayang sama aku Chim, buktinya kamu masih mau bertahan sama aku"

"Kamu cuma butuh bantuan untuk lepas dari cinta pertama kamu" aku tersenyum pada diriku sendiri.

***

Chapter ini juga pendek, karna ini sebenernya potongan dari chapter kemarin

Sumpah isinya drama bangetttt😓
An*r Jungkook kenapa lagi? kok tiba" gitu yha?🤔 biarin Jungkook yha guysss, Kookie cuma mau nurutin apa kata hatinya😋

VOMMENT GUYSSS😍

Bersambung...
Can You Love Me Jimin? | SEULMIN
Terakhir diperbarui: Apr 29, 2019
Can You Love Me Jimin? | SEULMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang