16. Perubahan

259 28 23

Jangan lupa klik bintang 🌟

***

“Boleh aku bertanya? Mengapa tawamu sangat indah sampai membuatku terdiam lama menatapmu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

“Boleh aku bertanya? Mengapa tawamu sangat indah sampai membuatku terdiam lama menatapmu.”

🌞🌞🌞

Senin pagi, seorang cewek dengan seragam hitam-putih khas SMA Pramuditha berjalan sambil memilin ujung tasnya. Suasana masih nampak sepi dan dingin bahkan di sekelilingnya masih berkabut.

Baru pukul setengah enam, Ia berangkat sangat pagi karena kebetulan bangun cepat untuk melaksanakan ritualnya akhir-akhir ini, yaitu membuat bekal untuk sang pacar. Eh, maksudnya calon pacar.

Ariana menaruh tasnya di atas meja dan melihat lokernya, di sana terdapat coklat dan surat berwarna biru, entah siapa yang menaruhnya di sana. Mungkin kalau Kevan yang meletakkan surat itu di sana dia akan berjingkrak-jingkrak kegirangan, tapi mana mungkin Kevan mau melakukan itu dan juga menurut Ariana hanya mengirimkan surat seperti itu rasanya tidak gentle.

Dia berjalan keluar kelas lalu melihat sekelilingnya yang terlihat sepi. Ia meremas lalu membuang surat itu di tempat sampah dan memakan coklatnya. Jahat memang, tapi coklat adalah kesukaannya dan dia tidak akan membuang-buang makanan yang sangat disukainya itu.

Ariana duduk di depan kelas seraya melihat ke bawah yang terdapat lapangan yang terlihat masih sepi, hanya beberapa siswa yang lewat karena masih terlalu pagi. Mata Ariana menyipit ketika melihat seorang cowok dengan kemeja dikeluarkan dan jas hitam yang ia pegang serta rambut yang terlihat acak-acakan.

Kevan? Tumben dateng cepet? batinnya.

Ariana langsung berlari masuk ke dalam kelas ketika melihat Kevan mulai menaiki tangga. Ia mengambil kotak bekal di dalam tasnya serta sebuah jaket yang belum sempat ia kembalikan.

“Kevan!” Kevan menoleh melihat Ariana yang berlari kecil ke arahnya. Kevan mengernyit lalu mengangkat bahu, kembali berjalan menuju kelasnya yang berada di ujung.

Ariana tersenyum tipis, berupaya menyamakan langkahnya dengan Kevan, sedangkan cowok itu hanya diam. Ia masih mengikuti Kevan, kala cowok itu masuk ke dalam kelas dan meletakkan tasnya di kursi.

“Nih jaket lo, Thanks ya,” kata Ariana yang dijawab Kevan dengan dehaman.

Ia membalikkan kursi yang berada di depan Kevan lalu duduk di sana dengan kedua tangan menopang dagu.

“Lo udah sarapan?” Kevan menaikkan satu alisnya lalu menggeleng membuat Ariana tersenyum. Dia menyerahkan kotak bekal berwarna biru dengan tutup berwarna bening.

“Gak usah.”

Ariana tersenyum, lalu membuka kotak bekal itu lalu mengambil satu sandwich dan memakannya. “Yakin nggak mau?” tanyanya mencoba menggoda Kevan dengan masakan buatannya.

Memory Of The PastRead this story for FREE!